jum'at mabruk, mas nagan, karena sampeyan nggak pernah mondok jadi analisis sampeyan salah...hehehe kalau anda mengenal almaghfurlah mbah bisri mustofa, almaghfurlah mbah ali maksum, dan almagfurlah mbah ahmad muthohar anda akan tercengang bagaiman karya2 beliau cukup berbobot, mereka bukan orang sekolahan tapi karya2 sangat bagus. dan yg masih hidup adalah mbah sahal (rais 'am PBNU) kalau anda membaca karya2nya sungguh luar biasa... kyai2 NU itu 'cuma' lulusan pesantren tapi tradisi intelektualnya begitu mendarah daging dan menghasilkan karya2 yang sangat bagus. demikian, semoga anda bisa belajar banyak lagi dari kyai2 NU, kalau sempat karena anda 'arek' malang coba sowan ke pak hasyim muzadi (al-hikam) atau ke abah ubaidilah selaku wakil rois syuriah PCNU malang, silakan ngobrol2 masalah kyai2 NU. wassalam, syaikhul
-----Original Message----- From: nagan singosari [mailto:[EMAIL PROTECTED] Sent: Friday, May 25, 2007 8:51 AM To: [email protected] Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik salam, apa yang disampaikan oleh Gus Ulil ada beberapa hal yang ingin saya beri komentar (menurut saya) Dalam NU selama budaya intelektual atau budaya berfikir tidak pernah dijadikan suatu proses budaya NU atau pesantren, budaya itu selama ini hanya berjalan di luar pesantren yaitu dilingkungan perguruan tinggi itupun masih minim, kebanyakan pemikir-pemikir yang dimiliki NU adalah awalnya adalah didikan pesantren tetapi pada akhirnya adalah didikan dari universitas luar negeri seperti mesir, arab saudi,irak dan sebagainya. sehingga sebenarnya adalah sesuatu hal yang muskil kalau budaya intelektual di NU itu diserahkan ke hanya ke pesantren karena mulai awal pendirian sebenarnya (menurut saya) pendirian pesantren adalah hanya untuk memberi bekal keagamaan untuk hidup saja dan tidak dikembangkan sebagai alat untuk pengembangan budaya intelektual dan pesantren juga digunakan sebagai sebuah kegiatan pergerakan atau organisasi dalam hal ini (untuk melawan penjajah dulu) dan hal ini masih membekas dalam jejak-jejak pesantren sekarang sehingga akan mudah sekali untuk digerakkan keperluan politik praktis Jadi sebenarnya tugas kiai di pesantren selama ini itu hanyalah memberikan bekal keagamaan untuk hidup saja dan untuk kepentingan pergerakan (politik) kiainya (tidak semuanya tetapi kebanyakan) Iran atau negara timur tengah tentang budaya intelektual ini adalah mulai berkembang sejak Ibnu Sina dan Asy'ariyyah, sejak Al-Ghazali abad 10 M dan hal itu tetap berlaku sampai sekarang, biarpun pernah mengalami pasang surut. sedangkan di nusantara pada abad 10 M kerajaan singosari belum terbentuk, masih hidup di hutan-hutan dan seterusnya. coba bayangkan sangat ketinggalan Dan pada saat ini sebenarnya budaya intelektual NU tidak berada di pesantren saja tetapi juga ada anak-anak muda NU lulusan-lulusan universitas baik dari luar negeri dan di dalam negeri tentunya. karena sekarang kebanyakan generasi muda NU melanjutkan sekolah di perguruan tinggi setelah lulus dari pondok pesantren. (seperti yang disampaikan Gus Ulil). Dan ada benarnya yang disampaikan Gus Ulil, bahwa budaya NU sendiri tidak memberikan ruang untuk orang-orang yang pandai dan kritis, sehingga bila terjadi perbedaan pendapat maka yang terjadi adalah pengasingan atau sejenisnya, hal ini memang mereka kebanyakan tidak memiliki budaya intelektual. maaf barangkali ini pengamatan yang salah karena saya belum pernah mondok di pesantren sama sekali salam Azam Jurusan Elektro Politeknik Negeri Malang --------------------------------- Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed]
