terima kasih infonya....
mungkin karena secara literatur saya tidak mendapatkan karya-karya beliau
jadi menurut saya sebagai orang luar tidak dapat mengetahui ke-ahli-an
beliau-beliau ini
Gus Mus itu pernah di Mesir (kalau gak salah) berarti
beliau ini salah satu lulusan universitas luar negeri
saya tidak tahu untuk yang lain
oleh sebab itu mungkin sekarang sudah dilakukan oleh pustaka pesantren
sebagai
penerbit untuk menerbitkan karya-karya beliau-beliau ini
sehingga sebagai warga NU bisa tahu dan bangga,
untuk berkunjung ke pak Hasyim (Ketua PBNU) sudah pernah jangongan
saat bulan puasa dulu itu, sampai larut malam
pak Hasyim pun lulusan IAIN Sunan Ampel
dan yang belum adalah abah Ubaidaillah, mungkin akan saya sempatkan
bukannya saya mengurangi peran kiai besar seperti beliau-beliau itu
tetapi begitulah menurut pendapat orang yang gak pernah mondok
kalaulah beliau-beliau itu demikian, bagaimana dengan anak didiknya?
dan yang ini yang menjadi pertanyaan berikutnya?
maaf bila tidak berkenan
salam
Azam
Jurusan Teknik Elektro
Politeknik Negeri Malang
Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
jum'at mabruk,
mas nagan,
karena sampeyan nggak pernah mondok jadi analisis sampeyan salah...hehehe
kalau anda mengenal almaghfurlah mbah bisri mustofa, almaghfurlah mbah ali
maksum, dan almagfurlah mbah ahmad muthohar anda akan tercengang bagaiman
karya2 beliau cukup berbobot, mereka bukan orang sekolahan tapi karya2 sangat
bagus.
dan yg masih hidup adalah mbah sahal (rais 'am PBNU) kalau anda membaca
karya2nya sungguh luar biasa...
kyai2 NU itu 'cuma' lulusan pesantren tapi tradisi intelektualnya begitu
mendarah daging dan menghasilkan karya2 yang sangat bagus.
demikian, semoga anda bisa belajar banyak lagi dari kyai2 NU, kalau sempat
karena anda 'arek' malang coba sowan ke pak hasyim muzadi (al-hikam) atau ke
abah ubaidilah selaku wakil rois syuriah PCNU malang, silakan ngobrol2 masalah
kyai2 NU.
wassalam,
syaikhul
-----Original Message-----
From: nagan singosari [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Friday, May 25, 2007 8:51 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
salam,
apa yang disampaikan oleh Gus Ulil
ada beberapa hal yang ingin saya beri komentar
(menurut saya) Dalam NU selama budaya intelektual atau budaya
berfikir tidak pernah dijadikan suatu proses budaya NU atau pesantren,
budaya itu selama ini hanya berjalan di luar pesantren yaitu
dilingkungan perguruan tinggi itupun masih minim,
kebanyakan pemikir-pemikir yang dimiliki NU adalah awalnya
adalah didikan pesantren tetapi pada akhirnya adalah didikan
dari universitas luar negeri seperti mesir, arab saudi,irak dan sebagainya.
sehingga sebenarnya adalah sesuatu hal yang muskil
kalau budaya intelektual di NU itu diserahkan ke hanya ke pesantren
karena mulai awal pendirian sebenarnya (menurut saya)
pendirian pesantren adalah hanya untuk memberi bekal keagamaan untuk hidup saja
dan tidak dikembangkan sebagai alat untuk pengembangan budaya intelektual
dan pesantren juga digunakan sebagai sebuah kegiatan pergerakan
atau organisasi dalam hal ini (untuk melawan penjajah dulu)
dan hal ini masih membekas dalam jejak-jejak pesantren sekarang
sehingga akan mudah sekali untuk digerakkan keperluan politik praktis
Jadi sebenarnya tugas kiai di pesantren selama ini itu hanyalah memberikan
bekal keagamaan untuk hidup saja dan untuk kepentingan pergerakan
(politik) kiainya (tidak semuanya tetapi kebanyakan)
Iran atau negara timur tengah tentang budaya intelektual ini adalah
mulai berkembang sejak Ibnu Sina dan Asy'ariyyah, sejak Al-Ghazali
abad 10 M dan hal itu tetap berlaku sampai sekarang, biarpun
pernah mengalami pasang surut. sedangkan di nusantara pada abad 10 M kerajaan
singosari belum terbentuk, masih hidup di hutan-hutan dan seterusnya.
coba bayangkan sangat ketinggalan
Dan pada saat ini sebenarnya budaya intelektual NU tidak berada di pesantren
saja
tetapi juga ada anak-anak muda NU lulusan-lulusan universitas baik dari luar
negeri dan
di dalam negeri tentunya. karena sekarang kebanyakan generasi muda NU
melanjutkan
sekolah di perguruan tinggi setelah lulus dari pondok pesantren.
(seperti yang disampaikan Gus Ulil).
Dan ada benarnya yang disampaikan Gus Ulil, bahwa budaya NU sendiri tidak
memberikan
ruang untuk orang-orang yang pandai dan kritis, sehingga bila terjadi perbedaan
pendapat
maka yang terjadi adalah pengasingan atau sejenisnya, hal ini memang mereka
kebanyakan tidak memiliki budaya intelektual.
maaf barangkali ini pengamatan yang salah
karena saya belum pernah mondok di pesantren sama sekali
salam
Azam
Jurusan Elektro
Politeknik Negeri Malang
---------------------------------
Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows.
Yahoo! Answers - Check it out.
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Take the Internet to Go: Yahoo!Go puts the Internet in your pocket: mail, news,
photos & more.
[Non-text portions of this message have been removed]