<http://www.metafisika-nusantara.co.cc/2011/02/filsafat-hikmah-dalam-metafisika-islam.html>
Baraya,

Geunjleung alatan pamadegan Hawking eta payus pisan pikeun dunya anu
ukuranana teu aya lian iwal ti rasio jeung materi. Padahal, disagigireun
rasio / otak teh apan geus teu kudu jadi pasea deui yen manusa boga jiwa,
rasa, jeung kaimanan (ari roh mah sigana masih aya anu nolak). Eta sakabeh
unsur pagaliwota dina kahirupan sapopoe. Ngan mungkin loba jelema anu teu
ngaku.

Hawking ngan ukur ngandelkeun elmu rasio jeung fisis, padahal, sumber elmu
(baca: sumber bebeneran) teh lain elmu fisik jeung rasio wae. Dina tulisan
di handap ieu, anu dicutat tina salah sahiji blog (kabeneran wawuh ka anu
nulisna, Sdr. Musa Kadzim), nuduhkeun yen saeutikna aya 6 jenis elmu anu
jadi sumber ngarumuskeun filsafat hikmah. Saterusna, pandangan ngeunaan
Pangeran (Tuhan, God, naon wae istilahna) dumasar filsafat hikmah nyoko kana
konsep dasar yen eksistensi teh eta realitas anu sabenerna jeung leuwih
kuat/ ti heula/ penting (posterior) tinimbang essensi (sifat, atribut).

Ieu filsafat hikmah anu ngaguar oge pamandangan ngeunaan Tuhan atawa
Pangeran teh ngarupakeun saripati tina filsafat Mulla Sadra anu sok disebut
filsafat puncak (AL Hikmah Al Muta'aliyyah atawa The Ultimate Wisdom). Sadra
ku anjeun eta salah saurang filosof anu kawentar dugi ka dunya Barat;
sareng salah sahiji filosof Muslim anu ngawinkeun rupa-rupa aliran filsafat
(aliran2 Ibn Sina, Aristoteles- peripatetik; Suhrawardi  - Iluminasi; Al
Gazali - ilmu kalam; Sufisme/Irfani - Ibn Arabi). Ngeunaan Sadra sareng
filsafatna saterasna tiasa diilo di dieu :
http://en.wikipedia.org/wiki/Mulla_Sadra

Mangga, tiasa diilo tina 3 prinsip dasar Filsafat Hikmah anu aya dina
seratan di handap ieu, urang baris sacara langsung dituduhkeun ayana
Pangeran jeung bukti-bukti perluna (bakal ayana) Surga jeung Naraka (prinsip
neangan kasampurnaan anu terus-terusan vis a vis gerak wujud atawa gerak
subtansi atawa al jauhar; cutatan tina tulisan di handap: #Manusia yang
berpikir tentang batu pasti akan dipengerahui oleh citranya tentang batu,
sampai akhirnya ia akan menyerap sifat-sifat batu itu secara total#)

Hapunten rada panjang, sareng seratan cutatanana hapunten henteu
ditarjamahkeun. Mangga, manawi ieu tiasa jadi bahan diskusi saterasna antara
filsafat hikmah diadumaniskeun atawa diilo ku ajaran2 tradisi di urang
kalebet "ajaran kaSunda" (abdi ningal tina guara ngeunaan filsafat Hikmah ti
Sadra ieu aya anu sajalan sareng ajaran2 tradisi di urang, sakumah dina
babasan ieu: "ulah saomong-omongna, jst". Nyanggakeun:

##Filsafat Hikmah dalam Islam*

Sebelum berbicara tentang hikmah muta’aliyah (selanjutnya kita sebut sebagai
filsafat hikmah), saya perlu mengemukakan sejumlah pendahuluan berikut.
Pertama, manusia adalah makhluk yang secara intrinsik (fitriah) mencari
kesempurnaan. Fitrah ini mendorong manusia untuk terus-menerus berevolusi
dan menyempurna. Kedua, dalam mencari kesempurnaan ini manusia akan
mengandalkan pelbagai daya yang telah dimilikinya. Ketiga, pengetahuan dalam
pengertian luas adalah kriteria untuk mengukur tingkat evolusi dan
kesempurnaan manusia. Keempat, setidaknya ada enam kategori pengetahuan
manusia:

1. Pengetahuan hudhuri/badihi (fitrah);
2. Pengetahuan rasional (akal);
3. Pengetahuan indrawi (panca indra);
4. Pengetahuan mistis/emosional (hati);
5. Pengetahuan imajiner (imajinasi);
6. Pengetahuan keagamaan (wahyu/teks suci).

