Mas Ulil yang budiman,

sepulang saya ke Tanah Air, dan setelah sekian lama saya amati, 
tanpa bermaksud membela Baso, saya kok menemukan fakta lapangan 
bahwa JIL telah menjadi "kartu mati" di kalangan masyarakat Muslim 
Indonesia. Heran saya, "kartu mati" ini juga berlaku di NU. 
Mengherankan lagi, semua ini berdampak juga pada hampir semua 
kreatifitas anak-anak muda Muslim dari semua unsur, contoh saja, 
JIMM dari Muhammadiyah.

Nah, fenomena ini yang masih mengganjal di benak saya. Kira-kira, 
kenapa bisa begitu? What went wrong?

Salam,
Rizqon Khamami,
Rangkang, Probolinggo.




--- In [email protected], Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> ...........
> Karena memahami konteks seperti inilah, saya tak
> pernah membawa piiran-pikiran Islam liberal saya di
> lingkungan kiai dan pesantren. Saya tak pernah mau
> diundang untuk membicarakan soal Islib di pesantren.
> Sebab, ide-ide Islib saya pandang sebagai kritik atas
> jenis Islam "lain" yang tumbuh di luar pesantren. Saya
> paham sekali, pesantren tidak bisa saya jadikan
> "liberal", dan saya juga tak pernah menghendaki itu.
> Paling jauh, yang kita butuhkan di pesantren sekarang
> ini kan melakukan kontekstualisasi kitab kuning
> seperti dianjurkan oleh Masdar Mas'udi dulu (dan saya
> kira anjuran ini masih terus relevan). Tetapi kiai
> juga tak bisa diajak menjadi "kiri" dan secara
> ideologis dipaksa menjadi semacam aktivis
> anti-globalisasi. Biarlah gerakan anti neo-liberalisme
> ini menjadi tugas anak-anak NU yang kebetulan tertarik
> dengan ide itu dan bergerak di level LSM saja. 
> 
> Saya memang bukan seorang revolusioner, baik dalam
> pengertian "kiri" atau "kanan". Saya mungkin seorang
> pengkritik yang tajam (terhadap jenis Islam tertentu),
> tetapi saya bukan seorang revolusioner. Dan itu saya
> pelajari dari Gus Dur. Catatan Gus Dur atas Paulo
> Freire tak pernah saya lupakan. 
> 
> Supaya catatan saya ini lengkap, saya akhiri dengan
> catatan lain yang sederhana. Saat ini banyak anak-anak
> muda NU yang tertarik dengan gagasan yang dibawa oleh
> (dulu) teman saya, Ahmad Baso. Baso adalah anak NU
> yang cerdas dan pintar, bacaanya luas sekali. Dia
> sering mengkritik pikiran-pikiran saya, dan saya
> senang dengan kritik-kritik itu. Dia mengkritik saya
> antara lain karena dengan Islam liberal saya menjadi
> seorang yang "weternized" tulen dan mengabaikan
> tradisi. Kritik Baso itu jelas salah, sebab saya tak
> mungkin meninggalkan tradisi dari mana saya berangkat.
> Dua tahun saya sekolah di Boston ini saya habiskan
> untuk bergelut dengan teks-teks Islam tradisional.
> Studi doktoral saya di Harvard kelak (sekitar lima
> atau enam tahun) juga akan saya habiskan untuk
> menggali tradisi Islam yang kaya ini. Cinta saya sejak
> dulu adalah pada Islam klasik ini. 
> 
> Tetapi kritik Baso akhir-akhir ini sudah bergerak
> terlalu jauh karena telah berada di luar arena
> pemikiran. Dia menempatkan saya secara ideologis,
> seolah-olah saya secara ideologis berada di dalam kamp
> besar "neo-liberalisme", "kapitalisme", dsb. Karena
> saya diletakkan secara ideologis pada rubrik besar
> itu, maka saya adalah "musuh besar" yang harus
> diberangus. Dalam sebuah diskusi di tengah-tengah
> Muktamr NU terakhir di Solo dulu, dia mengatakan bahwa
> Islam liberal sudah berada di luar jalur Ahlussunnah
