Membaca beberapa tulisan mas Ulil akhir2 ini, saya
agak 'terkeliru' seperti saya melihat wajah dan
costume mas Ulil yang lain. Gumamku :"mungkin mas Ulil
'came back'". Saya tak pasti apakah istilah yang saya
gunakan itu sesuai apa tidak, yang jelas seperti
itulah pandangan saya selama ini. Dan, apakah berarti
saya ketularan cara pandangnya mas Baso? saya kira
tidak.

Saya juga agak terkejut ketika mas Ulil berbicara
tentang tradisi intelektual NU dan Islam klasik. ini
berarti balik kandang, lak iyo toh!(apa ini
klarifikasi? he he)

Selama ini mas Ulil memang dipandang 'seakan'
meninggalkan tradisi, atau istilahnya mas Baso yang
"westernized'. Saya bilang 'seakan' karena kelihatan
kurang konsisten dalam pernyataan-pernyataan
pemikirannya. Gak usah jauh-jauh cari referens. Rujuk
saja beberapa email Mas Ulil dengan pemikiran yang
berbeda-beda di KMNU ini. Dan, Mas Ulil gak usah
'pura-pura' kaget kalau banyak kaum muda NU begitu
'sinis' dengan JIL dan gak mau tahu tentang tema-tema
yang diangkat JIL (yang sebenarnya adalah sangat
progresif) itu. Sekali lagi, apa yang saya bilang ini
adalah kenyataan di lapangan. Saya senditi melihatnya,
terutama ketika dalam diskus yang mengangkat tema yang
berbau 'liberal' mereka pasti cepat2 melabelinya
'sekuler' dll.

Bagi saya, di tengah2 NU yang nota bene tradisionalis
ini memang sangat diperlukan wujudnya sekelompok orang
(apapun namanya) yang selalu komited terhadap
pemikiran Keislaman. Karena dengan demikian dianggap
sebagai penyeru kepada penggalian khazanah intelektual
Islam. Apalagi tradisi Islam klasik yang sering
mencerminkan sosial budaya masa lampau dan karena itu
kini sering dipandang kurang relevans dengan kondisi
sekarang, seperti tafsir2 yang berkaitan dengan isu
sosial atau gender, yang sewaktu-waktu dapat ditinjau
kembali benar salahnya. Realitinya umat Islam lebih
banyakj bersifat tertutup dan nyaris beku dalam
bersikap dan tidak mau menerima pembaharuan
(whatever). Padahal pembaharuan semestinya merupakan
proses terus menerus. 

Namun, mas Ulil gak usah risau. Dengan eksisnya JIL,
Insyallah NU akan menjadi gelanggang untuk
pertembungan ide-ide yang cair dan tidak beku. agaknya
perkembangan dan masa depan pemikiran keislaman di
Indonesia dapat ditentukan oleh dua corak dan pola
hubungan yang terbuka antar kelompok pemikiran ini. 

Salam
Fath

--- Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Arief,
> Mohon maaf jika email ini agak sedikit
> berkepanjangan.
> Saya akan meneruskan email pertama dengan
> menambahkan
> beberapa catatan berikut ini.
> 
> Salah seorang yang memikirkan tradisi NU dan
> mengembangkannya dengan sungguh-sungguh dari sudut
> pemikiran adalah orang-orang seperti Masdar Masudi,
> Kiai Husein Muhammad, dan beberapa teman muda lain
> yang terserak di banyak tempat. Mereka inilah yang
> dengan sungguh-sungguh "coming to term" dengan
> tradisi
> NU dengan dua pendekatan sekaligus, pendekata teks
> dan
> konteks. Mereka ini tidak membaca Homi Bhaba, James
> Clifford, Pierre Bordieau, Michel Foucault, Roland
> Barthes, atau Umberto Eco seperti yang dilakukan
> Baso.
> Kiai Husein, misalnya, hanya berangkat dari tradisi
> usul fiqh yang ada dan memikirkan ulang tradisi NU
> dengan sungguh-sungguh. Dia memperlakukan tradisi NU
> sebagai catatan kaki atau malah lebih buruk lagi
> memperalat saja untuk  teorinya Gayatri Spivak,
> misalnya.
> 
> Stok kiai yang seperti ini jarang sekali. Sudah
> jarang, kurang mendapat tempat yang layak pula. Yang
> mendapat tempat layak di NU sekarang ini adalah
> kiai-kiai yang hatinya lebih tergerak kalau ada
> pilpres atau pilkada ketimbang kalau ada gagasan
> baru
> muncul. 
> 
> Masalah ini menjadi lebih parah lagi karena
> sikap-sikap dogmatis dari temen-teman NU sendiri
> (terutama dari kalangan muda) yang memperlakukan
> teman-teman yang berpikir kritis dalam kerangka
> pemikiran keagamaan sebagai "blok ideologis" yang
> serta-merta sama dengan blok neo-liberalisme. Saya
> curiga bagi teman-teman muda seperti ini,
> jangan-jangan tradisi NU dalam bentuk khazanah
> pemikiran yang kaya dan menjulur panjang ke era
> klasik, tak pernah menjadi masalah penting. Bagi
> mereka, ideologi anti-neo liberal jauh lebih penting
> ketimbang batang tubuh tradisi NU sendiri. Seperti
> saya katakan dalam surat sebelumnya, sikap ideologis
> dan dogmatis seperti ini sama bahayanya dengan sikap
> ideologis kaum Islamis fundamentalis. 
> 
> Dalam jangka ke depan, saya menghendaki NU menjadi
> arena yang kreatif untuk perjumpaan ide-ide di
> kalangan anak-anak muda NU, bukan menjadi blok-blok
> ideologi. Saya tak menghendaki NU menjadi
> semata-mata
> arena kampanye untuk gagasan liberal keagamaan, dan
> saya memang tak pernah menginginkan hal itu. Saya
> juga
> tak hendak NU diseret kedalam diskursus ideologi
> kiri
> yang sama sekali tak sehat. Saya menginginkan NU
> menjadi arena yang cair untuk pertemuan ide-ide. 
> 
> Anjuran saya buat anak-anak muda NU, marilah kita
> membaca kembali dengan serius tradisi intelektual
> NU,
> sebab itulah batang tubuh NU selama ini. Marilah
> kita
> baca kembali Imam Ghazali, al-Baqillani,
> Al-Haramain,
> al-Maturidi; marilah kita baca lagi Imam al-Junayd,
> al-Qushairi, al-Niffari, dll, dengan
> sungguh-sungguh.
> Kita tidak perlu memaksakan apa hasil akhir dari
> pembacaan itu; yang penting adalah proses pembacaan
> yang akan menghidupan kembali NU sebagai tradisi
> ilmiah, selain sebagai tradisi kultural. 
> 
> Ulil
> 
> 
> 
> 
> --- Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > Salam Mas Ulil,
> > Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus
> > pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah
> terlalu
> > jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga
> > sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang
> > paling bertanggungjawab menggiatkan iklim keilmuan
> > di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang
> > menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran
> arus
> > politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu
> > kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai
> > politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban
> > dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak istiqamah
> > saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh
> di
> > kalangan anak muda NU? 
> > 
> > Wassalam
> > Arif Z
> > 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: [email protected]
> > Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM
> > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> > 
> > Mas Ulil,
> > Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren
> > yang bisa mengajarkan
> > kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak
> > usah" menunggu restu
> > Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh
> > adalah tempat yang pas
> > untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu.
> > Tidak usah menuggu pensiun, Mas.
> > Hehehehehehehehe. ..
> > 
> > salam,
> > hamzah
> > 
> > ----- Original Message -----
> > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com>
> > To: <[EMAIL PROTECTED] s.com>
> > Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM
> > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik
> > 
> > > Mas Arief,
> > > Kekayaan besar Islam antara lain adalah
> tasawwuf.
> > > Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh
> banyak
> > > kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di
> > > lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian
> dari
> > > diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan.
> > Saat
> > > masih di pesantren dulu, saya mengalami
> "tasawwuf
> > > amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu
> > > "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi.
> > >
> > > Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam
> > > Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat
> > al-Anwar",
> > > dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas
> konsep
> > > "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali.
> Tentu
> > > ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali
> > itu
> > > tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang
> telah
> > > melalui "pengalaman mistik" yang mendalam.
> > >
> > > Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti
> > > mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang
> > nyaris
> > > seperti sebuah puisi. Saya tak sempat
> mempelajari
> > > kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang
> oleh
> > ayah
> > > saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang
> > boleh
> > > membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke
> atas.
> > > Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya
> > > sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada
> > siapa
> > > saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti
> dalam
> > > ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi
> > mistik
> > > seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid".
> > Memang
> > > rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita
> > terima
> > > dari mulut seorang guru yang sudah menempuh
> > "suluk"
> > > yang panjang dibanding jika kita hanya membaca
> > buku
> > > saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang
> > > pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa
> > lahu
> > > syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar
> > tanpa
> > > panduan seorang "master" atau guru maka
> syaitanlah
> > > yang akan menjadi gurunya.
> > >
> > > Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama
> > > besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari
> pengalaman
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Bored stiff? Loosen up... 
Download and play hundreds of games for free on Yahoo! Games.
http://games.yahoo.com/games/front

Kirim email ke