Kelima, pengetahuan hudhuri merupakan pijakan dasar bagi seluruh tindak
pengetahuan manusia. Untuk jenis pengetahuan ini, manusia hanya perlu untuk
menyadarinya secara langsung dan introspektif. Dalam pengetahuan ini tidak
ada jarak antara subjek dan objek, ranah ontologis dan epistemologis melebur
jadi satu.

Keenam, pengetahuan rasional berpusat pada akal, dengan sifat yang universal
dan abstrak. Ketujuh, pengetahuan indrawi diperoleh lewat panca indra.
Pengetahuan ini bersifat spasio-temporer, partikular dan berubah-ubah,
sesuai dengan hukum-hukum yang mengatur alam fisik.

Kedelapan, pengetahuan mistis/hati (ma’rifah qalbiyah) adalah pengetahuan
yang bersumber dari lintasan-lintasan hati. Pengetahuan ini memiliki
sejumlah kendala yang berasal dari watak-watak yang merusak (al-malakat
al-fasidah). Sifat pengetahuan ini adalah partikular abstrak.

Kesembilan, pengetahuan imajiner bersumber pada daya imajinasi dan
angan-angan manusia. Imajinasi berperan menghidupkan dan mengembangkan
kognisi manusia tentang objek-objek partikular. Kesepuluh, pengetahuan
keagamaan bersumber pada teks-teks suci. Al-Quran dan hadis adalah dua
sumber utama pengetahuan keagamaan dalam konteks Islam. Pemahaman atas
al-Quran mestilah berangkat dari al-Quran itu sendiri atau dari hadis-hadis
yang mendampinginya.
Filsafat Hikmah

Bertolak dari sepuluh pendahuluan di atas, kita bisa memahami proyek
filsafat hikmah secara utuh dan ringkas. Untuk menjelaskan proyek filsafat
hikmah, makalah ini akan berpijak pada rumusan-rumusan Mulla Shadra dan
Allamah Thabathaba’i. Ada beberapa langkah menarik yang diambil oleh Mulla
Shadra, untuk merumuskan kompleksitas proyek filsafat hikmah dengan segenap
implikasinya.

Pertama, meletakkan sistem filsafat hikmah di atas sejumlah dasar
pengetahuan hudhuri/badihi, sambil menegaskan bahwa semua dasar itu bersifat
swabukti (self-evident). Dasar-dasar swabukti tidak memerlukan pembuktian
(burhanah) atau pengukuhan (itsbat), melainkan hanya memerlukan pemaparan
atau penjelasan.

Kedua, menurunkan sejumlah prinsip rasional-filosofis untuk mendukung
bangunan filsafatnya dari prinsip-prinsip swabukti yang telah diketahui
manusia secara hudhuri tersebut.

Ketiga, menyelaraskan prinsip-prinsip rasional-filosofis yang bersumber pada
prinsip-prinsip swabukti dengan sejumlah mukasyafah (penyingkapan batin)
para mistikus. Kategori pengetahuan ini juga sering disebut dengan ilmu gaib
atau ilmu laduni.

Keempat, menyelaraskan prinsip-prinsip rasional-filosofis dan mukasyafah
dengan teks-teks suci dalam rangka memperteguh dan memperluas bangunan
filsafat hikmah.

Kelima, mengajukan metodologi sistematis untuk mencapai kebenaran utuh
sebagaimana tersebut di atas secara teoritis dan praktis.

Dalam karya utamanya yang berjudul Hikmah Muta’aliyah fi al-Asfar al-Arba’ah
(Hikmah yang Mengemuncak dalam Empat Perjalanan Manusia), Mulla Shadra
secara panjang-lebar memaparkan lima langkah yang telah diambilnya untuk
menemukan kebenaran tertinggi, kebenaran utuh, yang tidak sekedar bersifat
rasional-filosofis, mistis-emosional, tekstual-keagamaan, tetapi juga
kebenaran dalam pengertian realisasi langsung (tahaqquq).

