Cak Anam,
masalahnya sekarang adalah bagaimana caranya kita bisa "ngompori" supaya bisa 
berdialog dan saling kritik!
salam,
munir

kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  Setahuku 
Ulil dan Baso tak pernah saling kritik apalagi berdialog. Mereka
 berbicara sendiri-sendiri di depan cermin. Lalu masalahnya apa?
 
 On 5/25/07, Mukhlisin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 >
 >   Mas Ulil, email dibawah ini banyak hal yang mengejutkan saya dan hampir
 > sama terkejutnya ketika dulu saya baca artikel Mas Ulil di kompas tentang
 > Penyegeran Kembali Pemikiran Islam (dulu saya langsung tabayyun via email
 > juga).
 > Hal yang paling membuat saya terkejut al:
 > 1. Saya baru tau kalau ternyata dari awal sasaran tembak dari kritik dan
 > gagasan liberal mas Ulil hanya untuk outsider dan bukan untuk kalangan
 > pesantren.
 > Yang perlu saya tau lebih jelas, bagaimana Mas Ulil bisa meyakinkan ke
 > kalangan insider kalau arah dan sasaran tembaknya bukan mereka? Ini perlu
 > diperjelas karena sejak JIL di singgung2 dalam Muktamar Boyolali, resistensi
 > kaum pesantren terhadap JIL semakin tegas dan nyata. Kebetulan kemarin saya
 > dapat buku dari teman terbitan PC NU Lamongan yang berisi tentang semacam
 > buku saku pedoman Nahdiyyin dimana didalam buku tersebut JIL wabilkhusus
 > nama Mas Ulil menjadi salah satu golongan atau aliran yang harus dijauhi
 > oleh NU.
 >
 > 2. Jawaban atas kritik Baso terhadap JIL/mas Ulil membuat saya semakin
 > terkejut juga sangat disayangkan karena setau saya dua nama tsb diatas saya
 > yakin (mduah2an tidak salah) sama2 masih cinta dan bahkan sangat cinta sama
 > NU. Kenapa mesti berhadap-hadapan secara diametral seperti sekarang? Apalagi
 > kedua2nya sama2 pernah (kalu ga salah juga) bareng di PP Lakpesdam. Apakah
 > dengan mas Ulil menanggapi kritik Baso akan menambah semakin membuat jarak
 > keduanya?
 >
 > Mohon maaf kalau kekagetan saya membuat ada yang tersinggung.
 >
 > Salam,
 > Mukhlisin
 >
 > ----- Original Message -----
 > From: Ulil Abshar-Abdalla
 > To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
 > Sent: Thursday, May 24, 2007 1:24 AM
 > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik--Dan beberapa catatan lain (1)
 >
 > Mas Riadi,
 > Kritik atas saya dan Islam liberal sudah sering
 > dilancarkan oleh teman-temen NU sendiri. Saya tak
 > pernah terlalu menghiraukan kritik itu, sebab sejak
 > awal saya sadar "audiens" gagasan saya bukanlah
 > kalangan pesantren. Sebagaimana saya jelaskan dalam
 > email yang lalu, saya nyaris tak pernah mau diundang
 > ke pesantren untuk membicarakan soal gagasan Islib,
 > sebab memang kurang relevan. Kalau anda telaah seluruh
 > tulisan saya, sebagian besar adalah kritik atas Islam
 > fundamentalis. Saya tak pernah menyinggung soal NU
 > sama sekali.
 >
 > Kritik-kritik itu ada yang masih sopan seperti
 > sebagian besar kritik Baso. Tetapi ada juga yang kasar
 > sekali seperti yang pernah ditulis oleh teman
 > Yogyakarta, Umaruddin Masdar. Kritik-kritik ini sudah
 > muncul sekitar lima tahunan, dan saya tak pernah
 > sedikitpun menanggapi.
 >
 > Apa yang saya tulis dalam milis ini adalah tanggapan
 > tertulis pertama setelah saya melihat gejala yang tak
 > sehat, yaitu menempatkan pemikiran saya dan
 > teman-teman saya sebagai "musuh ideologis". Buat saya,
 > ini sudah kebablasan. Saya ingin mengatakan bahwa
 > kecenderungan ideologis seperti ini sama bahayanya
 > bagi tradisi NU dengan ide-ide kaum fundamentalis.
 > Teman-teman muda NU yang terlalu kerepotan membawa
 > beban "ideologis" ini belum tentu mengenal dengan baik
 > tradisi pemikiran NU sendiri, dan karena itu mereka
 > juga tak terlalu menganggapnya penting. Bagi mereka,
 > NU hanyalah alat saja bagi ideologi.
 >
 > Buat saya, kerangka berpikir berikut ini sangat
 > gegabah dan hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang
 > berpikir dogmatis. Karena Islam liberal mengandung
 > nama "liberal" di dalamnya, maka dengan sendirinya
 > identik dengan filsafat ekonomi yang disebut
 > "neo-liberalisme". Karena agenda kaum kiri di dunia
 > saat ini menjadikan "neo-liberalisme" sebagai musuh
 > yang tak bisa ditolerir, maka gagasan-gagasan
 > keagamaan dalam kerangka Islam liberal adalah juga
 > musuh ideologi. Trik-trik kaum kiri seperti ini hanya
 > menyumbat diskusi pemikiran, sebab dalam kerangka
 > "permusuhan ideologis" seperti itu lalu tak mungkin
 > lagi terjadi diskusi yang sehat. Semua hal
 > dikerangkakan secara hitam putih dalam dua blok besar,
 > "baik dan jahat".
 >
 > Sebagaimana anda tahu, concern saya lebih pada tradisi
 > pemikiran keagamaan dan khazanah intelektual klasik
 > dalam Islam. Saya tak terlalu tertarik dengan soal
 > ideologi neo-liberalisme atau lawan-lawannya.
 > Perseteruan antara dua ideologi itu tak pernah menjadi
 > tema yang penting dalam seluruh formasi gagasan saya.
 > Sayangnya, tradisi Islam itu tak pernah menjadi
 > sesuatu yang penting bagi teman-teman yang sudah gelap
 > dikuasai oleh "kaca mata ideologi" ini.
 >
 > Sayang sekali.
 >
 > Ulil
 >
 > Ulil Abshar-Abdalla
 > Department of Religion
 > Boston University
 >
 > [Non-text portions of this message have been removed]
 >
 > 
 >
 
 [Non-text portions of this message have been removed]
 
 
     
                       

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke