Mas Arif,
Menjadi Muslim, jika kita ikuti ajaran Nabi
sebagaimana adanya sebelum dibuat rumit oleh perbedaan
mazhab dan sekte, sebetulnya sederhana sekali.

Nabi didatangi seorang Arab badui, dan kemudian Si
Badui ini bertanya apa itu Islam. Nabi menjelaskan
definisi Islam begitu sederhana: Iman kepada Allah dan
RasulNya, dan tak berzina. Mendengar Islam begitu
sederhana, Si Badui bertanya keheranan, "Terus apa
lagi?" Nabi tak menambahkan hal lain lagi. Si Badui
masih mendesak lagi, "Terus apa lagi?" Nabi tetap tak
menambahkan hal lain lagi. Si Badui itu akhirnya
berlalu, puas, karena menjadi Muslim sangat mudah
sekali.

Di lain kesempatan, Nabi mengatakan bahwa
menyingkirkan  "al-Adza" atau gangguan dari tengah
jalan, adalah sebagian dari cabang iman.

Pada kesempatan yang lain lagi, Nabi menegaskan
tentang pentingnya mengendalikan diri, jangan cepat
marah. Anjuran itu diulang-ulang oleh beliau hingga
tiga kali. 

Seorang tak akan disebut beriman kepada Allah dan
RasulNya kecuali jika ia memuliakan tamu-tamu yang
singgah di rumahnya, kata Nabi. 

Seseorang tak akan disebut beriman kecuali jika
terhadap orang lain ia melakukan segala sesuatu yang
ia suka orang lain itu melakukannya terhadap dirinya,
kata Nabi pula. Kalau engkau suka orang lain berbuat
baik kepadamu, maka perbuatlah hal serupa pada dia.
Sebaliknya, jika orang lain tak suka memakimu,
janganlah engkau memaki pula. "Try to be in the
other's shoe," kata orang Inggris.

Sebagaimana kata Kang Jalal, Islam itu pertama-tama
adalah sikap hati, sikap hidup, dan etika sehari-hari.
Dengan kata lain: AKHLAK. Tentu dengan landasan iman
yang sederhana: iman kepada Allah dan RasulNya. Kang
Jalal mengatakan, dahulukan akhlak sebelum fikih. Saya
setuju sekali dengan himbauan itu.

Umat Islam saat ini benar-benar perlu merenungkan
hadis Nabi yang sudah saya sebut di atas itu, "La
yu'minu ahadukum hatta yuhibba li akhihi ma yuhibbu li
nafsihi". Ini pedoman hidup sederhana tetapi sangat
mendalam pengertiannya. 

Menjadi Muslim liberal sebagaimana saya pahami, sangat
sederhana sekali: menjalankan rukun iman dan Islam,
serta bertindak secara etis dalam kehidupan
sehari-hari. Yakni hidup dengan akhlak mulia
sebagaimana diajarkan Nabi.

Umat Islam selama ini terlalu banyak menekankan
doktrin (aqidah) dan fikih, tetapi agak abai pada
akhlak. Ia, misalnya, salat atau puasa sesuai dengan
aturan mazhab yang "ndakik-ndakik", tetapi lupa apa
fungsi salat itu sebetulnya dalam kehidupan sosial.

Ikhlas, sebagaimana sampeyan sebut itu, juga sangat
penting sekali. Saya belajar banyak sekali tentang
ikhlas ini dari Budhisme Zen. Saya membaca buku
pendeta Zen, Shunryu Suzuki, "Zen Mind, Beginner's
Mind". Dari buku itu, saya menghayati apa makna ikhlas
dalam kehidupan sehari-hari. 

Itulah "bottom line" Islam yang berlaku untuk semua
orang. Jika diringkaskan, maka hadis "Jibril" yang
terkenal itu bisa kita pakai, yakni, iman, islam, dan
ikhsan.

Setelah itu, menurut saya, adalah "bonus". Anda mau
menjadi Ash'ariyah, Maturidiyah, Mu'tazilah, Khawarij,
Syi'ah, Karramiyah, Murji'ah, terserah pada anda.

Apakah anda mau menjadi Hanafi, Maliki, Syafi'i,
Hambali, Dhahiri, itu sepenuhnya terserah pada anda
sendiri.

Apakah anda mau menjadi pengikut Ahmadiyah, Jamaah
Tabligh, Maududi, Ikhwan, Salafi, Wahabi, NU,
Muhammadiyah, Persis, MUI, JIL, Wahid Institute, itu
terserah pada anda pula. 

Apakah anda percaya Muhammad adalah Nabi terakhir atau
tidak, buat saya tak masuk dalam skema Islam yang
sederhana seperti ini. 

Modal hidup seorang Muslim untuk menjalani hidup
sehari-sehari secara "etis" adalah sederhana sekali,
yakni ikuti dan hayati seluruh isi hadis empat puluh
yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi yang dikenal sebagai
"al-Arba'in al-Nawawiyah" itu.  Saya selama ini selalu
memegangi buku itu. Isi hadis-hadis itu sangat
sederhana, mengenai esensi paling mendalam dari agama.


