Mas Ghofur yang baik,
Apakah sampeyan ini Gus Ghofur dari Sarang atau
"Ghofur" yang lain? Email sampeyan memakai Yahoo UK,
sehingga saya menyangka sampeyan "Ghofur" yang lain.
Maaf, jika saya keliru duga.

Semoga optimisme dalam surat sampeyan itulah yang
terjadi di NU kelak. 

Saya tentu tak menghendaki NU menjadi lembaga yang
"mono-kultur" di mana yang dominan hanya satu jenis
pemikiran saja, entah liberal, progresif, tradisional,
konservatif atau yang lain. Sejak dulu selalu ada NU
gaya Kiai Wahab yang sangat "lentur" dan gaya Mbah
Bisyri Syansuri yang sangat "ketat". Dua kiai itu
bersahabat dengan baik, karena sama-sama dari Jombang
(tentu Kiai Bisyri Syansuri tidak asli dari sana;
beliau berasal dari daerah saya, Pati).

Yang saya inginkan adalah NU menjadi "kaldron" untuk
dialog pelbagai gagasan. Saya, hingga sekarang, masih
merasa aneh, bahwa saat ini pihak PBNU nyaris tak
menaruh minat apapun untuk memfasilitasi terjadinya
dialog semacam ini. 

Pada zaman Gus Dur dulu, pernah diadakan suatu seminar
selama dua hari di Hotel Salemba, di kawasan Salemba
Tengah, untuk memperdebatkan ide-ide yang dibawa oleh
Kiai Said Aqil Siradj tentang redefinisi Aswaja. Saat
itu, Kiai Said baru pulang dari Universitas Umm
al-Qura, Mekah, dan meraih gelar PhD untuk bidang
tasawwuf. Beberapa saat setelah tiba di tanah air, ia
menghembuskan ide kontroversial tentang
ketidak-memadaian pengertian Aswaja yang dipahami oleh
NU selama ini. Saya menikmati benar perdebatan saat
itu. 

Inisiatif semacam ini yang hilang sekarang. 


