Mbak Fath, Saya sama sekali tak melihat kontradiksi antara pandangan-pandangan keagamaan saya yang liberal (tentu tidak semua; sebagian besar pandangan keagamaan saya, terutama yang berkaitan dengan aspek rohaniah, masih sangat tradisional) dengan kecintaan saya pada tradisi Islam klasik. Bahkan dorongan-dorongan ke arah liberalisme pemikiran banyak saya temukan dalam tradisi.
Saya hanya risau saja, teman-teman saya yang selama ini mengkritik Islam liberal sebagai anti-tradisi malah justru tidak atau jarang membaca tradisi Islam sendiri. Bacaan teman-teman saya yang ingin "mempertahankan" tradisi NU itu justru malah karya-karya pemikir barat kontemporer, terutama filsafat posmodernisme, cultural studies, dsb. Mereka lebih akrab dengan teks-teks Homi Bhaba, Gayatri Spivak, Michel Foucault, Derrida, ketimbang teks-teks dari ranah tradisi Islam klasik sendiri. Saya sendiri menyukai teks-teks kaum "posmo" itu dan masih terus membaca, meskipun tidak intensif, sekedar untuk cari tahu saja. Tetapi, saya lebih menyukai teks Islam klasik. (Saya suka sekali dengan penafsiran John Caputo atas filsafat Derrida; Caputo mencoba membaca Derrida dalam kerangka yang sangat mistikal sekali). Saya sebetulnya sangat senang ada generasi baru NU yang terdedahkan pada teks-teks barat seperti ini; ini jelas akan memperkaya percakapan di dalam NU. Tetapi yang saya sungguh kaget adalah mereka menganggap saya dan teman-teman saya sebagai anti-tradisi, sementara mereka sendiri dibentuk oleh ide-ide dari barat. Ini yang saya ingin klarifikasi. Sebetulnya masalahnya sederhana saja. Teman-teman saya itu membaca literatur dari barat yang kebetulan berasal dari tradisi "posmo" yang banyak mengkritik modernitas. Ketika nama Islam liberal muncul, mereka menemukan sasaran yang baik untuk memakai teori-teori yang mereka baca dalam buku-buku dari barat itu. Ini yang menurut saya sama sekali ndak kena dan amat disayangkan. Saking antusiasnya teman-teman itu menggauli teori-teori posmodernitas atau cultural studies yang sangat "memuja" apa yang disebut dengan "local knowledge" itu, ada sebagian yang membenci institusi sekolah karena itu dianggap sebagai bagian dari modernitas. Ini, buat saya, kan "keterlaluan". Wong NU membutuhkan sebanyak mungkin generasi baru yang terdidik, kok malah ini ada teman-teman yang bergerak ke arah lain, dan atas nama "tradisi" pula. Kesimpulan saya, apa yang dimaksud dengan "tradisi" di kepala teman-teman pengkritik saya itu (Baso dkk) adalah tradisi yang mereka "ciptakan" sendiri, bukan tradisi yang saya bicarakan dalam email-email saya akhir-akhir ini, dan juga bukan tradisi seperti dimengerti oleh para kiai di pondok-pondok. Katakan saja, "fabricated tradition". Tradisi di mata mereka ini sejenis romantisme kaum orientalis yang mendambakan dunia timur yang hilang, meskipun mereka tentu menolak dengan gigih penggambaran saya semacam ini (mereka mungkin akan memakai teorinya Edward Said atau yang lain untuk menolak ini). Saya benar-benar agak "geli" melihat kecakapan teman-teman ini memeragakan teori yang canggih dari barat untuk mempertahankan tradisi NU, tetapi tradisi NU yang mereka bela itu tidak pernah mereka baca dan geluti dengan sungguh-sungguh. Ulil --- "Fathonah K. Daud" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Membaca beberapa tulisan mas Ulil akhir2 ini, saya > agak 'terkeliru' seperti saya melihat wajah dan > costume mas Ulil yang lain. Gumamku :"mungkin mas > Ulil > 'came back'". Saya tak pasti apakah istilah yang > saya > gunakan itu sesuai apa tidak, yang jelas seperti > itulah pandangan saya selama ini. Dan, apakah > berarti > saya ketularan cara pandangnya mas Baso? saya kira > tidak. > > Saya juga agak terkejut ketika mas Ulil berbicara > tentang tradisi intelektual NU dan Islam klasik. ini > berarti balik kandang, lak iyo toh!(apa ini > klarifikasi? he he) > > Selama ini mas Ulil memang dipandang 'seakan' > meninggalkan tradisi, atau istilahnya mas Baso yang > "westernized'. Saya bilang 'seakan' karena kelihatan > kurang konsisten dalam pernyataan-pernyataan > pemikirannya. Gak usah jauh-jauh cari referens. > Rujuk > saja beberapa email Mas Ulil dengan pemikiran yang > berbeda-beda di KMNU ini. Dan, Mas Ulil gak usah > 'pura-pura' kaget kalau banyak kaum muda NU begitu > 'sinis' dengan JIL dan gak mau tahu tentang > tema-tema > yang diangkat JIL (yang sebenarnya adalah sangat > progresif) itu. Sekali lagi, apa yang saya bilang > ini > adalah kenyataan di lapangan. Saya senditi > melihatnya, > terutama ketika dalam diskus yang mengangkat tema > yang > berbau 'liberal' mereka pasti cepat2 melabelinya > 'sekuler' dll. > > Bagi saya, di tengah2 NU yang nota bene > tradisionalis > ini memang sangat diperlukan wujudnya sekelompok > orang > (apapun namanya) yang selalu komited terhadap > pemikiran Keislaman. Karena dengan demikian dianggap > sebagai penyeru kepada penggalian khazanah > intelektual > Islam. Apalagi tradisi Islam klasik yang sering > mencerminkan sosial budaya masa lampau dan karena > itu > kini sering dipandang kurang relevans dengan kondisi > sekarang, seperti tafsir2 yang berkaitan