Dalam pengantar al-Asfar, Mulla Shadra menyatakan:

“Teori-teori diskursif hanya akan mempermainkan para pemegangnya dengan
keragu-raguan. Kelompok yang datang belakangan akan melaknat kelompok yang
datang sebelumnya, sehingga ‘Setiap umat yang masuk (ke dalam neraka) akan
melaknat umat sebelumnya (yang telah ikut menyesatkannya).’” (QS. al-A’raf
[7]: 38)1

Persis dalam pengantar ini, dia mulai melancarkan pukulan bertubi-tubi pada
kalangan Paripatetik yang bersikukuh memegang akal dan prinsip-prinsip
rasional sebagai satu-satunya alat penyingkap kebenaran. Menurut Mulla
Shadra, akal punya keterbatasan, sebagaimana alat-alat pengetahuan manusia
lainnya. Karena itu, diperlukan suatu metodologi yang mensinergikan semua
potensi yang ada, sehingga masing-masing potensi itu dapat mengambil
perannya dalam mengantarkan manusia kepada kebenaran seutuhnya dan puncak
kesempurnaannya.

Selanjutnya, dalam Mafatih al-Ghayb, Mulla Shadra menuturkan:

“Banyak orang yang bergelut dalam ilmu pengetahuan menyangkal (adanya) ilmu
gaib laduni (langsung dari sisi Allah) yang dicapai oleh para ahli suluk dan
ahli makrifat (yang lebih kuat dan lebih kukuh dibanding semua kategori ilmu
lain) dengan mengatakan, ‘Apakah ada ilmu tanpa proses belajar, berpikir dan
bernalar?’”2

Kemudian dia memaparkan bukti-bukti filosofis untuk menepis keragu-raguan
semacam itu. Seperti biasa, dia membingkai bukti-bukti filosofisnya dengan
dalil-dalil tekstual yang melimpah ruah.

Dalam sistem filsafat hikmah, metode rasional-filosofis tidak bisa berdiri
secara terpisah dari metode penyucian hati dan begitu pula sebaliknya;
keduanya saling membutuhkan, sedemikian sehingga bila yang satu berjalan
tanpa yang lain maka kerancuan dan kesesatan akan terjadi.

Mulla Shadra menyatakan, “Kaum sufi biasanya mencukupkan diri pada rasa dan
intuisi (wijdan) dalam mengambil kesimpulan, sedangkan kami tidak akan
berpegang pada apa yang tidak berdasarkan pada bukti-bukti demonstratif
(burhan).”3

Kemudian Mulla Shadra meneruskan, “Janganlah engkau peduli pada pelbagai
kepura-puraan puak sufi, dan jangan pula engkau gandrung pada pelbagai
celoteh para filosof gadungan. Hati-hatilah wahai sahabatku, atas kejahatan
kedua puak ini. Semoga Allah tidak mempertemukan kita dan mereka walau hanya
sekejap mata.”4

Di tempat lain, dia menyimpulkan, “Oleh sebab itu, yang paling tepat adalah
kembali kepada metode kami dalam memperoleh makrifat dan pengetahuan dengan
memadu-padankan metode para filosof yang bertuhan (muta’allih) dan para
mistikus yang beragama Islam.”5

Upaya Mulla Shadra mendamaikan metode rasional-filosofis dan
spiritual-mistis dengan ajaran-ajaran Islam sesungguhnya berangkat dari
keyakinannya pada keunggulan Islam. Baginya, keunggulan Islam yang
menggabungkan kekuatan rasional dengan kekayaan spiritual hanya bisa
dipahami dan diapresiasi melalui kedua metode ini secara seimbang.

Dalam al-Mabda wa al-Ma’ad, Mulla Shadra secara singkat memaparkan
keserasian bukti-bukti rasional dan ajaran-ajaran tradisional Islam. Pada
karya utamanya, al-Asfar, secara ekstensif ia meneguhkan keserasian metode
filosofis dan mistis dengan ajaran-ajaran Islam. Ia menandaskan, “Adalah
mustahil hukum-hukum syariat yang hak, Ilahi dan putih-bersih berbenturan
dengan pengetahuan yang swabukti; dan celakalah aliran filsafat yang
prinsip-prinsipnya tidak selaras dengan al-Quran dan sunah.”6
Dasar-dasar