Dari dulu, saya selalu mengagumi hadis yang termuat di
kitab itu, "Ihfadz al-Laha yahfadzka," ingatlah pada
Tuhan maka Tuhan akan mengingat dan menjagamu. Inti
hadis itu, hidup dengan sebuah orientasi etis dan
moral yang jelas: menuju kepada sumber hidup, yakni
Tuhan. "Takhallaqu bi akhlaq Allah," bertindaklah
seturut dengan "akhlak" Tuhan. Lihatlah, Tuhan
memberikan rezeki tanpa pandang agama, suku, atau ras.
Orang yang tak beriman juga diberikan rezeki olehNya.
Kenapa kita, orang-orang yang beriman ini, tak
mengikuti "contoh akhlak" Tuhan ini? Kenapa kita
mencurigai orang yang beda iman, padahal mereka
manusia juga?

Sekali lagi, akhlak dan akhlak. Apalah gunanya
mengikuti akidah yang "benar menurut ulama ini atau
itu" sesuai dengan doktirn "al-firqah al-najiyah",
tetapi tak dibarengi sikap hidup etis yang tepat?

Itulah yang saya pahami dan saya jalani dalam
kehidupan sehari-hari. Islam seperti itu saya lihat
contoh kongkrtinya pada kehidupan ibu saya sendiri,
seorang Muslimah pedusunan yang tak terdidik tinggi,
tetapi selalu memakai sikap hidup yang etis dalam
kehidupan sehari-hari. 

Tentu, untuk memuaskan kebutuhan intelektual, saya
membaca dan membaca berbagai sumber, mazhab, sekte,
aliran, filsafat, ideologi, dsb. Tetapi, itu semua
adalah "nawafil", "kamaliyyat", atau bahkan
"tahsiniyyat", alias hal-hal esktra, tambahan, yang
tak mengubah sedikitpun esensi Islam yang sederhana
itu. 

Dan bukankah esensi semua agama adalah seperti itu?
Bukankah agama pada "ceruknya" yang paling dalam
adalah berujung pada inti yang sama: tunduk pada
Sumber Kebenaran, serta hidup secara etis (dalam
bahasa Qur'an, "amanu wa 'amilu al-shalihat")? Sumber
itu anda sebut Allah, Yahweh, Wisnu, Krsna, Sang Hyang
Widi, tak penting buat saya. 

Menjadi Ash'ari, Salafi atau Ikhwani, itu semua, pada
pemandangan saya, adalah doktrin politik. Pada
penghujung perjalanan, anda harus bertanya pada diri
sendiri: sudahkah aku hidup secara etis, sebagaimana
dicontohkan Nabi Muhammad dan orang-orang bijak
sepanjang sejarah manusia?

Sudahkah anda menjadi Muhammad?

Ulil








--- Arif Hidayat <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Ulil,
> 
> Saya senang sekali membaca pemaparan Mas Ulil ttg
> Islam Liberal ini. Bahwa
> ternyata islam liberal itu tidak selalu terkait
> dengan JIL. Orang Islam
> Liberal belum tentu anggota JIL, JIL sdh pasti
> berwawasan Islam Liberal.
> Seperti Sunni belum tentu NU, tapi NU sudah pasti
> Sunni.
> Kalau begitu saya berwawasan islam liberal lo...
> tapi tdk anggota JIL...:)
> 
> Liberal itu asyik... santai... merdeka... luwes...
> bebas tapi berprinsip.
> Saya merasakan demikian. Pokoknya indah banget dah!
> 
> Namun, apakah liberal itu mempunyai pengertian
> berwawasan? Atau berilmu
> tinggi? Sehingga baru seseorang layak dianggap
> liberal setelah berwawasan
> luas, berilmu tinggi  kayak Mas Ulil?
> Mungkin kebanyakan orang beranggapan demikian. Repot
> kan!?
> 
> Lantas bagaimana gambaran orang awam yang berwawasan
> liberal? Dia tak 
> berilmu tinggi, dia taat beragama, tulus menjalankan
> ajaran-ajarannya, dan 
> tak membenci golongan lain atau bahkan umat agama
> lain. Begitukah?
> 
> Dalam pikiran saya, sejak lama, liberalisme beragama
> itu lebih mendekati 
> konsep
> "ikhlas". Orang yang ikhlas atau tulus dalam
> pekerjaannya adalah orang yang
> merdeka/bebas. Bukankah liberal juga berarti bebas?
> Hanya saja kebanyakan
> orang mempersempit makna ikhlas dan mengkaitkannya
> dengan hal-hal yang
> berhubungan dengan batin atau hati. Dalam pemahaman
> ini, maka orang yang
> ikhlas adalah orang yang tidak mudah sakit hati,
> tidak peduli orang mau tau
> atau tidak, tidak hasud, tdk dengki.
> 
> Yang lebih luas dari sekedar hati atau batin adalah
> agama. Orang yang tulus
> beragama tidak akan memaksakan kehendak pada orang
> lain, tdk egois. Orang yang seperti ini telah
> merdeka atau terbebas dari 
> buruknya hawa nafsu. Dia telah meraih puncak
> kemerdekaan.
> 
> 
> Salam
> AH
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: Ulil Abshar-Abdalla
> To: [email protected] ; Islam Liberal
> Sent: Tuesday, December 18, 2007 12:59 AM
> Subject: [kmnu2000] Mungkinkah "memberangus"
> pemikiran Islam liberal? --
> Surat untuk KH. Ma'ruf Amin
> 
> 
> 


 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke