Salam Untuk kawan-kawan yang tidak sempat baca www.nu.or.id Saya sertakan juga respon atas pernyataan KH. Ma'ruf Amin.
salam, hamzah KH Ma'ruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU Ahad, 9 Desember 2007 11:09 Jakarta, NU Online Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin mengeluhkan masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam kepengurusan NU. Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU. "Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Ma'ruf Amin kepada NU Online di rumahnya, Ahad (9/12). Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU sendiri pun kini dipertanyakan. "Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar. NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai Ma'ruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya. Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun 1926. Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih. Menurut Kiai Ma'ruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan. "Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong, agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat bahaya," tegas kiai Ma'ruf. (sbh) « Kembali ke arsip Warta -------------------------------------------------------------------------------- Komentar: -------------------------------------------------------------------------------- fatchan menulis: mas/pak Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin.. pertama, saya minta maaf apabila ada kesalahan dalam kjomentar saya itupun kalau komentar ini diperbolehkan untuk ditampilkan secara umum... kedua, perlu bapak sadari karena saya sudah menganggap bapak sangat tahu, bahwasanya langkah yang bapak dan mas2x yang lain lakukan untuk mendirikan PKNU tersebut adalah sebuah langkah yang mana memperhitungkan tempat untuk menampung orang2x yang dikeluarkan dari PKB (yang dimenangkan kubu mbah GUS DUR), dan tanpa anda sadari bahwa hal tersebut dapat membuat masyarakat yang PRO dan KONTRA saling adu jotos yg tidak lain dari kalangan orang2x NU sendiri, dan membuat masyarakat NU kalangan bawah itu sendiri terpecah meskipun samean semuanya tidak merasakannya di kalangan atas (baca radar banyuwangi edisi jum'at ini tentang perebutan kantor PKB). ketiga, bahwasanya PKNU bisa muncul karena penerimaan atas ke-SEKULERAN yang ada didalam NU sendiri, yang mana PKNU tidak akan diterima oleh masyarakat NU apabila di dalam NU sendiri tidak ada / tidak diperbolehkannya sebuah paham ke-SEKULAERAN. ke empat, dan tentang komentar anda ini : "Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah dipertanyakan statusnya," komentar anda tersebut sangatlah kami sayangkan mengingat MUI kali ini sangatlah tidak menghormati organisasi ataupun golongan yang ada di dalam masyarakat dengan "sa'enake dewe" mengeluarkan fatwa menyesatkan bagi organisasi ataupun golongan2x di masyarakat dewasa ini, dan sayangnya MUI hanya sebatas mengeluarkan fatwa dan tidak menindak lanjuti hal tersebut (karena dibeberapa daerah masih banyak kantor2x AHMADIYAH yang belum di larang) dan hal ini sangatlah tidak sesuai mengingat MUI langsung menagkap pimpinan AL-QIYADAH tetapi tidak untuk AHMADIYAH dan yg lainnya, dan menurut kami MUI tidak menghormati HAM dan juga tidak melaksanakan falsafah bangsa "BHINEKA TUNGGAL EKA" mengingat MUI berada dalam struktur pemerintah indonesia. apakah itu yang anda sebut-sebut "AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH"..???? mohon maaf apabila ada kata2x kami yang salah, wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu alaikum wr. wb. *penulis adalah alumni santri AL_HIKAM malang dan juga anggota PCNU banyuwangi. -------------------------------------------------------------------------------- fahmiy menulis: Setuju Pak Kiyai. musnahkan virus liberal yang sekarang menjangkiti tubuh NU sampai ke akar-akarnya. agar NU kembali kepada semangat awal pendiriannya. -------------------------------------------------------------------------------- Yusuf Suharto menulis: Terjebak Istilah? Kiai,ada beberapa hal yang belum menjadi jelas dalam pernyataan Njenengan. 