--- On Sat, 9/27/08, Harry Sufehmi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kalau yang sudah ada kecenderungan menghilangkan nyawa
> orang lain
> secara zalim, saya pribadi berpendapat bahwa mereka wajar
> mendapat
> label itu. Orang pada posisi ini bukan lagi sekedar terlalu
> bersemangat, tapi biasanya sudah bertumpuk-tumpuk berbagai
> penyakit
> hati di dalamnya.
Wah mas, IMHO, ternyata tidak sesederhana itu. Secara keilmuan dien, mereka
biasanya sangat mumpuni, hanya asumsi-asumsi yang mereka ambil seringkali
berbeda dengan yang kita ambil. Walhasil, cara diagnosa dan prognosa masalahnya
jadi berbeda dengan kita. Lalu, tentu saja, aksi terapinya jadi berbeda.
Hal yang harus sama-sama harus kita upayakan adalah bagaimana mengajak mereka
mau melihat ruang dan waktu (realitas) kita sendiri, INDONESIA. Asumsi-asumsi
mereka, seringkali berpijak pada realitas saudara kita yang berada di tempat
lain (Palestina, Afghanista, Moro, Irak, dll.).
Sekedar sharing, apa yang sering menahan saya untuk melabeli mereka dengan
hal-hal yang negatif adalah: saya sering iri dengan kepasrahan dan keikhlasan
mereka. Saya terkadang termenung, jangan-jangan kepasrahan dan keikhlasan ini
bisa menebus kesalahan pengambilan keputusan mereka dalam melakukan bombing
yang tidak pada tempatnya.
> Well, tapi Batman sangat anti pembunuhan. Bahkan terhadap
> musuh nya
> yang paling besar sekalipun ;-)
>
> Apalagi terhadap sekutu / saudaranya.
Wah, mas Harry bisa saja:-) BTW, biasanya penjahatnya digebugi dulu ya sama si
Batman. Kalau penjahatnya ngebugnya hebat, ya digebugi hebat juga sama si
Batman. (Bisa enggak FPI jadi semacam Batman?)
Wah, tapi endingnya agak serem ya. Mitranya, berubah jahat dan mati, tapi tetap
harus disetting sebagai hero. Batman sendiri, menyatakan diri bukan hero,
justru itu yang memberi dia keluwesan untuk bertindak.
> Masukan yang sangat, amat baik mas; dan juga mencerahkan.
> Terimakasih untuk sharing nya.
Mas Harry punya enggak e-source untuk training-training manajemen yang praktis.
Saya, karena latar belakang saya pengajar, sering terlalu teoritis di dalam
menyajikan materi manajemen.
Islam itu sebuah sistem yang hebat, sistem ini dilengkapi dengan "sistem
persenjataan" yang lengkap oleh Allah:
- Dakwah
- Amar ma'ruf
- Nahi munkar
- Hisba (kontrol dan pengawasan)
- Jihad (perang)
Akar persoalannya, "sistem persenjataan" ini harus digunakan - baik secara
tunggal atau kombinasi - sesuai dengan situasi dan kondisinya. Membaca situasi
dan kondisi, tentu saja tidak mudah. Di sini, sekali lagi, mungkin kita bisa
membantu dengan technical dan conceptual skill yang kita miliki.
Salam hangat
B. Samparan
_______________________________________________
Is-lam mailing list
[email protected]
http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam