>
> Apa pendapat anda tentang UNAMET ?
> saya mangkel, sebel
waduh.....lagi jadi thp nih....
mas, saya simpati dengan kemangkelan dan kesebelan sampeyan. tapi saya
jadi kasihan dan prihatin kepada sampeyan begitu membaca 'penjelasan' atas
kesebelan sampeyan di bawah ini:
>
> kalau orang Asia melanggar HAM, orang kulit putih melakukan publikasi
> pelanggaran HAM, seolah-olah mereka itu suci
kalau saya tidak keliru mengerti, kesebelan dan kejengkelan sampeyan itu
alamatnya kepada unamet. tapi tiba-tiba kok di bagian ini 'nembak' orang
kulit putih?
memang bener kebanyakan orang yang di unamet itu ber-'kulit putih'. tapi
tidak semua orang 'kulit putih' unamet.
kejengkelan dan kesebelan yang merembet rembet kayak gini bukan
kejengekelan dan kesebelan yang 'cerdas'. kejengkelan yang cerdas memang
bisa 'merembet' ke mana-mana, tapi tidak setiap rembetan mencerminkan
kejengkelan dan kesebelan yang cerdas.
demikian juga ungkapan di bawah ini:
>
> kalau TNI melanggar HAM, hujatannya sampai kutub selatan
kalau model yang kayak gini kita terus-teruskan, sementara 'narasi besar'
bertutur lewat media tidak kondusif dengan strategi gebyah uyah kayak
gini, maka kita sebenarnya cuma pameran kekurangbudayaan [budaya: budi dan
daya] kita.
>
> tetapi kalau UNAMET bergaya kaya 'gali', ikut menekan, tidak seimbang,
> memihak, siapa yang bisa protes, DUNIA DIAM,
kalau saya yang jadi dunia, ya tentu saja saya akan diam. habis, sampeyan
ya...gitu sih. eh....sampeyan itu sebenarnya jengkelnya pada unamet,
person tertentu dalam unamet, dunia, atau orang kulit putih sih?
kalau saya jadi sampeyan, saya akan beberkan 'perbuatan-perbuatan yang
bergaya kayak gali' itu. 'yang saya maksud dengan bergaya 'gali' itu: ini
ini ini'. gitu lho.
>
> jadi kehancuran kita pun sebenarnya adalah hasil sindikat internasional.
nah...horotoyoh.....yang hancur itu siapa? jangan suka mendramatisir gitu
ah....
terus 'sindikat internasional' itu ya.....apa...... kok bombastis banget.
kayak sekapur sirihnya pak lurah dalam tuguran tujuh belas agustusan.
> Siapa tahu mereka itu juga broker alias pedagang sengsaranya manusia lain,
> benar kata bung Yusuf seperti Ramos Horta itu broker, pedagang penjual
> sengsaranya rakyat TimTim. Manusia-manusia macam inipun tidak suka
> kedamaian, justru kalau ada kedamaian tidak ada lagi perdagangan nyawa
> manusia. Jahat.
logika 'siapa tahu' kok ya dianakpinakkan. kata orang pinter yang mangan
sekolahan, kalau logika berpikir didasarkan pada premis 'siapa tahu',
apakah konklusinya meyakinken? itu menurut orang yang mangan sekolahan.
coba bandingken komentar sampeyan: manusia manusia macam ini.....dst.
dengan komentar baramuli tentang gempita (?). ada yang mirip, nggak?
>
> Mudah2an hasil nya TimTim tetap di pangkuan tanah air Indonesia!!!
saya tidak begitu peduli dengan apakah timtim mau merdeka atau tetap jadi
bagian indonesial. saya lebih peduli dengan nyawa yang harganya jadi
murah. saya mau mereka berenti saling bunuh dan menyakiti sesama dan
tetangganya.
> Kalau pro kemerdekaan menang, Habibie ditembak saja, memutuskan opsi tanpa
> melalui sidang MPR, enak saja, tidak menghargai ribuan nyawa pahlawan non
> TimTim yang telah gugur di tanah TimTim, dengan enaknya melepas TimTim
> tanpa sidang MPR.
masak menghargai pahlawan non timtim dengan nembak habibi?
ini lho mas.... yang bikin aku kasihan dan prihatin sama sampeyan. di
atas, sampeyan bilang:
Manusia-manusia macam inipun tidak suka
> kedamaian, justru kalau ada kedamaian tidak ada lagi perdagangan nyawa
> manusia. Jahat.
e.....sekarang malah mau nembak nembak pahabibi.