2008/9/27 Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>: > Tanggapan untuk mas Harry dan mas Al Khoir saya satukan saja:-) > --- On Sat, 9/27/08, Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Orang-orang bodoh itu tidak perlu kita benci. Karena itu >> hanya akan >> membakar jiwa kita sendiri dari dalam. >> Lebih perlu kita carikan solusinya. Sehingga mereka tidak >> menjadi demikian lagi. > > Mas Harry, saya kok tidak nyaman dengan istilah "orang-orang bodoh". IMHO, > istilah yang lebih tepat mungkin "orang-orang yang terlalu bersemangat".
Kalau yang sudah ada kecenderungan menghilangkan nyawa orang lain secara zalim, saya pribadi berpendapat bahwa mereka wajar mendapat label itu. Orang pada posisi ini bukan lagi sekedar terlalu bersemangat, tapi biasanya sudah bertumpuk-tumpuk berbagai penyakit hati di dalamnya. Tapi tentu saja ini cuma pendapat saya pribadi. Dan dalam menyampaikan nasihat kepada mereka, tentu saja menyebutkan label tersebut bukanlah ide yang baik :-) > Eeh, bukankah posisi Batman dalam Dark Knight, juga kayak mereka. Bermanfaat, > tapi karena di luar hukum yang mapan, banyak yang mencerca. Well, tapi Batman sangat anti pembunuhan. Bahkan terhadap musuh nya yang paling besar sekalipun ;-) Apalagi terhadap sekutu / saudaranya. >> Ideas? > > Yah, kita berbuat sebisanya saja mas. Senjata kita sabar dan santun saja. Di > darat sedikit-sedikit saya menularkan ilmu manajemen, agar teman-teman yang > terlalu bersemangat ini bisa lebih evolutif dan bertahap. Buku semacam > "Mereka Mujahid tetapi Salah Langkah", barangkali merupakan salah satu dampak > dari penularan tersebut. > > Untuk berubah, orang harus merubah kediriannya. Wah, tapi memang tidak mudah. > Di dalam kita ada sistem security alami yang sangat canggih, namanya self > defense mechanism. Oleh karena itu benar, orang yang hebat adalah orang yang > mampu mengalahkan diri sendiri. Masukan yang sangat, amat baik mas; dan juga mencerahkan. Terimakasih untuk sharing nya. > --- On Sat, 9/27/08, Alkhori M <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Maka setiap akhir posting saya, selalu menghimbau buka lagi >> dan baca lagi >> al-Qur'an dan as-Sunna yang sesuai dengan panutan >> rasullullah Muhammad SAW. >> Para ekstrimis ini muncul karena kesalah kita-kita ini >> juga, yang dalam >> memahami Islam tidak menggunakan Methode yang BENAR. Ini adalah salah satu cliche paling klasik dalam Islam :-) Sudah tidak terhitung banyaknya saya mendengar klaim ini dari berbagai pihak. Tapi ketika saya lihat para ustadz yang meneriakkan klaim ini, saya melihat orang-orang yang : gila hormat, egois, menjual ayat-ayat dengan harga yang murah, menghinakan yang miskin, memuliakan yang kaya, benci kepada orang yang berilmu, penjilat penguasa, dst Saya rasa tidak ada satu-satunya "metode yang benar" itu. Metode setiap orang dalam menemukan kebenaran itu bisa berbeda-beda. Ada yang dari keturunan (lahir sudah menjadi islam). Ada yang dari ustadz nya. Ada yang dari pengalaman hidupnya. Ada yang dari hasil training yang berbiaya jutaan rupiah. Dst. Kalaupun ada satu-satunya "metode yang benar", maka menurut saya itu adalah hati yang jernih. Jadi, semua orang bisa menemukan Islam / kebenaran itu, karena modalnya sudah diberikan oleh Allah swt kepada semua manusia. Mulai dari suku terpencil di tengah hutan, sampai ke eksekutif terkenal di metropolitan. Bukan cuma orang tertentu saja. Bukan cuma orang yang punya akses ke ustadz tertentu. Bukan cuma orang yang mampu membaca buku-buku yang tebal totalnya bisa mencapai ratusan halaman. Dst. Bahkan ketika semua orang yang lain di sekitarnya sedang tersesat, bisa ada satu orang sendirian di tengah-tengah mereka yang menemukan kebenaran. Karena Allah swt & kebenaran itu bisa ditemukan jika manusia mau menjadikan hatinya (bukan nafsunya) sebagai panduannya. Ketika seseorang berusaha untuk mencari kebenaran dengan tulus & segenap tenaganya, maka Allah swt akan memandunya melalui hatinya. > Ameer Ali seorang ilmuwan muslim Australia menyatakan persoalannya adalah > sosiologis. Menurut beliau, dalam seminar nasional di Universitas > Muhammadiyah Magelang belum lama ini, fundamentalisme kapitalisme telah > menciptakan distorsi berupa ketimpangan sosial-ekonomi-politik-budaya yang > luar biasa, sehingga memicu kontra fundamentalisme dari pihak lain, terutama > Islam. Setuju sekali. Kalau tidak ada situasi ekstrim, biasanya jarang bisa muncul reaksi ekstrim. Hukum aksi dan reaksi, salah satu hukum paling dasar di alam semesta ini. Tentu saja, ketika saya menyampaikan ini kepada para Islamophobic, saya langsung diberi label "Muslim apologetics", ha ha ha > Jadi, IMHO, persoalan sering bukan pada "METODE YANG BENAR", tetapi lebih > sering pada yang mengklaim sedang berada di atas "METODE YANG BENAR" juga > tidak memiliki tindakan yang efektif untuk menyelesaikan distorsi tersebut. > Yang justru mengemuka adalah SUMPAH SERAPAH terhadap saudara muslim yang > sedang coba melawan karena kebetulan menjadi korban langsung dari distorsi > tersebut. Betul, ini juga sangat kita sayangkan. Alih-alih menolong saudaranya yang sedang terjerumus, malah cuma berkeluh kesah. Salah satu celaan Allah swt terhadap kaum Yahudi di zaman Nabi Musa as dulu adalah karena sifat keluh kesah mereka ini. Saya sampai geleng-geleng kalau membacanya. Mudah-mudahan kita tidak turut meniru kelakuan mereka tersebut. > Umar pernah menyatakan kurang lebihnya "Orang lemah adalah kuat dihadapanku > sampai hak mereka terpenuhi, orang kuat adalah lemah di hadapanku sampai > mereka memenuhi kewajibannya". Satu lagi hikmah / kebijaksanaan Islam. Mari kita kembalikan Islam menjadi rahmat bagi alam semesta. Salam, HS _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
