2008/9/29 Bango Samparan <[EMAIL PROTECTED]>: > --- On Sat, 9/27/08, Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Kalau yang sudah ada kecenderungan menghilangkan nyawa >> orang lain >> secara zalim, saya pribadi berpendapat bahwa mereka wajar >> mendapat >> label itu. Orang pada posisi ini bukan lagi sekedar terlalu >> bersemangat, tapi biasanya sudah bertumpuk-tumpuk berbagai >> penyakit hati di dalamnya. > > Wah mas, IMHO, ternyata tidak sesederhana itu. Secara keilmuan dien, mereka > biasanya sangat mumpuni, hanya asumsi-asumsi yang mereka ambil seringkali > berbeda dengan yang kita ambil. Walhasil, cara diagnosa dan prognosa > masalahnya jadi berbeda dengan kita. Lalu, tentu saja, aksi terapinya jadi > berbeda.
Betul, asumsi dan cara penafsiran mereka suka berbeda. Lalu kemampuan mereka menganalisa juga berbeda. Sayangnya; kadang mereka secara ilmu agama OK. Namun kemampuan menganalisanya payah. Saya suka tercengang kalau mendengar tutur mereka dalam menganalisa suatu masalah. Suka melencengnya jauh sekali tidak keruan. Saya sih tetap coba meluruskan dengan baik-baik. Tapi kalau sudah ada unsur sombongnya, nah ini yang membuat jadi susah. See below. > Hal yang harus sama-sama harus kita upayakan adalah bagaimana mengajak mereka > mau melihat ruang dan waktu (realitas) kita sendiri, INDONESIA. Asumsi-asumsi > mereka, seringkali berpijak pada realitas saudara kita yang berada di tempat > lain (Palestina, Afghanista, Moro, Irak, dll.). Betul, ini juga salah satu masalahnya. Jelas situasi kita berbeda jauh dengan lokasi2 tersebut, tapi kadang tetap digeneralisasi jugs. > Sekedar sharing, apa yang sering menahan saya untuk melabeli mereka dengan > hal-hal yang negatif adalah: saya sering iri dengan kepasrahan dan keikhlasan > mereka. Saya terkadang termenung, jangan-jangan kepasrahan dan keikhlasan ini > bisa menebus kesalahan pengambilan keputusan mereka dalam melakukan bombing > yang tidak pada tempatnya. Saya juga pada awalnya mencoba melihat dari sudut pandang ini. Tapi kemudian saya temukan bahwa banyak dari mereka yang arogan dengan kesalihan & kepasrahannya. Nah, ini jadi merusak semuanya. Kalau sudah ada unsur kesombongan, maka jadi sulit untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Setan saja yang sudah jelas tahu & melihat ada Allah swt, ada malaikat, ada surga & neraka; tetap bisa jadi nekat durhaka karena sudah terlanjur terjerumus ke kesombongan. Apalagi manusia. Kadang juga ada unsur kesempitan wawasan. Nabi saw memberitahu bahwa muslim yang sabar dalam pergaulan dengan manusia itu lebih baik daripada muslim yang mengucilkan diri. Hadits ini maknanya dalam sekali. Salah satu contohnya; saya ingat ada seorang ustadz Salafy yang dulu "keras" sekali. Pendekatannya ke berbagai topik cenderung fatalis dan hitam-putih. Alhamdulillah, beliau tidak sombong dan tidak mengurung diri ke lingkungan yang eksklusif. Beliau mau melihat dunia luar dengan menggunakan kacamata Islam. Selain itu beliau memang pada dasarnya sangat cerdas. Hasilnya, setelah sekitar 15 tahun, sekarang beliau sudah menjadi ulama yang jauh lebih bijak. Suaranya tetap keras :-) tapi petuah-petuah beliau kini jauh lebih sesuai dengan semangat Islam yang sebenarnya. Amat menyenangkan kemarin ini saya kembali bisa mendengar wejangan beliau setelah sekian lama tidak bisa. >> Well, tapi Batman sangat anti pembunuhan. Bahkan terhadap >> musuh nya >> yang paling besar sekalipun ;-) >> >> Apalagi terhadap sekutu / saudaranya. > > Wah, mas Harry bisa saja:-) BTW, biasanya penjahatnya digebugi dulu ya sama > si Batman. Kalau penjahatnya ngebugnya hebat, ya digebugi hebat juga sama si > Batman. (Bisa enggak FPI jadi semacam Batman?) Bikin kostum dulu :-) tapi kelelawar putih kok kayaknya tidak seseram kelelawar hitam ya, he he. Efek psikologisnya jadi jauh menurun :-) > Wah, tapi endingnya agak serem ya. Mitranya, berubah jahat dan mati, tapi > tetap harus disetting sebagai hero. Batman sendiri, menyatakan diri bukan > hero, justru itu yang memberi dia keluwesan untuk bertindak. Yang menarik, Batman tetap kalah dengan media massa. Menarik karena ini juga terjadi dengan FPI. Misalnya; ketika mereka menghantam preman sekitar, berita di media justru "FPI bentrok dengan warga". Kacau deh. Tentu ini justru membuat FPI jadi makin beringas. Mereka makin merasa bahwa benar mereka adalah golongan yang teraniaya. Jadi ada andil media juga dalam berbagai keberingasan FPI ini. >> Masukan yang sangat, amat baik mas; dan juga mencerahkan. >> Terimakasih untuk sharing nya. > > Mas Harry punya enggak e-source untuk training-training manajemen yang > praktis. Saya, karena latar belakang saya pengajar, sering terlalu teoritis > di dalam menyajikan materi manajemen. > > Islam itu sebuah sistem yang hebat, sistem ini dilengkapi dengan "sistem > persenjataan" yang lengkap oleh Allah: > > - Dakwah > - Amar ma'ruf > - Nahi munkar > - Hisba (kontrol dan pengawasan) > - Jihad (perang) > > Akar persoalannya, "sistem persenjataan" ini harus digunakan - baik secara > tunggal atau kombinasi - sesuai dengan situasi dan kondisinya. Membaca > situasi dan kondisi, tentu saja tidak mudah. Di sini, sekali lagi, mungkin > kita bisa membantu dengan technical dan conceptual skill yang kita miliki. Ya, tidak ada yang bisa menggantikan pengalaman langsung di lapangan. Sayangnya, untuk soal ini pun, saya masih jauh dari qualified. Jam terbang saya masih sangat rendah sekali. Mungkin bisa kita terus saling sharing disini, sehingga walaupun sedikit yang dibagi, namun karena banyak yang berbagi, maka jadinya ya banyak juga. Akhirulkalam, selamat hari raya Idul Fitri 1429 H. Semoga kita semua sukses dunia & akhirat, amin. Salam, HS _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