1. Apa makna liberal bagi Kiai Ma'ruf? samakah ukuran makna Liberal Kiai dengan orang atau pengurus yang dimaksud? Gus Dur sendiripun ketika ditanya apakah beliau berpikiran liberal, beliau tidak mengakuinya. dalam SIKI ( Studi Intensif Kristen Islam di GKJW Malang, Gus Dur menolak ketika dirinya disebut sebagai orang yang berpaham liberal. "Pengertian saya mengenai liberal itu adalah permisif apa saja boleh. "Kalau muslim yang betul tidak mungkin jadi Liberal, tapi toleran," tegas Gus Dur. "Menurut pandangan saya, saya orang yang god centred, seorang yang berpusat pada Tuhan. Sedang liberal itu adalah anthropocentris philosopy," tambah Gus Dur. 2. Pengurus atau orang NU yang "liberal" itu di Kepengurusan tingkat apa? 3. Ketika urusan istilah belum selesai, saya rasa akan ( dan sudah ) ada pengkutuban yang tidak sehat. Seperti, NU yang amat getol ber Aqidah dan berfiqih secara ketat disebut Konservatif puritan, yang sebaliknya dianggap liberal. 4.Kiai,mohon tidakbergurau dengan mengatakan,NU gkj elas ke Aswajaan nya.Di MUI apa mesti sudah sangat jelas? Individunya kan juga dari beragam Ormas. Apalagi pikirannya?! wassalam [EMAIL PROTECTED] Jombang -------------------------------------------------------------------------------- arif firmansyah menulis: Ass.Wr.Wb. Kesadaran kembali NU untuk melihat internal organisasinya dari berbagai virus yang berbahaya pengusung paham SiPiLis (sebagai ideologi TransNasional yang negatif dan berbahaya)merupakan langkap positif yang tentu akan disambut hangat oleh generasi muda NU yang menginginkan NU 'bersih' kembali. Jelas tidak terbayang dalam benak Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ariy sebagai pejuang Syari'ah Islam mewariskan NU kepada generasi sesudah beliau harus terinfiltrasi virus ganas. Maka dari itu harus ada langkah taktis dan strategis menyelamatkan NU. Sebagai usulan, yang harus segera diselamatkan adalah para kader muda NU terutama di kampus dan pesantren sebagai penerus pengurus NU dan penjaga paham Aswaja ini dengan mempertajam pemahaman Aqidah dan Syari'at Islam secara kaaffah melalui training intensif dan pembelajaran lainnya yang berkesinambungan. Kedua, membuat mekanisme filterisasi pemikiran Islam yang bermuatan SiPiLis (sebagai ideologi TransNasional yang negatif dan berbahaya)segera dianulir dan disiapkan legal-counternya. Ketiga, Sosialisasi ke akar rumput NU mengenai apa, bagaimana sejarah buruk pemikiran SiPiLis(sebagai ideologi TransNasional yang negatif dan berbahaya) dalam perspektif Syari'at Islam sehingga Umat di akar rumput bisa terjaga selalu. Wallahu A'alaam Bi Ash-Showab Wassalamu'alaikum Wr.Wb. -------------------------------------------------------------------------------- khoirudin mustofa menulis: sepakat dengan apa yang sebut oleh KH. MA'ruf amin. SEbaiknya pula NU kembali pada khitthah 1926. yang seperti info yang saya dapatkan, kelahiran NU pada waktu itu untuk menyikapi runtuhnya khilafah Turki Utsmani. Mungkin, pendiri NU ingin memperjuangkan Khilafah. Perjuangkan Khilafah yo! -------------------------------------------------------------------------------- hasan menulis: Pak Kyai, hati2 tuh dengan tokoh2 generasi NU yang belajar Agamanya pada di Amerika, beasiswanya pada dari mana???, kalo nanti pada lulus yang pasti menjadi pengikut setia yang ngasih beasiswa belajarnya, gak bedanya "......." yang akan selalu setia kpd yang ngasih makan (tuannya)..... -------------------------------------------------------------------------------- Nurisk menulis: Setuju pak Kyai, memang faham liberalisme dan sekularisme sekarang ini harus mendapat porsi perhatian yang lebih dari para kyai dan ulama NU. Sekedar saran untuk NU; pertama, sebelum pembersihan dari faham sekularisme dan liberalisme, masalah ini harus dibahas terlebih dahulu dalam Bahtsul Masail Diniyah. Hasil dari keputusannya harus