Rizqon Khamami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Mas
Ulil yang budiman,
sepulang saya ke Tanah Air, dan setelah sekian lama saya amati,
tanpa bermaksud membela Baso, saya kok menemukan fakta lapangan
bahwa JIL telah menjadi "kartu mati" di kalangan masyarakat Muslim
Indonesia. Heran saya, "kartu mati" ini juga berlaku di NU.
Mengherankan lagi, semua ini berdampak juga pada hampir semua
kreatifitas anak-anak muda Muslim dari semua unsur, contoh saja,
JIMM dari Muhammadiyah.
Nah, fenomena ini yang masih mengganjal di benak saya. Kira-kira,
kenapa bisa begitu? What went wrong?
Salam,
Rizqon Khamami,
Rangkang, Probolinggo.
J A W A B :
From: Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED] com>
Date: Mon, 21 May 2007 22:59:42 -0700 (PDT)
Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
Mas Shidqi,
Terima kasih untuk tanggapannya.
(1) Saya tetap mengagumi barat sebagai puncak
peradaban modern saat ini, sebagaimana saya juga
mengagumi peradaban Islam pada masa keemasannya.
Kekayaan intelektual peradaban Islam ini saya temukan
di barat saat ini, dan saya pengen sekali pesantren
kembali mengingat kembali kekayaan khazanah itu, dan
tidak tenggelam dalam politik praktis.
SUBHANALLAH...mungkin silap tidak fasih membaca MASJIDIL AQSHA, PALASTINA,
AFGHANISTAN, IRAQ, IRAN ......
---------------------------------
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Tryit now.
[Non-text portions of this message have been removed]