On 5/1/09, Dewa Gede Permana <[email protected]> wrote: > Mas Harry, bisa share brapa "range aman" penentuan profit utk home > retail di situasi yg rada susah gini mas? > Saya dah coba tanya temen2 yg tahu accounting ataupun keuangan tapi > kog jawabannya selalu teoritis dan malah mbingungi ee... Rahasia dapur > tahu dikit gak pa-pa kan ya.. he..he... matur nuwun. > > :-) > salam hangat
Ada berbagai cara perhitungannya, tapi secara garis besar mungkin bisa dibagi dua : (1) kebutuhan pokok : terkait hajat hidup banyak orang. Benda-benda ini biasanya kita mengambil untung yang sangat tipis. Kadang bahkan tidak meng cover overhead / ongkos2 kita. (2) kebutuhan non-pokok : benda-benda yang tidak vital; contoh: aksesoris, benda2 untuk entertainment, makanan non-pokok, dst. Nah, untuk benda2 ini, kita lebih bebas mengambil profit. Sekaligus juga untuk menutupi kerugian dari benda2 di poin 1 di atas. Nah, ini sebetulnya memunculkan masalah baru, karena definisi poin 1 dengan 2 untuk setiap orang bisa berbeda-beda :-) Contoh: bagi saya kopi itu adalah kebutuhan pokok, untuk menemani sesi lembur coding / analisis / pembuatan laporan / dst. Bagi orang lain? sama sekali tidak, he he :-) Jadi perlu ada kebijaksanaan dalam mengkategorikan suatu barang pada skema ini. Jika memang ada yang sangat membutuhkan, ya sudah, kita masukkan saja pada poin 1. Contoh: bagi banyak orang, susu adalah kebutuhan pokok (**) Karena itu di berbagai lokasi biasanya kami hanya mengambil persentase profit 1%. Malah kadang hanya 0,5%. Ya, susu harga Rp 40.000 yang Anda beli itu hanya menghasilkan Rp 200 untuk kami :-) Melanjutkan lagi, beberapa prinsip lainnya : (1) Impas / tidak ada untung adalah RUGI. Bahkan untung tipis pun kadang masih bisa dianggap juga sebagai kerugian. Ini yang kadang kita lupa. Sehingga seringkali terjadi ada bisnis yang omsetnya besar; namun kemudian bangkrut. Lalu kita terkejut. Padahal ketika di cek, ternyata per item hanya mengambil untung Rp 500, sedangkan harga barangnya sendiri adalah Rp 50.000 (contoh: voucher pulsa). Padahal (1) barang tersebut kadang lama baru terjual / cashflow seret (2) uang kita lama tertanam di barang (3) kita terus membayar sewa tempat, listrik, gaji pegawai, dst -- sehingga, persentase profit sebesar 1% tersebut sebenarnya adalah kerugian. (2) Persentase profit (bersih) yang besar (pada barang2 non-pokok) saya kira tidak masalah dalam Islam. Karena di agama kita ada skema zakat, dan juga infaq sangat dianjurkan. Sehingga wealth distribution terus berjalan dengan baik. Ini berbeda pada sistim kapitalisme murni, dimana kita didorong untuk mencetak profit sebesar-besarnya (input besar) dengan menghalalkan berbagai cara tanpa ada dorongan untuk membaginya dengan yang lain; sehingga kemudian terjadi banyak kasus concentration of wealth. Satu contoh; dulu ketika masih jarang ada department store (seperti: matahari, ramayana, dst), lazim bagi para pedagang tekstil untuk mengambil profit (kotor) s/d 60%. Setelah dipotong ongkos2, biasanya ini menjadi sekitar 30%. Tapi walaupun demikian, kami tetap menjaga agar tekstil yang banyak diperlukan tetap dikenakan persentase profit yang sangat rendah -- seperti yang diperlukan oleh masyarakat menengah ke bawah. Itu mungkin sedikit yang bisa saya bagi & jelaskan, mudah-mudahan ada bermanfaat. Salam, HS (**) kebetulan anak-anak kami proses pemberian ASI nya lancar, sehingga kami tidak perlu membeli susu. Setelah ASI selesai, kami juga tidak tertarik memberikan susu bubuk; karena ada berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa manfaat susu sebenarnya sangat kecil. Sama sekali TIDAK sebanding dengan yang digembar-gemborkan pada iklannya di berbagai media. Malah pada beberapa kasus, susu itu bisa merugikan anak; melemahkan sistim imun (anak mudah sakit2an), membuat berat badan jadi tidak normal, merendahkan kadar kalsium di badan (susu cenderung lebih banyak menyerap kalsium daripada menambahkan kalsium ke badan), dst. Padahal harganya sangat mahal - saya sampai sedih kalau melihat ada teman2 yang sebetulnya tidak mampu, namun tetap memaksakan diri membelikan susu untuk anak2nya. Anyway, saya tahu niat mereka sangat baik, dan saya yakin Allah swt membalasnya dengan sangat layak. Tetapi sekali lagi saya sampaikan - ibu2 & bapak2; anak kita tidak perlu susu. Orang tua & kakek nenek kita dulu juga tidak minum susu, tapi mereka bisa sehat. Karena makanan mereka dulu baik / sehat & bervariasi, dan di desa mereka banyak bergerak. Ini yang kurang didapatkan oleh anak-anak kita di berbagai kota besar. Susu itu bisa bermanfaat, namun hanya pada kasus-kasus KHUSUS. Contoh; BMI anak tidak normal / rendah, pemberian ASI bermasalah, dst. Pemberian susu kepada anak seharusnya adalah pengecualian. Bukan kelaziman. _______________________________________________ Is-lam mailing list [email protected] http://milis.isnet.org/cgi-bin/mailman/listinfo/is-lam