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, prinsip-prinsip utama filsafat hikmah
semuanya bersifat hudhuri (swabukti atau self-evident), sehingga pengukuhan
filsafat ini dapat dilakukan secara introspektif. Berikut adalah sebagian
dari prinsip-prinsip utama filsafat hikmah:

Pertama, para pendukung filsafat ini menyatakan bahwa wujud atau ada
merupakan konsep sederhana yang secara langsung bisa dimengerti tanpa
perantara konsep lain (badihah mafhum al-wujud).7

Kedua, wujud merupakan konsep yang berlaku secara umum atas segala sesuatu
dengan pengertian tunggal (mafhum al-wujud musytarakun ma’nawi).8

Ketiga, prinsip yang disebut dengan ashalah al-wujud yang berintikan bahwa
wujud adalah ungkapan bagi realitas secara mutlak yang mau tak mau pasti
kita akui keberadaannya.9 Di luar itu, yakni segenap ungkapan dan konsep
lain yang terdapat dalam perbendaharaan bahasa manusia yang dalam istilah
para filosof disebut dengan mahiyah adalah rekaan manusia (i’tibariyah).
Semua konsep selain wujud hanyalah batasan konseptual atau ilustrasi dari
wujud.10

Keempat, untuk menjelaskan keberagaman wujud yang kita saksikan secara
langsung di alam raya ini, filsafat hikmah mengajukan prinsip yang disebut
dengan tasykik al-wujud. Intinya, wujud yang mutlak itu merupakan kenyataan
atau realitas yang bertingkat-tingkat.11 Contoh yang lazim digunakan untuk
menggambarkan kebertingkatan itu adalah cahaya sebagai realitas yang
bergradasi.

Kelima, setiap titik dalam wujud yang bertingkat-tingkat itu mengalami
proses evolusi yang terus-menerus dalam suatu gerakan substansial. Perlu
dicatat bahwa dalam wacana filsafat, gerak (harakah) diartikan sebagai
proses aktualisasi potensi (khuruj al-quwwah ila al-fi’li). Inilah prinsip
yang disebut dengan al-harakah al-jauhariyyah.

Keenam, gerakan substansial dalam konteks manusia terjadi melalui hubungan
subjek dengan objek. Subjek di sini adalah ruh, jiwa atau akal, sementara
objek adalah pengetahuan yang dicerapnya (ilm). Jadi, pertumbuhan ruh
manusia ditentukan oleh objek-objek pengetahuan yang dicerapnya, persis
sebagaimana pertumbuhan tubuh ditentukan oleh gizi yang dimakannya. Makin
tinggi nilai objek-objek pengetahuannya, makin subur dan “sehat” ruh itu.
Sebaliknya, makin rendah nilai objek-objek pengetahuannya, makin lemah,
“sakit,” dan surut ruh itu. Inilah prinsip yang dalam filsafat hikmah
disebut dengan ittihad al-aqil bi al-ma’qul.
Beberapa Implikasi

Filsafat hikmah merupakan pengembangan atas pesan-pesan al-Quran dan sunah.
Dalam banyak kesempatan, Mulla Shadra sang jurubicara ulung sangat berbangga
karena dapat merumuskan sistem filosofis yang sepenuhnya berpijak di atas
dasar teks-teks al-Quran dan sunah. Seperti telah kita kutip di atas, Mulla
Shadra mengecam spekulasi filosofis liar yang tidak berpijak pada wahyu
Ilahi. Baginya, semua spekulasi filosofis yang tidak bermuara pada teks-teks
suci hanya akan berakhir dengan kesimpulan-kesimpulan yang membingungkan dan
menyesatkan. Penegasan tersebut merupakan langkah besar dalam sejarah
panjang filsafat Islam, mengingat hal itu berarti berita tentang lahirnya
filsafat Islam yang sebenarnya.

Atas dasar itu, Mulla Shadra menyebut filsafatnya dengan al-hikmah atau
al-hikmah al-Ilahiyyah. Hikmah merupakan istilah yang secara khas dipakai
oleh al-Quran dan sunah dalam bermacam makna. Al-Quran menyebutkan tugas
kenabian sebagai pengajaran al-Quran dan hikmah (QS. 2: 129, 3; 48, 3: 164,
dan sebagainya). Lantas, Allah meminta Nabi Muhammad saw untuk menyeru ke
jalan-Nya dengan al-hikmah (QS 16: 125). Dalam surah al-Baqarah ayat 269,
al-Quran menyebut al-hikmah sebagai anugerah kebaikan yang besar.