Ulil





--- Abdul Ghofur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Gus Ulil,
> 
> Berikut wawancara kawan2 NU Mesir dengan Alm. KH.
> Dawam Anwar, Katib 'Am 
> PBNU tahun 2000an (?), menanggapi ide-ide Said
> Aqiel. Mungkin agak sama 
> dengan tanggapan KH. Ma'ruf Amin terhadap
> liberalisme.
> 
> Dan Ide-ide Said Aqiel tentang Aswaja sekarang ini
> seperti sudah biasa. Dan 
> mungkin bagi sebagian kalangan sudah kedaluarsa.
> Sebagian ide-ide 
> liberalisme suatu ketika nanti juga akan diterima.
> 
> ============
> 
> Konsep Tawasuth Versi NU
> 
> 
> 
> Sehabis sholat Isya, Abdullah Nasiruddin dan Syarif
> Abu Bakar dari AFKAR
> mengunjungi KH. Dawam Anwar, Pimpinan Pondok
> Pesantren Nurul Kasysyaf Tambun
> Bekasi di kediamannya di Hay Asyir. Tokoh yang
> merupakan Katib Am PBNU Pusat
> ini berbicara panjang lebar tentang konsep yang di
> anut NU dalam berpolitik
> dan tanggapan terhadap berbagai macam ide-ide yang
> kontroversial yang di
> lontarkan tokoh reformis NU Dr.KH. Said Aqil Siroj
> (Katib PB NU Pusat)
> 
> Dr. Said Aqil menyatakan bahwa doktrin politik NU
> selama ini adalah menjauhi
> anarki (fitnah), apakah ini benar?
> 
> Pernyataan beliau tsb tidak proposional dan
> mengada-ngada, justru NU lah
> yang banyak berperan aktif dalam upaya meredam
> berbagai macam gejolak anarki
> yang terjadi pada masyarakat, bukti kongkritnya
> ketika jaman revolusi, NU
> mengeluarkan resolusi jihad dalam usaha menumpas
> gerakan G-30 S PKI jadi
> bukan hanya menjauhi anarki sebagai mana yang beliau
> nyatakan atau yang di
> sebutkan oleh Masyumi hanya nunut urip (menyambung
> hidup ) akan tapi Doktrin
> NU yang lebih tepat adalah bertindak tepat dan
> proporsional.
> 
> Beliau juga mengatakan seharusnya doktrin tersebut
> lebih di kembangkan lagi
> berdasarkan sikap positif atas realitas sosial
> politik, yakni upaya
> mengedepankan prinsip demokrasi dan HAM serta
> penegakan keadilan dan hukum?
> 
> Yang perlu di tekankan di sini model demokrasi yang
> bagaimana ? apakah
> demokrasi yang didengungkan oleh barat yaitu dengan
> liberalnya atau format
> demokrasi yang lain. Di sini perlu di tegaskan dan
> di rumuskan kembali,
> jangan-jangan bertentangan dengan Demokrasi
> Pancasila yang di anut oleh
> pemerintah selama ini. Juga mengenai hukum, apakah
> meniru model hukum barat
> yang justru membuat kacau umat Islam karena mereka
> telah mempraktekkan hukum
> tersebut, mengapa beliau tidak menyinggung hukum
> yang telah di rumuskan oleh
> Islam, justru kalau kita mempraktekkan hukum Islam
> secara konsekwen maka
> berbagai macam tindakan kriminalitas itu akan
> teredam
> 
> Tapi konsep tawassut yang di anut NU selama ini
> ternyata meniru yang di
> rumuskan Asy'ari, Al- Baqilani, alias tiru-tiruan?
> 
> Bukan begitu ! sebenarnya NU tidak mengarah kesana,
> bahkan konsep tawassut
> tersebut sudah lama di pegang NU sejak masih
> bergabung bersama Masyumi dan
> itu merupakan hasil kongres para ulama dahulu,
> sekarang maunya Said itu
> bagaimana sih ?, apa kalau kita mengadopsi dari sana
> engga boleh ? Apa
> lantas kita engga boleh mengambil dari ihya ? enak
> saja, jadi NU itu tidak
> akan bertindak ekstrim sebagai-mana dilakukan
> Masyumi yang akhirnya di
> bubarkan karena melakukan tindakan ekstrim. Jadi NU
> masih tetap dengan
> semboyannya ud'u ila sabili robbik
> 
> Ternyata yang menjadi pegangan NU selama ini adalah
> fiqh syiasinya
> al-Mawardi dengan al-Ahkam Assultoniah-nya?
> 
> Saya kira itu bukan satu-satunya masih banyak lagi
> kitab-kitab yang menjadi
> pegangan NU dan ini bukan masalah, jadi kalau NU
> semata-mata mengambil Fiqih
> syiasinya dari Mawardi ini tidak etis sekali dan
> seolah -olah memojokan NU,
> justru yang lebih tepat NU mengambil dari Al-Quran
> dan Al-Hadist, sedangkan
> Al-mawardi sebagian kecil saja yang menukil dari
> Al-quran dan Al-hadist dan
> secara kebetulan sesuai dengan NU.
> 
> Bagaimana tanggapan kalangan elite NU khususnya para
> kiai terhadap ide-ide
> kontroversial yang di loncarkan Said Aqil tersebut?
> 
> Oh.. beliau mendapatkan protes dari mana-mana
> khusus-nya waktu NU
> melaksanakan Halaqoh Ahli Sunnah Waljamaah yang
> pertama, beliau men-dapatkan
> hujatan yang keras bahkan sampai di daerah- daerah
> dan ada juga yang terang
> terangan meminta supaya beliau di copot saja dari
> jabatannya.
> 
> Lalu bagaimana reaksi dari kalangan muda NU sendiri?
> 
> Sebagian besar membela kebijaksanaan NU yang dahulu
> (kaum sarungan), tapi
> ada juga yang mendukung berbagai macam ide tersebut
> (golongan mahasiswa )
> termasuk Ketua PMII Wilayah Jawa Timur yang
> mendukung pernikahan kontrak,
> yang di protes oleh ulama termasuk KH. Ali Yafie
> walaupun dia sekarang tidak
> lagi menduduki jabatan di PB. Kemungkinan karena
> kurang nya ilmu pengetahuan
> keislaman para mahasiswa itulah sehingga mereka
> mendukung ide-idenya dan
> karena memang enak loo... juga karena biar keliatan
> keren apalagi yang
> bicaranya doktor.
> 
> Benarkah konsep jalan tengah yang ditawarkan NU
> selama ini hanya sebatas
> dalam rangka menjaga harmoni?
> 
> Ini tidak benar, dalam muktamar NU tidak ada yang
> menyatakan keputusan tsb
> (hanya menjaga harmoni ) ini mungkin hanya rekayasa
> said saja dan ini sangat
> bid'ah sekali. Sebenarnya NU tetap melaksanakan ud'u
> ila sabili robika dan
> jalan tengah tersebut harus kita tempuh, apa kita
> mau menempuh yang tatorrup
> yasari atau yamini ? seharusnya dijelaskan bagusnya
> yang bagaimana? bukan
> hanya sekedar menafsiri Khittoh kita yang di pakai
> oleh NU terus
> disimpulkanseolah-olah negatif.
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "Ulil Abshar-Abdalla" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>; "Islam Liberal" 
> <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, December 17, 2007 7:59 PM
> Subject: [kmnu2000] Mungkinkah "memberangus"
> pemikiran Islam liberal? --  
> Surat untuk KH. Ma'ruf Amin
> 
> 
> > Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
> > Beberapa waktu lalu, KH. Ma'ruf Amin menyatakan
> bahwa
> > NU harus dibersihkan dari pemikiran Islam liberal.
> >
> > Memang, arus "puritanisasi" dalam NU sekarang ini
> > sedang berkembang, seturut dengan perkembangan
> serupa
> > yang juga berlangsung di luar. Gejala puritanisasi
> NU
> > hanyalah gema dari gejala lebih luas yang
> berkembang
> > di masyarakat Islam Indonesia saat ini.
> >
> 
> 


 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke