Mas Ulil,

Saya senang sekali membaca pemaparan Mas Ulil ttg Islam Liberal ini. Bahwa
ternyata islam liberal itu tidak selalu terkait dengan JIL. Orang Islam
Liberal belum tentu anggota JIL, JIL sdh pasti berwawasan Islam Liberal.
Seperti Sunni belum tentu NU, tapi NU sudah pasti Sunni.
Kalau begitu saya berwawasan islam liberal lo... tapi tdk anggota JIL...:)

Liberal itu asyik... santai... merdeka... luwes... bebas tapi berprinsip.
Saya merasakan demikian. Pokoknya indah banget dah!

Namun, apakah liberal itu mempunyai pengertian berwawasan? Atau berilmu
tinggi? Sehingga baru seseorang layak dianggap liberal setelah berwawasan
luas, berilmu tinggi  kayak Mas Ulil?
Mungkin kebanyakan orang beranggapan demikian. Repot kan!?

Lantas bagaimana gambaran orang awam yang berwawasan liberal? Dia tak 
berilmu tinggi, dia taat beragama, tulus menjalankan ajaran-ajarannya, dan 
tak membenci golongan lain atau bahkan umat agama lain. Begitukah?

Dalam pikiran saya, sejak lama, liberalisme beragama itu lebih mendekati 
konsep
"ikhlas". Orang yang ikhlas atau tulus dalam pekerjaannya adalah orang yang
merdeka/bebas. Bukankah liberal juga berarti bebas? Hanya saja kebanyakan
orang mempersempit makna ikhlas dan mengkaitkannya dengan hal-hal yang
berhubungan dengan batin atau hati. Dalam pemahaman ini, maka orang yang
ikhlas adalah orang yang tidak mudah sakit hati, tidak peduli orang mau tau
atau tidak, tidak hasud, tdk dengki.

Yang lebih luas dari sekedar hati atau batin adalah agama. Orang yang tulus
beragama tidak akan memaksakan kehendak pada orang
lain, tdk egois. Orang yang seperti ini telah merdeka atau terbebas dari 
buruknya hawa nafsu. Dia telah meraih puncak kemerdekaan.


Salam
AH

----- Original Message ----- 
From: Ulil Abshar-Abdalla
To: [email protected] ; Islam Liberal
Sent: Tuesday, December 18, 2007 12:59 AM
Subject: [kmnu2000] Mungkinkah "memberangus" pemikiran Islam liberal? --
Surat untuk KH. Ma'ruf Amin


Kirim email ke