Filsafat hikmah tidak mengajak orang untuk sekadar berwacana, tetapi
bergerak secara konstan dalam kerangka ajaran-ajaran Islam yang bercirikan
hikmah (kebijaksanaan, ketegasan, kepastian). Dalam wujud yang luas ini,
filsafat hikmah menempatkan manusia sebagai entitas unik yang dapat
berkembang sedemikian sehingga substansinya terus meninggi (atau menurun).
Filsafat hikmah mengapresiasi proses evolusi manusia ini dengan
mendayagunakan semua potensi yang telah dimilikinya.

Dalam pelbagai karya mereka, para pendukung filsafat hikmah selalu
menggambarkan bahwa manusia adalah suatu kemenjadian yang secara konstan
mengalir tanpa henti. Manusia bukan merupakan entitas yang mandeg, melainkan
terus bergerak menaiki atau menuruni deretan tak-terbatas dari
tingkatan-tingkatan wujud. Pernyataan seperti ini sebenarnya menjelaskan
ajaran pokok semua agama mengenai manusia sebagai makhluk unik yang bergerak
dalam suatu gerakan yang tak-terelakkan melewati “kematian” menuju “surga”
ataupun “neraka.”

Berdasarkan prinsip-prinsip filsafat hikmah, kita dapat menghayati teks-teks
suci, khususnya yang berbicara tentang hal-hal gaib, dalam bentuk yang lebih
filosofis. Umpamanya, dalam banyak kesempatan, Mulla Shadra sering mengutip
ayat-ayat dan hadis-hadis Nabi Muhammad saw atau pun para imam Syiah
mengenai hubungan satu amalan kecil dengan pahala besar yang dihasilkannya.
Hubungan-hubungan antara alam gaib dan alam fisik ini dijelaskan sebagai
hubungan antara satu tingkat dengan tingkat lain dalam piramida wujud yang
tunggal.

Filsafat hikmah menyadarkan kita bahwa semua kerja manusia punya nilainya
yang tersendiri, betapa pun tidak berartinya nilai itu dalam perskeptif
suatu tingkatan wujud tertentu. Di dalam wujud yang bergerak secara konstan
ini, hal-hal kecil akan berpengaruh terhadap proses evolusi manusia
selanjutnya. Manusia yang berpikir tentang batu pasti akan dipengerahui oleh
citranya tentang batu, sampai akhirnya ia akan menyerap sifat-sifat batu itu
secara total.

Oleh sebab itu, para pendukung filsafat hikmah sangat menekankan pentingnya
kita untuk mengkaji teks-teks suci sebagai satu-satunya rujukan pasti
mengenai hubungan-hubungan alam fisik dan alam gaib. Setiap tindakan fisik
kita akan mempunyai dampak terhadap dimensi ruhani-gaib kita yang pada
gilirannya akan kembali menghantui kita sehingga kita melakukan hal-hal lain
yang akan berpengaruh terhadap dimensi ruhani-gaib kita dan begitulah
seterusnya. Hubungan-hubungan yang saling berjalin-berkelindan ini
dijelaskan dalam filsafat hikmah berdasarkan bukti-bukti filosofis yang
diperkuat oleh teks-teks suci dan penyingkapan mistis.
Catatan Akhir

Kebangkitan atau renaisans Islam tidak boleh diukur dari kemajuan dalam
bidang-bidang teknis-perindustrian, lantaran manusia menuju puncak
kesempurnaannya justru melalui pembebasan dirinya dari kondisi-kondisi alam
yang melingkupinya. Makin sempurna manusia, makin bebas ia dari hal-hal
material dan makin bertumpu ia pada kekuatan kemanusiaannya.

Dengan kata lain, kesempurnaan manusia ditentukan oleh ciri khasnya sebagai
manusia, yaitu kesempurnaan daya-daya intelektual dan spiritualnya. Oleh
karena itu, langkah manusia menuju kesempurnaan berbanding lurus dengan
langkah pembebasannya dari materi dan pendekatannya ke arah pengetahuan,
keruhaniaan dan keimanan.