> wal Jamaah. Saya kaget, karena tiba-tiba dia berpikir
> dalam kerangka ortodoksi yang dia kritik sendiri
> sebelumnya. Cara berpikir Baso ini "menular" ke banyak
> kalangan anak NU lain. Inilah yang menjelaskan kenapa
> banyak anak-anak NU sekarang begitu "sengit" pada
> Islam liberal. Mereka tampaknya tak mau tahu bahwa
> mungkin 90 persen yang saya kemukakan dalam kerangka
> gagasan Islib paralel dan kongruen dengan semua yang
> ada dalam tradisi NU. Dan hal itu memang tak bisa lain
> kecuali demikian, sebab saya bergerak dari tradisi NU
> sendiri. Teman saya Abdul Moqsit Ghazali juga bergerak
> dari tradisi NU, sebab dia lulusan Situbondo. Mungkin
> pendidikan pesantren yang dilalui oleh Moqsit jauh
> lebih lama dan mendalam ketimbang yang dialami oleh
> Baso sendiri. 
> 
> Tapi anehnya cara Baso "menghormati" tradisi NU
> sekarang ini seolah-oleh melebihi kami-kami yang dulu
> pernah di pesantren lama. Karena saya menggerakkan
> gagasan Islam liberal, saya dan teman-teman saya yang
> kesemuanya berangkat dari tradisi NU langsung
> ditempatkan sebagai "musuh" tradisi NU. Ini jelas tak
> sehat sama sekali dalam kerangka mengembangkan tradisi
> NU sendiri. Saya menginginkan NU menjadi rumah besar
> yang bisa menampung sejumlah ragam pemikiran yang
> dalam jangka panjang bisa menghidupkan kembali "gairah
> pemikiran" di NU. Tetapi sikap-sikap yang ditunjukkan
> oleh teman-teman NU seperti Baso ini sudah mengubah
> dialog pemikiran menjadi perseteruan ideologis. Di
> mana-mana, ideologi yang dimaknai secara tertutup akan
> mengotori diskusi dan membuat percakapan intelektual
> menjadi kacau. Ini pula yang ditunjukkan oleh
> teman-teman NU yang sekarang berada dalam--maaf kalau
> saya memakai istilah ini--jalur "kiri" dan bersemangat
> mengkritik neo-liberalisme. 
> 
> Yang mengherankan lagi, Baso yang "sok" membela
> tradisi NU ini memakai teori-teori dan filsafat
> mutakhir yang datang dari Barat dan asing dalam
> tradisi NU sendiri. Baso memang seolah-olah
> menghormati tradisi NU, tapi cara menghormati yang dia
> lakukan adalah sangat artifisial, bahkan kesan saya
> tradisi NU hanya dijadikan sebagi "alat" saja untuk
> menyokong kebenaran teori-teori "cultural studies"
> yang semuanya dipinjam dari barat. Saya kaget benar
> ketika tiba-tiba beberapa waktu yang lalu dia
> mengangkat isu soal pentingnya "cium tangan" dalam NU.
> Tradisi cium tangan memang penting, dan saya mungkin
> mencium tangan kiai lebih banyak dari dia sendiri.
> Tetapi, apakah kita mesti membahas tradisi NU dalam
> level yang permukaan seperti ini? Seperti saya tulis
> dalam email terpisah, tradisi NU yang perlu kita gali
> kembali adalah tradisi pemikiran yang selama
> bertahun-tahun dikembangkan oleh kiai-kiai di
> pesantren, dan sekarang dilupakan karena sibuk dengan
> politik praktis. Menurut saya, terlalu banyak hal
> dalam tradisi NU yang jauh lebih penting ketimbang
> soal cium tangan. 
> 
> Kesimpulan saya, Baso hanyalah memperalat NU sebagai
> "mahall al-syahid" (kalau yang pernah belajar
> Alfiyyah, pasti tahu apa arti istilah ini) untuk
> teori-teori dari barat yang dia baca selama ini.
> Sedihnya, inilah gaya pemikiran yang sekarang
> digandrungi oleh sebagian teman-teman NU akhir-akhir
> ini, sekali lagi sebagian, bukan semuanya. 
> 
> Bersambung.......
> 
> 
> Ulil
> 
> 

Kirim email ke