disosialisasikan pada seluruh ortonom underbow NU. Ingat, Lakpesdam NU adalah salah satu pusat dari faham yang membahayakan ini. kedua, perekrutan kepengurusan Nu harus melewati uji "fit and proper test" untuk menguji cara berfikir pengurus dari faham-faham yang semakin aneh di masyarakat sekarang-sekarang ini. Uji kemampuan tersebut bisa dimulai dari tingkat pengurus Pimpinan Besar (tingkat pusat) dan selanjutnya ke tingkat wilayah dan ortonom di bawahnya, hingga tingkat anak cabang. Demikian usul kami, semoga NU; pengurus dan warganya terhindar dari hal-hal yang bathil yang semakin berkembang di masyarakat sekarang ini... Amin. -------------------------------------------------------------------------------- didik menulis: Setuju dengan sikap KH.Ma'ruf Amin yang berhati2 sebelum paham itu berkembang diNU yang pada akhirnya sulit dibendung. Semoga Alloh SWT Menjaga keistiQomahan Beliau.amin -------------------------------------------------------------------------------- Khamdan menulis: Klaim sesat menyesatkan bukanlah cermin ajaran yang berinti induk pada Ahlussunnah wal Jama'ah..karena pada masa Nabi, sahabat, dan Kaum penerus selanjutnya, perbedaan pendapat telah mewarnai cara pandang persoalan umat. Terkait liberalisme yang menjadi "TERLARANG" oleh MUI, perlu mendapatkan pemahaman jelas definisi, karakteristik, patokan, dan aspek lainnya..jangan-jangan hanya karena beda, langsung aja menyesatkan orang lain... Nah lo, surga milik siapa???? -------------------------------------------------------------------------------- Miftah (Warga NU) menulis: Salam... Janganlah pada sok merasa paling Aswaja!! Janganlah pada sok merasa paling Khittah NUnya!! Marilah kita berkaca pada diri sendiri!! Sudahkah kita melaksanakan apa yang kita omongkan kepada orang lain??? Setahu saya seseorang ketika menjabat sebagai penasehat presiden dia harus menanggalkan jabatan lain. Pak KH MA kok jabatan penasehat presiden di terima tapi kemana-mana ngomong masih atas nama MUI. Jabatan Rais PBNU masih di sandang, tapi kok masih getol berpolitik praktis dengan ikut PKNU?? Apakah ini akhlak Aswaja?? Apakah ini Khittah NU?? Maaf buat para elit yang menjadi uswah umat di bawah. -------------------------------------------------------------------------------- sejati menulis: InsyaAllah, untuk para kyai dan ustad yang mulia, kami, kaum muslimin berada di belakang Anda sekalian, untuk memberangus liberalisme yang ada di tubuh NU...Memang NU, harusnya memakai ISLAM TULEN bukan Liberalisme...gak pantes liberalisme berada di tubuh para ulama..bukan tempatnya!!! -------------------------------------------------------------------------------- muhammad ghufron (warga nu mbantul) menulis: salam. kiai satu ini gimana seh? apa maunya? pernyataan anda tidak jelas! tidak ilmiah, tidak bisa dipertanggungjawabkan. bahkan mendekati fitnah! pertama, saya cukup menyesal anda mengeluarkan statement bahwa ada pengerus NU itu ada yang liberal. liberal itu apa? siapa yang liberal? harus jelas donk! kecuali statement anda hny fitnah belaka!menurut saya, yang liberal itu anda! karena anda mengambil semuanya dengan bebas tanpa malu. penasehat presiden diambil, pknu dilakoni, syuriah nu dijalani, syariah dipek! ini apa-apaan. ngaca dong-ngaca! kedua, bahwa mui paling aswaja ketimbang nu. itu pernyataan yang ngawur, tak berilmu! anda syuriah nu kok bilang begitu! kata orang jogja, anda itu waton nggambleh! kenapa demikian? jawabnya lagi-lagi, harus diuji secara ilmiah! menurut saya anda wajib tabayun ke pbnu, dan dskusi secara ilmiah. biar tidak terjadi fitnah. saya tidak ridho, organisasi saya ini jadi buruk rupa gara-gara orang yang tidak jelas. terakhir, kenapa NU ONLINE memuat berita yang bikin kacau begini! tidak cerdas sama sekali! akhirul kalam, semoga NU terhindar oleh ulama su`, ulama yang hubbur riyasah, hubbud dunnya.... terima kasih. salam dari jogja muhammad gifron, warga nu mbantul [Non-text portions of this message have been removed]