Maksud ungkapan ‘bebas dari materi’ bukanlah ‘hidup dalam kevakuman yang
jauh dari alam materi,’ melainkan penguasaan dan pengendalian manusia atas
kondisi-kondisi material dan bukan sebaliknya. Kalau di masa-masa lampau
manusia sedemikian bergantung pada kondisi-kondisi material yang
mengurungnya, maka di masa-masa mendatang ia pasti akan makin mandiri dari
lingkungan materialnya. Manusia masa depan akan makin sanggup mengendalikan
dan memanfaatkan semua potensi dan kapasitas material untuk pergerakan
substansialnya mendaki puncak-puncak kesempurnaan manusiawinya yang hakiki.

Oleh sebab itu, agama masa depan mestilah merupakan pandangan dunia yang
memiliki sendi logis-rasional yang utuh, sendi emosional-spiritual yang
kaya, mengandung gagasan-gagasan yang mendalam dan menghunjam, tidak saling
beradu dan berbenturan, serta mengandung cita-cita besar yang luhur dan
suci.

Agama masa depan mesti mampu menjelaskan semua ajarannya dalam bentuk
penuturan logis-filosofis yang lancar dan memuaskan, tidak dalam bentuk yang
dipaksakan dan dibuat-buat. Agama yang demikian ini juga harus bisa
menghadirkan harapan dan kegairahan spiritual bagi manusia, sedemikian
sehingga manusia dapat merasakan adanya makna di balik perjalanan hidupnya
yang serba-singkat dan sarat-penderitaan ini.

Salah satu implikasi terbesar dari kehadiran filsafat hikmah di
tengah-tengah umat adalah munculnya kesadaran bahwa Islam memiliki semua
syarat dan kelayakan untuk menjadi agama masa depan. Tidak berlebihan bila
saya katakan bahwa filsafat hikmah yang sepenuhnya bersumber pada al-Quran
dan sunah ini menggugah kita untuk kembali menghayati ajaran-ajaran Islam.
Bagaimana tidak! Filsafat hikmah telah berhasil menampilkan Islam sebagai
puncak dari ribuan tahun tradisi agama semitik, rasionalisme Yunani, dan
mistisisme Timur yang telah banyak menyumbang perkembangan peradaban manusia
di muka bumi.[]
Catatan Kaki:

1. Mulla Shadra, al-Asfar, Maktabah al-Mushthafawi, 1378 H, Qum, Bagian
Pengantar.

2. Mulla Shadra, Mafatihul Ghayb, Muassasah Muthala’at va Tahqiqat
Farhanggi, Tehran, tanpa tahun, hal.48.
3. Ibid, hal.55.
4. Ibid, hal.56.
5. Ibid, hal.56.
6. Op.Cit, hal.23.

7. Thabathaba’i, Bidayatul Hikmah, Muassasah an-Nasyr al-Islami, 1422 H.,
Qum, hal.11.
8. Ibid, hal.12.
9. Ibid, hal.14.
10. Ibid, hal.20.
11. Ibid, hal.24.##

Sumber: tersedia pada :
http://www.metafisika-nusantara.co.cc/2011/02/filsafat-hikmah-dalam-metafisika-islam.html
Diakses: Jum'at, 20 Mei 2011

baktosna,
manar

2011/5/20 Kumincir Wikidisastra <[email protected]>

>
>
> komputer dijieun ku jelema, ari jelema dijieun ku naon ateuh? pikeun jasad
> atawa bangkarakna memang bisa jadi paeh, tapi mun diibaratkeun komputer,
> kapan aya oge nu didaur ulang, dipurutulan, diolah deui, atawa digiling
> sakalian. naha hal eta teu bisa disaruakeun jeung proses sanggeus paeh? enya
> soal didaur ulang mah moal kapikiran ku komputerna, da nu ngadaurulangna ge
> pan manusa. pon kitu oge 'daur ulang' manusa, ku pikiran manusa mah boa
> teuing bisa kahontal atawa henteu. tapi kumaha mun manusa teh aya nu
> nyiptakeun? boa bakal didaur ulang oge... :P
>
> sikandar
> kumincir.blogspot.com
>
> 2011/5/19 Gus Maman
>
>   Ceuk kuring mah memang Stephan Hawking pinter dina urusan
>> fisika-matematika, tapi belegug nyaruakeun hirupna jelema jeung "hirupna"
>> komputer.
>>
>  
>

Kirim email ke