Mas Arief, Mohon maaf jika email ini agak sedikit berkepanjangan. Saya akan meneruskan email pertama dengan menambahkan beberapa catatan berikut ini.
Salah seorang yang memikirkan tradisi NU dan mengembangkannya dengan sungguh-sungguh dari sudut pemikiran adalah orang-orang seperti Masdar Masudi, Kiai Husein Muhammad, dan beberapa teman muda lain yang terserak di banyak tempat. Mereka inilah yang dengan sungguh-sungguh "coming to term" dengan tradisi NU dengan dua pendekatan sekaligus, pendekata teks dan konteks. Mereka ini tidak membaca Homi Bhaba, James Clifford, Pierre Bordieau, Michel Foucault, Roland Barthes, atau Umberto Eco seperti yang dilakukan Baso. Kiai Husein, misalnya, hanya berangkat dari tradisi usul fiqh yang ada dan memikirkan ulang tradisi NU dengan sungguh-sungguh. Dia memperlakukan tradisi NU sebagai catatan kaki atau malah lebih buruk lagi memperalat saja untuk teorinya Gayatri Spivak, misalnya. Stok kiai yang seperti ini jarang sekali. Sudah jarang, kurang mendapat tempat yang layak pula. Yang mendapat tempat layak di NU sekarang ini adalah kiai-kiai yang hatinya lebih tergerak kalau ada pilpres atau pilkada ketimbang kalau ada gagasan baru muncul. Masalah ini menjadi lebih parah lagi karena sikap-sikap dogmatis dari temen-teman NU sendiri (terutama dari kalangan muda) yang memperlakukan teman-teman yang berpikir kritis dalam kerangka pemikiran keagamaan sebagai "blok ideologis" yang serta-merta sama dengan blok neo-liberalisme. Saya curiga bagi teman-teman muda seperti ini, jangan-jangan tradisi NU dalam bentuk khazanah pemikiran yang kaya dan menjulur panjang ke era klasik, tak pernah menjadi masalah penting. Bagi mereka, ideologi anti-neo liberal jauh lebih penting ketimbang batang tubuh tradisi NU sendiri. Seperti saya katakan dalam surat sebelumnya, sikap ideologis dan dogmatis seperti ini sama bahayanya dengan sikap ideologis kaum Islamis fundamentalis. Dalam jangka ke depan, saya menghendaki NU menjadi arena yang kreatif untuk perjumpaan ide-ide di kalangan anak-anak muda NU, bukan menjadi blok-blok ideologi. Saya tak menghendaki NU menjadi semata-mata arena kampanye untuk gagasan liberal keagamaan, dan saya memang tak pernah menginginkan hal itu. Saya juga tak hendak NU diseret kedalam diskursus ideologi kiri yang sama sekali tak sehat. Saya menginginkan NU menjadi arena yang cair untuk pertemuan ide-ide. Anjuran saya buat anak-anak muda NU, marilah kita membaca kembali dengan serius tradisi intelektual NU, sebab itulah batang tubuh NU selama ini. Marilah kita baca kembali Imam Ghazali, al-Baqillani, Al-Haramain, al-Maturidi; marilah kita baca lagi Imam al-Junayd, al-Qushairi, al-Niffari, dll, dengan sungguh-sungguh. Kita tidak perlu memaksakan apa hasil akhir dari pembacaan itu; yang penting adalah proses pembacaan yang akan menghidupan kembali NU sebagai tradisi ilmiah, selain sebagai tradisi kultural. Ulil --- Arief Zamhari <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Salam Mas Ulil, > Saya sependapat bahwa Kyai harus kembali mengurus > pesantrennya. Memang, sebagian mereka sudah terlalu > jauh bergelut dengan dunia politik. Saya juga > sependapat Gus Dur semasa menjadi Ketua PB NU yang > paling bertanggungjawab menggiatkan iklim keilmuan > di kalangan anak muda NU. Tapi Gus Dur juga yang > menarik-menarik Kyai Pesantren ke dalam pusaran arus > politik seperti sekarang. Mohon saya diberitahu > kenapa Gus Dur dulu berinisiatif mendirikan partai > politik? Saya selama ini belum menemukan jawaban > dari pertanyaan ini. Kenapa beliau tidak istiqamah > saja merawat semangat keilmuan yang sedang tumbuh di > kalangan anak muda NU? > > Wassalam > Arif Z > > > > ----- Original Message ---- > From: lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, May 23, 2007 1:32:49 PM > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > > Mas Ulil, > Kalau Anda bener-bener niat mendirikan pesantren > yang bisa mengajarkan > kekayaan mistik, kayaknya saya yakin bisa. "Tidak > usah" menunggu restu > Allah. Bersegeralah! Usul saya, Kajen atau Leteh > adalah tempat yang pas > untuk mewujudkan cita-cita Anda yang mulia itu. > Tidak usah menuggu pensiun, Mas. > Hehehehehehehehe. .. > > salam, > hamzah > > ----- Original Message ----- > From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED] com> > To: <[EMAIL PROTECTED] s.com> > Sent: Tuesday, May 22, 2007 10:42 PM > Subject: Re: [kmnu2000] Kiai dan Politik > > > Mas Arief, > > Kekayaan besar Islam antara lain adalah tasawwuf. > > Sedih sekali kekayaan ini dicaci-maki oleh banyak > > kalangan Islam sendiri. Karena saya tumbuh di > > lingkungan pesantren, tasawwuf menjadi bagian dari > > diri saya yang tak pernah bisa saya tinggalkan. > Saat > > masih di pesantren dulu, saya mengalami "tasawwuf > > amali", sekarang saya mengalami fase lain, yaitu > > "tasawwuf fikri". Dua-duanya saling melengkapi. > > > > Figur yang saya kagumi, antara lain, adalah Imam > > Ghazali. Saya membaca berkali-kali "Misykat > al-Anwar", > > dan tak pernah bosan. Imam Ghazali mengupas konsep > > "Cahaya Tuhan" dengan sangat memikat sekali. Tentu > > ulasan seperti yang dilakukan oleh Imam Ghazali > itu > > tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang yang telah > > melalui "pengalaman mistik" yang mendalam. > > > > Hingga sekarang ini, saya tak pernah berhenti > > mengagumi dan menghayati Kitab al-Hikam yang > nyaris > > seperti sebuah puisi. Saya tak sempat mempelajari > > kitab ini di pesantren dulu, karena dilarang oleh > ayah > > saya, sebab saya belum cukup umur. Konon, orang > boleh > > membaca kitab ini kalau sudah berumur 40 ke atas. > > Sekarang saya membaca sendiri, meskipun saya > > sebetulnya ingin mencari seorang "guru" kepada > siapa > > saya bisa mengkaji kitab ini. Tidak seperti dalam > > ilmu-ilmu sekuler, "pengetahuan" dalam tradisi > mistik > > seharusnya diajarkan melalui seorang "mursyid". > Memang > > rasanya sungguh lain jika ajaran tasawwuf kita > terima > > dari mulut seorang guru yang sudah menempuh > "suluk" > > yang panjang dibanding jika kita hanya membaca > buku > > saja. Karena itu, saya bisa memahami ajaran yang > > pernah saya terima di pesantren dulu, "man laisa > lahu > > syaikh fasyaikhuhu syaithan," siapa yang belajar > tanpa > > panduan seorang "master" atau guru maka syaitanlah > > yang akan menjadi gurunya. > > > > Tahun lalu, saya belajar tasawwuf sejumlah agama > > besar: Kristen, Hindhu dan Budha. Dari pengalaman > > mengambil kelas itulah saya kemudian menjadi tahu > dan > > menghayati sendiri bahwa belajar pengetahuan yang > > masuk dalam kategori "irfan" atau "al-ilmu > al-hudhuri" > > itu akan lebih "cespleng" dan meresap ke dalam > diri > > kita jika melalui seorang syaikh, mursyid, > profesor, > > atau guru. > > > > Selain Sykeh Hisyam Kabbani, saya mengagumi > seorang > > sarjana Muslim "tradisional" lain di Amerika (kata > > "tradisional" di sini saya mengerti dalam > pengertian > > yang diberikan oleh Seyyed Hussein Nasr) kebetulan > dia > > adalah seorang muallaf. Namanya Ustaz Hamzah > Yusuf. > > Dia mendirikan sebuah lembaga di California, > Zaitunah > > Institute. Salah satu sumbangan penting Ustaz > Hamzah > > adalah mengenalkan tradisi membaca Burdah yang > indah > > itu di kalangan Muslim di Amerika. Dia telah > > menerjemahkan puisi Burdah itu ke dalam bahasa > > Inggris, dan memproduksi rekaman bacaan Burdah > yang > > dilakukan oleh sebuah kelompok mistik dari Maroko. > > Saya menikmati benar pembacaan Burdah a la Maroko > itu. > > Ada aspek penting yang perlu saya gari-bawahi di > sini: > > saat saya mendengarkan lantunan Burdah a la Maroko > > itu, ada "nuansa" musikal yang berbeda dengan saat > > saya mendengarkan nasyid-nasyid yang lazim dikenal > di > > kalangan PKS. Saya pernah lama bergaul dengan > > lingkungan semacam PKS itu, tetapi saya tak pernah > > bisa mencintai nasyid mereka. Jiwa saya tak ada di > > sana. Saya lebih mencintai Burdah dan Barzanji. > > Perhatikan ritme bait Burdah yang sangat populer > di > > kampung-kampung ini: > > > > Ya rabbi bil mustafa balligh maqasidana > > Wa-ghfir lana ma mada ya wasi' al-karami > > > > Huwa al-habib al-ladzi turja syafa'atuhu > > Likulli haulin min al-ahwali muqtahimi > > > > Masing-masing suku kata dalam bait itu mewakili > ritme > > "naik-turun" , menggambarkan sebuah konsep sentral > > dalam tradisi tasawwuf, yaitu "khauf dan raja'" > (takut > > dan berharap), qabd dan bast (mengkerut > mengembang), > > inqibad dan inbisat, dst. Ritme naik-turun ini > yang > > tak saya jumpai dalam nasyid-nasyid PKS. Suasana > > nasyid umumnya tragis dan menyedihkan, seolah-olah > > ingin meratapi terus-menerus kekalahan Islam. > > > > Terakhir, menurut saya, pesantren sekarang ini > kurang > > menghargai tradisi tasawwuf secara memadai, baik > > tasawwuf amali atau tasawwuf fikri. Setahu saya, > tak > > ada satu pesantren pun yang mengajarkan al-Risalah > > al-Qusyairiyyah, misalnya. Kitab al-Hikam memang > > diajarkan, tetapi tidak cukup luas. Tetapi kita > masih > > beruntung karena Ihya diajarkan secara luas sekali > di > > pesantren-pesantren NU. Saya masih berharap suatu > > ketika ada seorang kiai yang mengajarkan Fusus > > al-Hikam karya Ibn Arabi seperti para ayatullah di > > Iran masih terus mengajarkan kitab ini hingga > > sekarang. Akan lebih baik lagi jika suatu ketika > ada > > yang mengajarkan pula karya Al-Suhrawardi, "Hikmat > > al-Isyraq" atau karya Mulla Sadra, "Iksir > al-Arifin". > > Akan lebih indah lagi kalalu suatu ketika > puisi-puisi > > Masnawi-nya Mawlana Jalaluddin Rumi diajarkan di > > pesantren, dibarengi dengan tarian darwish yang > > berasal dari tarekat Mawlawiyyah. Aduh, saya bisa > > "mabuk" kalau sudah membaca karya-karya misik > besar > > ini. Ini adalah kekayaan yang dahsyat sekali. Saya > > ingin arah pesantren ke depan adalah semacam itu: > > menggali khazanah Islam yang begitu kaya, termasuk > di > > bidang tasawwuf. > > > > Suatu saat, saya bermimpi mendirikan pesantren > yang > === message truncated === Ulil Abshar-Abdalla Department of Religion Boston University
