menarik sekali nasehat dari penguasa muda NU ini.
Artinya kita memang harus pula memikirkan
persoalan-persoalan yang menyangkut ekonomi
nahdliyyin.  bukan berarti kita tidak mementingkan
kebangkitan pemikiran anak muda NU, tetapi, sekali
lagi, kebangkitan pemikiran tidak akan berjalan dengan
tenag bila tidak ditopang oleh kekuatan ekonomi
mandiri. bila kita terus menerus mengandalakn
"santunan" dari pihak luar, kapan kita akan bisa
memberdayaakan umat. karena itu, gagasan boz fikri
agar supaya NU memperkuat kembali fondasi ekonominya
perlu kita sambut dengan baik. ingat ! kelompok islam
"yang lain" tidak banyak punya LSM, tapi mereka mampu
merebut (konon) masjid-masjid kita, pesantren kita,
dsb. tapi kita yang punya ratusan LSM yang disupport
dana dari funding itu ternyata hasilnya gitu-gitu
saja. di sinilah kita perlu memikirkan kembali
strtategi gerakan NU yang lebih riel dan mandiri
sehingga bisa mengangkat derajat warga NU.
kira-kira begitulah menurut saya...

Shidqi  
--- akhmad fikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Jaman senantiasa berubah. Pergerakannya kadang jauh
> melampaui apa yang bisa kita duga. Mungkin juga apa
> yang bisa kita rencanakan. Saya pikir,
> gonjang-ganjing Kiai dan Politik hanya salah satu
> bagian saja dari proses panjang sejarah NU sejak
> dulu.
> 
> Di masa lalu, sekurang-kurangnya, ada tiga
> eksperimen ulama yang secara langsung maupun tidak,
> memberi inspirasi bagi berdirinya NU dan sumbangan
> atas wajah NU sekarang ini. Pertama, Berdirinya
> Nahdlatut Tujjar (1918), Tashwirul Afkar (1922) dan
> Nahdlatul Wathon (1924). NT, harus dilihat sebagai
> eksperimen ekonomi para ulama di tengah-tengah
> 'perseteruan' antara SDI dan Kongsi Dagang China di
> tahun-tahun itu. Walaupun pada akhirnya NT gagal
> memberikan jaminan kepada jaringan ulama bahwa
> organisasi ini sekurang-kurangnya dapat menjadi
> balance dari SDI maupun Kongsi Dagang China. TA,
> sebagai eksperimen pemikiran dengan gerakan dan
> program-programnya dewasa ini banyak memberi
> inspirasi tumbuh dan berkembangnya pergerakan
> pemikiran di kalangan NU. NW, sebagai eksperimen
> politik ulama barangkali juga dapat diberi konteks
> keinginan terlibatnya orang-orang pesantren dalam
> pergerakan kemerdekaan saat itu.
> 
> Eksperimen-eksperimen itu, pada sebuah masa pernah
> dilakukan kembali di periode yang berbeda. Kita bisa
> lihat di tahun-tahun 50-60-an wajah NW di NU (baca
> gairah politik) jauh lebih kencang daripada NT dan
> TA. Periode 70-an rasanya sebagai periode malaise
> dalam NU. Hal itu terjadi karena kegagalan para
> politisi NU dalam perebutan pengaruh di PPP, jika
> melihat salah satu sebabnya. Dan, karena itu di
> periode 80-an wacana kembali ke khittah menjadi
> warna dominan sampai menjelang reformasi. Dalam hal
> ini, kita bisa lihat, tradisi pemikiran NU (TA) jauh
> lebih berkembang dari NT maupun NW. 
> 
> Masalahnya, dalam pandangan linear saya, seharusnya
> NU mencoba memperkuat NT lagi di era reformasi.
> Kira-kira begitu. Tapi, kenyataannya kembali lagi NU
> ke model NW. Jadilah politik memainkan peran lebih
> dominan dari kedua eksperimen sebelumnya. Emang sich
> di setiap periode itu, eksperimen ala NT perna
> diujicobakan, baik oleh Subhan ZE dengan gagasan
> ekonomi kerakyatannya maupun Gus Dur dengan beberapa
> eksperimen ekonominya seperti; perikanan, peternakan
> dan perbankan. Hanya semua itu tidak pernah menjadi
> warna dominan dalam NU.
> 
> Jangan-jangan memang NU memang ditakdirkan untuk
> kedua arus saja: pemikiran dan politik. Sementara
> soal-soal ekonomi diserahkan ke orang lain saja yang
> lebih pinter. Buktinya sekarang ini kan yang tengah
> bertarung kedua arus itu. Bahkan, di masing-masing
> arus sendiri, seperti kata Ulil, terjadi pertarungan
> juga. So, kira-kira kapan kita bisa ngomong juga
> soal, misalnya, dirikan BMT kecil-kecilan, atau
> gerakan ekonomi yang menyentuh kepentingan orang
> banyak. Karena, orang-orang NU harus kita akui
> berasal dari sektor ini. Mereka para pelaku ekonomi
> kecil tapi selalu tidak tersentuh dalam perbincangan
> kita.
> 
> So what, gitu loh...!!!
> 
> 
> salam, fikri af.
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Wednesday, May 23, 2007 4:37:14 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> 
> Salam Mas Ulil,
> Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus
> pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah terlalu
> jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga
> sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang
> paling bertanggungjawab menggiatkan iklim keilmuan
> di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang
> menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran arus
> politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu
> kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai
> politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban
> dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak istiqamah
> saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh di
> kalangan anak muda NU? 
> 
> Wassalam
> Arif Z
> 
> ----- Original Message ----
> From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED] net.id>
> To: [EMAIL PROTECTED] s.com
> Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> 
> Mas Ulil,
> Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren
> yang bisa mengajarkan
> kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak
> usah" menunggu restu
> Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh
> adalah tempat yang pas
> untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu.
> Tidak usah menuggu pensiun, Mas.
> Hehehehehehehehe. ..
> 
> salam,
> hamzah
> 
> ----- Original Message -----
> From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com>
> To: <[EMAIL PROTECTED] p s.com>
> Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> 
> > Mas Arief,
> > Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf.
> > Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak
> > kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di
> > lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari
> > diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan.
> Saat
> > masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf
> > amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu
> > "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
> >
> > Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam
> > Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat
> al-Anwar",
> > dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep
> > "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu
> > ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali
> itu
> > tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah
> > melalui "pengalaman mistik" yang mendalam.
> >
> > Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti
> > mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang
> nyaris
> > seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari
> > kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh
> ayah
> > saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang
> boleh
> > membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas.
> > Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya
> > sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada
> siapa
> > saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam
> > ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi
> mistik
> > seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid".
> Memang
> > rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita
> terima
> > dari mulut seorang guru yang sudah menempuh
> "suluk"
> > yang panjang dibanding jika kita hanya membaca
> buku
> > saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang
> > pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa
> lahu
> > syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar
> tanpa
> > panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah
> > yang akan menjadi gurunya.
> >
> > Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama
> > besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman
> > mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu
> dan
> > menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang
> > masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu
> al-hudhuri"
> > itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam
> diri
> > kita jika melalui seorang syaikh, mursyid,
> profesor,
> > atau guru.
> >
> > Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi
> seorang
> > sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata
> > "tradisional" di sini saya mengerti dalam
> pengertian
> > yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan
> dia
> > adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah
> Yusuf.
> > Dia mendirikan sebuah lembaga di California,
> Zaitunah
> > Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz
> Hamzah
> > adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang
> indah
> 
=== message truncated ===



       
____________________________________________________________________________________Be
 a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. 
Yahoo! Answers - Check it out. 
http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433

Kirim email ke