dengan isu > sosial atau gender, yang sewaktu-waktu dapat > ditinjau > kembali benar salahnya. Realitinya umat Islam lebih > banyakj bersifat tertutup dan nyaris beku dalam > bersikap dan tidak mau menerima pembaharuan > (whatever). Padahal pembaharuan semestinya merupakan > proses terus menerus. > > Namun, mas Ulil gak usah risau. Dengan eksisnya JIL, > Insyallah NU akan menjadi gelanggang untuk > pertembungan ide-ide yang cair dan tidak beku. > agaknya > perkembangan dan masa depan pemikiran keislaman di > Indonesia dapat ditentukan oleh dua corak dan pola > hubungan yang terbuka antar kelompok pemikiran ini. > > Salam > Fath > > --- Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Mas Arief, > > Mohon maaf jika email ini agak sedikit > > berkepanjangan. > > Saya akan meneruskan email pertama dengan > > menambahkan > > beberapa catatan berikut ini. > > > > Salah seorang yang memikirkan tradisi NU dan > > mengembangkannya dengan sungguh-sungguh dari sudut > > pemikiran adalah orang-orang seperti Masdar > Masudi, > > Kiai Husein Muhammad, dan beberapa teman muda lain > > yang terserak di banyak tempat. Mereka inilah yang > > dengan sungguh-sungguh "coming to term" dengan > > tradisi > > NU dengan dua pendekatan sekaligus, pendekata teks > > dan > > konteks. Mereka ini tidak membaca Homi Bhaba, > James > > Clifford, Pierre Bordieau, Michel Foucault, Roland > > Barthes, atau Umberto Eco seperti yang dilakukan > > Baso. > > Kiai Husein, misalnya, hanya berangkat dari > tradisi > > usul fiqh yang ada dan memikirkan ulang tradisi NU > > dengan sungguh-sungguh. Dia memperlakukan tradisi > NU > > sebagai catatan kaki atau malah lebih buruk lagi > > memperalat saja untuk teorinya Gayatri Spivak, > > misalnya. > > > > Stok kiai yang seperti ini jarang sekali. Sudah > > jarang, kurang mendapat tempat yang layak pula. > Yang > > mendapat tempat layak di NU sekarang ini adalah > > kiai-kiai yang hatinya lebih tergerak kalau ada > > pilpres atau pilkada ketimbang kalau ada gagasan > > baru > > muncul. > > > > Masalah ini menjadi lebih parah lagi karena > > sikap-sikap dogmatis dari temen-teman NU sendiri > > (terutama dari kalangan muda) yang memperlakukan > > teman-teman yang berpikir kritis dalam kerangka > > pemikiran keagamaan sebagai "blok ideologis" yang > > serta-merta sama dengan blok neo-liberalisme. Saya > > curiga bagi teman-teman muda seperti ini, > > jangan-jangan tradisi NU dalam bentuk khazanah > > pemikiran yang kaya dan menjulur panjang ke era > > klasik, tak pernah menjadi masalah penting. Bagi > > mereka, ideologi anti-neo liberal jauh lebih > penting > > ketimbang batang tubuh tradisi NU sendiri. Seperti > > saya katakan dalam surat sebelumnya, sikap > ideologis > > dan dogmatis seperti ini sama bahayanya dengan > sikap > > ideologis kaum Islamis fundamentalis. > > > > Dalam jangka ke depan, saya menghendaki NU menjadi > > arena yang kreatif untuk perjumpaan ide-ide di > > kalangan anak-anak muda NU, bukan menjadi > blok-blok > > ideologi. Saya tak menghendaki NU menjadi > > semata-mata > > arena kampanye untuk gagasan liberal keagamaan, > dan > > saya memang tak pernah menginginkan hal itu. Saya > > juga > > tak hendak NU diseret kedalam diskursus ideologi > > kiri > > yang sama sekali tak sehat. Saya menginginkan NU > > menjadi arena yang cair untuk pertemuan ide-ide. > > > > Anjuran saya buat anak-anak muda NU, marilah kita > > membaca kembali dengan serius tradisi intelektual > > NU, > > sebab itulah batang tubuh NU selama ini. Marilah > > kita > > baca kembali Imam Ghazali, al-Baqillani, > > Al-Haramain, > > al-Maturidi; marilah kita baca lagi Imam > al-Junayd, > > al-Qushairi, al-Niffari, dll, dengan > > sungguh-sungguh. > > Kita tidak perlu memaksakan apa hasil akhir dari > > pembacaan itu; yang penting adalah proses > pembacaan > > yang akan menghidupan kembali NU sebagai tradisi > > ilmiah, selain sebagai tradisi kultural. > > > > Ulil > > > > > > > > > > --- Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > Salam Mas Ulil, > > > Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali > mengurus > > > pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah > > terlalu > > > jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga > > > sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU > yang > > > paling bertanggungjawab menggiatkan iklim > keilmuan > > > di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang > > > menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran > > arus > > > politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu > > > kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan > partai > > > politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban > > > dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak > istiqamah > > > saja merawat semangat keilmuan yang sedang > tumbuh > > di > > > kalangan anak muda NU? > > > > > > Wassalam > > > Arif Z > > > > > > > > > > > > ----- Original Message ---- > > > From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> > === message truncated === Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University
