Mas Shidqi, Anda menyebut Mas Fikri "Penguasa Muda NU" atau "Pengusaha Muda NU"? kayaknya Anda senang menyebut-nyebeut orang dengan identitas tertentu. sebelumnya Anda juga membubuhi nama Anda dengan "NCC Jogja". Mungkin Anda bisa memikirkan lagi sebutan-sebutan itu, barangkali saja ada yang sensi to.
salam, hamzah ----- Original Message ----- From: "ahmad shidqi" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, May 24, 2007 2:20 PM Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > menarik sekali nasehat dari penguasa muda NU ini. > Artinya kita memang harus pula memikirkan > persoalan-persoalan yang menyangkut ekonomi > nahdliyyin. bukan berarti kita tidak mementingkan > kebangkitan pemikiran anak muda NU, tetapi, sekali > lagi, kebangkitan pemikiran tidak akan berjalan dengan > tenag bila tidak ditopang oleh kekuatan ekonomi > mandiri. bila kita terus menerus mengandalakn > "santunan" dari pihak luar, kapan kita akan bisa > memberdayaakan umat. karena itu, gagasan boz fikri > agar supaya NU memperkuat kembali fondasi ekonominya > perlu kita sambut dengan baik. ingat ! kelompok islam > "yang lain" tidak banyak punya LSM, tapi mereka mampu > merebut (konon) masjid-masjid kita, pesantren kita, > dsb. tapi kita yang punya ratusan LSM yang disupport > dana dari funding itu ternyata hasilnya gitu-gitu > saja. di sinilah kita perlu memikirkan kembali > strtategi gerakan NU yang lebih riel dan mandiri > sehingga bisa mengangkat derajat warga NU. > kira-kira begitulah menurut saya... > > Shidqi > --- akhmad fikri <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Jaman senantiasa berubah. Pergerakannya kadang jauh > > melampaui apa yang bisa kita duga. Mungkin juga apa > > yang bisa kita rencanakan. Saya pikir, > > gonjang-ganjing Kiai dan Politik hanya salah satu > > bagian saja dari proses panjang sejarah NU sejak > > dulu. > > > > Di masa lalu, sekurang-kurangnya, ada tiga > > eksperimen ulama yang secara langsung maupun tidak, > > memberi inspirasi bagi berdirinya NU dan sumbangan > > atas wajah NU sekarang ini. Pertama, Berdirinya > > Nahdlatut Tujjar (1918), Tashwirul Afkar (1922) dan > > Nahdlatul Wathon (1924). NT, harus dilihat sebagai > > eksperimen ekonomi para ulama di tengah-tengah > > 'perseteruan' antara SDI dan Kongsi Dagang China di > > tahun-tahun itu. Walaupun pada akhirnya NT gagal > > memberikan jaminan kepada jaringan ulama bahwa > > organisasi ini sekurang-kurangnya dapat menjadi > > balance dari SDI maupun Kongsi Dagang China. TA, > > sebagai eksperimen pemikiran dengan gerakan dan > > program-programnya dewasa ini banyak memberi > > inspirasi tumbuh dan berkembangnya pergerakan > > pemikiran di kalangan NU. NW, sebagai eksperimen > > politik ulama barangkali juga dapat diberi konteks > > keinginan terlibatnya orang-orang pesantren dalam > > pergerakan kemerdekaan saat itu. > > > > Eksperimen-eksperimen itu, pada sebuah masa pernah > > dilakukan kembali di periode yang berbeda. Kita bisa > > lihat di tahun-tahun 50-60-an wajah NW di NU (baca > > gairah politik) jauh lebih kencang daripada NT dan > > TA. Periode 70-an rasanya sebagai periode malaise > > dalam NU. Hal itu terjadi karena kegagalan para > > politisi NU dalam perebutan pengaruh di PPP, jika > > melihat salah satu sebabnya. Dan, karena itu di > > periode 80-an wacana kembali ke khittah menjadi > > warna dominan sampai menjelang reformasi. Dalam hal > > ini, kita bisa lihat, tradisi pemikiran NU (TA) jauh > > lebih berkembang dari NT maupun NW. > > > > Masalahnya, dalam pandangan linear saya, seharusnya > > NU mencoba memperkuat NT lagi di era reformasi. > > Kira-kira begitu. Tapi, kenyataannya kembali lagi NU > > ke model NW. Jadilah politik memainkan peran lebih > > dominan dari kedua eksperimen sebelumnya. Emang sich > > di setiap periode itu, eksperimen ala NT perna > > diujicobakan, baik oleh Subhan ZE dengan gagasan > > ekonomi kerakyatannya maupun Gus Dur dengan beberapa > > eksperimen ekonominya seperti; perikanan, peternakan > > dan perbankan. Hanya semua itu tidak pernah menjadi > > warna dominan dalam NU. > > > > Jangan-jangan memang NU memang ditakdirkan untuk > > kedua arus saja: pemikiran dan politik. Sementara > > soal-soal ekonomi diserahkan ke orang lain saja yang > > lebih pinter. Buktinya sekarang ini kan yang tengah > > bertarung kedua arus itu. Bahkan, di masing-masing > > arus sendiri, seperti kata Ulil, terjadi pertarungan > > juga. So, kira-kira kapan kita bisa ngomong juga > > soal, misalnya, dirikan BMT kecil-kecilan, atau > > gerakan ekonomi yang menyentuh kepentingan orang > > banyak. Karena, orang-orang NU harus kita akui > > berasal dari sektor ini. Mereka para pelaku ekonomi > > kecil tapi selalu tidak tersentuh dalam perbincangan > > kita. > > > > So what, gitu loh...!!! > > > > > > salam, fikri af. > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]> > > To: [email protected] > > Sent: Wednesday, May 23, 2007 4:37:14 PM > > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > > > > Salam Mas Ulil, > > Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus > > pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah terlalu > > jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga > > sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang > > paling bertanggungjawab menggiatkan iklim keilmuan > > di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang > > menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran arus > > politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu > > kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai > > politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban > > dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak istiqamah > > saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh di > > kalangan anak muda NU? > > > > Wassalam > > Arif Z > > > > ----- Original Message ---- > > From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED] net.id> > > To: [EMAIL PROTECTED] s.com > > Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM > > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > > > > Mas Ulil, > > Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren > > yang bisa mengajarkan > > kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak > > usah" menunggu restu > > Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh > > adalah tempat yang pas > > untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu. > > Tidak usah menuggu pensiun, Mas. > > Hehehehehehehehe. .. > > > > salam, > > hamzah > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com> > > To: <[EMAIL PROTECTED] p s.com> > > Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM > > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > > > > > Mas Arief, > > > Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf. > > > Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak > > > kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di > > > lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari > > > diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan. > > Saat > > > masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf > > > amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu > > > "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi. > > > > > > Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam > > > Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat > > al-Anwar", > > > dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep > > > "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu > > > ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali > > itu > > > tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah > > > melalui "pengalaman mistik" yang mendalam. > > > > > > Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti > > > mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang > > nyaris > > > seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari > > > kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh > > ayah > > > saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang > > boleh > > > membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas. > > > Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya > > > sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada > > siapa > > > saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam > > > ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi > > mistik > > > seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid". > > Memang > > > rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita > > terima > > > dari mulut seorang guru yang sudah menempuh > > "suluk" > > > yang panjang dibanding jika kita hanya membaca > > buku > > > saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang > > > pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa > > lahu > > > syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar > > tanpa > > > panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah > > > yang akan menjadi gurunya. > > > > > > Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama > > > besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman > > > mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu > > dan > > > menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang > > > masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu > > al-hudhuri" > > > itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam > > diri > > > kita jika melalui seorang syaikh, mursyid, > > profesor, > > > atau guru. > > > > > > Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi > > seorang > > > sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata > > > "tradisional" di sini saya mengerti dalam > > pengertian > > > yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan > > dia > > > adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah > > Yusuf. > > > Dia mendirikan sebuah lembaga di California, > > Zaitunah > > > Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz > > Hamzah > > > adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang > > indah > > > === message truncated === > > > > > ____________________________________________________________________________ ________Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from someone who knows. Yahoo! Answers - Check it out. > http://answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545433 > > > ______________________________________________________________________ > http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir da n KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. > ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: > [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > -- > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.467 / Virus Database: 269.7.7/816 - Release Date: 5/23/2007 3:59 PM > >
