Mencoba Memahami “Uga Wangsit Siliwangi” (1)
  OPINI <http://www.kompasiana.com/posts/index/opinion/>
Wawan Supriadi
|  30 November 2009  |  22:00

 Sebenarnya *Uga Wangsit Siliwangi* ini banyak sekali tersebar di berbagai
blog, tapi kalau diperhatikan hanya isi berupa bahasa Sunda Buhun
(Kuno/Purba) berserta terjemahannya saja, tidak ada satupun yang berani
menguraikannya secara jelas. Saya sebagai orang Sunda mempunyai keinginan
berbagi dengan saudara-saudara Kompasianer yang terdiri dari beragam budaya
yang tentunya banyak yang tidak mengerti  bahasa Sunda, apalagi bahasa Sunda
Buhun, bahkan orang Sunda sendiri banyak yang tidak mengerti. Saya akan
mengupas Uga Wangsit Siliwangi berdasarkan cara pandang saya.

Kata *Uga* sudah jarang dipakai dalam percakapan sehari-hari dan anak muda
sekarang sudah tidak tahu apa Uga tersebut. Saya mencoba mencari kata Uga
dari kalimat *“Geus tepi kana Ugana”* yang artinya sudah sampai pada
waktunya, waktu disini khusu dipakai untuk waktu kematian dengan demikian *
Uga* dapat kita terjemahkan secara Bebas Uga adalah terakhir

*Wangsit*, seperti halnya uga, wangsit juga sudah jarang dipakai kecuali
oleh orang-orang yang memperdalam ilmu ghaib. Kalimat yang menggunakan kata
wangsit diantaranya *“Keur nungguan wangsit”* artinya Sedang menunggu
petunjuk dari yang ghoib” jadi Wangsit bisa diterjemahkan secara bebas
dengan petunjuk.

Siliwangi adalah nama lain dari Sri Baduga Maharaja (Ratu Jayadewata).
Menurut tradisi lama. orang segan atau tidak boleh menyebut gelar raja yang
sesungguhnya, maka juru pantun mempopulerkan sebutan Siliwangi. Dengan nama
itulah ia dikenal dalam literatur Sunda.
Wangsakerta<http://id.wikipedia.org/wiki/Wangsakerta>pun mengungkapkan
bahwa Siliwangi bukan nama pribadi, ia menulis:
“*Kawalya ta wwang Sunda lawan ika wwang Carbon mwang sakweh ira wwang Jawa
Kulwan anyebuta Prabhu Siliwangi raja Pajajaran. Dadyeka dudu ngaran swaraga
nira*“. artinya “Hanya orang Sunda dan orang Cirebon serta semua orang Jawa
Barat yang menyebut Prabu Siliwangi raja Pajajaran. Jadi nama itu bukan nama
pribadinya.”

Jadi Uga Wangsit Siliwangi dapat dapat diterjemahkan secara bebas
Petunjuk/Wasiat terakhir Prabu Siliwangi.

Mengapa saya tertarik mengupas Uga Wangsit Siliwangi ini ? Jawabannya sangat
sederhana, karena isinya mengandung makna yang sangat luhur, bukan saja
berlaku pada masanya tapi juga berlaku untuk masa sekarang. Malahan kalau
kita hubung-hubungkan isi dari Uga Wangsit Siliwangi dengan
kejadian-kejadian setelah Prabu Siliwangi moksa/mangkat apa yang tercantum
pada Uga Wangsit Siliwangi seperti benar adanya. Sehingga kelihatan Uga
Wangsit Siliwang seperti ramalan-ramalan. Baiklah kita mulai dengan paragrap
yang pertama

*Saur prabu siliwangi ka balad na anu milu mundur dina sateuacan ngahiang :
Lalakon urang ngan nepi ka poe ieu pisan, najan dia kabehna ka ngaing satia.
Tapi ngaing heunteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak,
ngilu rudin jadi lapar. Dia kudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya
engkena jagana jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui padjadjaran.
Lain pajajaran anu kiwari, tapi pajajaran anu anyar, anu ngadeg na di
geuingkeun ku obahna jaman. Pilih!!.. ngaing moal ngahalang, sebab pikeun
ngaing, heunteu pantes jadi raja, mun somah kabehna, lapar bae jeung
balangsak. *

Artinya :kata prabu siliwangi kepada pengikut2 nya yang ikut mundur pada
saat sebelum moksa : perjalanan kita cuma sampai hari ini, walau pun kalian
semua setia kepadaku. Tapi aku tak bisa mengajak kalian untuk ikut-ikutan,
ikut hidup jadi susah, ikut (rudin = kotor) jadi lapar.kalian harus memilih,
untuk hidup kedepanya, supaya nanti kedepanya mendapatkan keluasan hati,
kekayaan dan makmur sehingga bisa mendirikan lagi pajajaran. Bukan pajajaran
yang sekarang, tapi pajajaran yang baru, yang berdirinya dikarenakan oleh
berubahnya jaman. Pilih. !! aku tidak akan menghalangi, sebab bagiku, tidak
pantas jadi raja kalau rakyat semua. Selalu lapar dan menderita.

Dari Paragrap pertama, kita dapat melihat bagaimana seharusnya sifat seorang
pemimpin ia tidak boleh mementingkan diri sendiri, seperti yang kita lihat
pada kalimat diatas Pada jaman Prabu Siliwangi sebenarnya sudah ada apa yang
sekarang disebut demokrasi, rakyat diberi kebebasan untuk memilih. Kalau
Prabu Siliwangi mau, sebagai kapasitas beliau sebagai raja, tidak perlu
beliau menanyakan apa yang diingini oleh rakyatnya toh dia seorang raja
dimana pada waktu itu raja dianggap sebagai titisan dari dewa. Jadi kurang
tepat kalau Amerrika merasa dirinya sebagai pencetus demokrasi.

Kemudian yang sangat menarik, Prabu Siliwangi merasa tidak pantas menjadi
raja bila rakyatnya sengsara dan lapar. Inilah sejatinya pemimpin. Jadi
pemimpin bukan untuk memperkaya diri tapi jadi pemimpin harus mampu
melindungi rakyatnya, harus mampu mengupayakan kemakmuran rakyat.
Mudah-mudahan pemimpin kita mempunyai sifat seperti Prabu Siliwangi. Amiiiin

(bersambung)

http://sosbud.kompasiana.com/2009/11/30/mencoba-memahami-uga-wangsit-siliwangi-1/

Kirim email ke