Gus Ulil,

Berikut wawancara kawan2 NU Mesir dengan Alm. KH. Dawam Anwar, Katib 'Am 
PBNU tahun 2000an (?), menanggapi ide-ide Said Aqiel. Mungkin agak sama 
dengan tanggapan KH. Ma'ruf Amin terhadap liberalisme.

Dan Ide-ide Said Aqiel tentang Aswaja sekarang ini seperti sudah biasa. Dan 
mungkin bagi sebagian kalangan sudah kedaluarsa. Sebagian ide-ide 
liberalisme suatu ketika nanti juga akan diterima.

============

Konsep Tawasuth Versi NU



Sehabis sholat Isya, Abdullah Nasiruddin dan Syarif Abu Bakar dari AFKAR
mengunjungi KH. Dawam Anwar, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Kasysyaf Tambun
Bekasi di kediamannya di Hay Asyir. Tokoh yang merupakan Katib Am PBNU Pusat
ini berbicara panjang lebar tentang konsep yang di anut NU dalam berpolitik
dan tanggapan terhadap berbagai macam ide-ide yang kontroversial yang di
lontarkan tokoh reformis NU Dr.KH. Said Aqil Siroj (Katib PB NU Pusat)

Dr. Said Aqil menyatakan bahwa doktrin politik NU selama ini adalah menjauhi
anarki (fitnah), apakah ini benar?

Pernyataan beliau tsb tidak proposional dan mengada-ngada, justru NU lah
yang banyak berperan aktif dalam upaya meredam berbagai macam gejolak anarki
yang terjadi pada masyarakat, bukti kongkritnya ketika jaman revolusi, NU
mengeluarkan resolusi jihad dalam usaha menumpas gerakan G-30 S PKI jadi
bukan hanya menjauhi anarki sebagai mana yang beliau nyatakan atau yang di
sebutkan oleh Masyumi hanya nunut urip (menyambung hidup ) akan tapi Doktrin
NU yang lebih tepat adalah bertindak tepat dan proporsional.

Beliau juga mengatakan seharusnya doktrin tersebut lebih di kembangkan lagi
berdasarkan sikap positif atas realitas sosial politik, yakni upaya
mengedepankan prinsip demokrasi dan HAM serta penegakan keadilan dan hukum?

Yang perlu di tekankan di sini model demokrasi yang bagaimana ? apakah
demokrasi yang didengungkan oleh barat yaitu dengan liberalnya atau format
demokrasi yang lain. Di sini perlu di tegaskan dan di rumuskan kembali,
jangan-jangan bertentangan dengan Demokrasi Pancasila yang di anut oleh
pemerintah selama ini. Juga mengenai hukum, apakah meniru model hukum barat
yang justru membuat kacau umat Islam karena mereka telah mempraktekkan hukum
tersebut, mengapa beliau tidak menyinggung hukum yang telah di rumuskan oleh
Islam, justru kalau kita mempraktekkan hukum Islam secara konsekwen maka
berbagai macam tindakan kriminalitas itu akan teredam

Tapi konsep tawassut yang di anut NU selama ini ternyata meniru yang di
rumuskan Asy'ari, Al- Baqilani, alias tiru-tiruan?

Bukan begitu ! sebenarnya NU tidak mengarah kesana, bahkan konsep tawassut
tersebut sudah lama di pegang NU sejak masih bergabung bersama Masyumi dan
itu merupakan hasil kongres para ulama dahulu, sekarang maunya Said itu
bagaimana sih ?, apa kalau kita mengadopsi dari sana engga boleh ? Apa
lantas kita engga boleh mengambil dari ihya ? enak saja, jadi NU itu tidak
akan bertindak ekstrim sebagai-mana dilakukan Masyumi yang akhirnya di
bubarkan karena melakukan tindakan ekstrim. Jadi NU masih tetap dengan
semboyannya ud'u ila sabili robbik

Ternyata yang menjadi pegangan NU selama ini adalah fiqh syiasinya
al-Mawardi dengan al-Ahkam Assultoniah-nya?

Saya kira itu bukan satu-satunya masih banyak lagi kitab-kitab yang menjadi
pegangan NU dan ini bukan masalah, jadi kalau NU semata-mata mengambil Fiqih
syiasinya dari Mawardi ini tidak etis sekali dan seolah -olah memojokan NU,
justru yang lebih tepat NU mengambil dari Al-Quran dan Al-Hadist, sedangkan
Al-mawardi sebagian kecil saja yang menukil dari Al-quran dan Al-hadist dan
secara kebetulan sesuai dengan NU.

Bagaimana tanggapan kalangan elite NU khususnya para kiai terhadap ide-ide
kontroversial yang di loncarkan Said Aqil tersebut?

Oh.. beliau mendapatkan protes dari mana-mana khusus-nya waktu NU
melaksanakan Halaqoh Ahli Sunnah Waljamaah yang pertama, beliau men-dapatkan
hujatan yang keras bahkan sampai di daerah- daerah dan ada juga yang terang
terangan meminta supaya beliau di copot saja dari jabatannya.

Lalu bagaimana reaksi dari kalangan muda NU sendiri?

Sebagian besar membela kebijaksanaan NU yang dahulu (kaum sarungan), tapi
ada juga yang mendukung berbagai macam ide tersebut (golongan mahasiswa )
termasuk Ketua PMII Wilayah Jawa Timur yang mendukung pernikahan kontrak,
yang di protes oleh ulama termasuk KH. Ali Yafie walaupun dia sekarang tidak
lagi menduduki jabatan di PB. Kemungkinan karena kurang nya ilmu pengetahuan
keislaman para mahasiswa itulah sehingga mereka mendukung ide-idenya dan
karena memang enak loo... juga karena biar keliatan keren apalagi yang
bicaranya doktor.

Benarkah konsep jalan tengah yang ditawarkan NU selama ini hanya sebatas
dalam rangka menjaga harmoni?

Ini tidak benar, dalam muktamar NU tidak ada yang menyatakan keputusan tsb
(hanya menjaga harmoni ) ini mungkin hanya rekayasa said saja dan ini sangat
bid'ah sekali. Sebenarnya NU tetap melaksanakan ud'u ila sabili robika dan
jalan tengah tersebut harus kita tempuh, apa kita mau menempuh yang tatorrup
yasari atau yamini ? seharusnya dijelaskan bagusnya yang bagaimana? bukan
hanya sekedar menafsiri Khittoh kita yang di pakai oleh NU terus
disimpulkanseolah-olah negatif.



----- Original Message ----- 
From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>; "Islam Liberal" 
<[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Monday, December 17, 2007 7:59 PM
Subject: [kmnu2000] Mungkinkah "memberangus" pemikiran Islam liberal? --  
Surat untuk KH. Ma'ruf Amin


> Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
> Beberapa waktu lalu, KH. Ma'ruf Amin menyatakan bahwa
> NU harus dibersihkan dari pemikiran Islam liberal.
>
> Memang, arus "puritanisasi" dalam NU sekarang ini
> sedang berkembang, seturut dengan perkembangan serupa
> yang juga berlangsung di luar. Gejala puritanisasi NU
> hanyalah gema dari gejala lebih luas yang berkembang
> di masyarakat Islam Indonesia saat ini.
>

Kirim email ke