Sesungguhnya terbalik...pemikiran demikian..
Islam Libaral belum pernah berbuat makar .....
Sedangkan islam Radikal/fondamentalis, extreem dunia sudah mencemar nama baik
islam dengan tindakan2 kekerasan, bom2 bunuh diri,menzolimi sesama muslim..dll
Kepada merekalah kita harus berikan peringatan2 yang agar kembali kepada
islam yang berkasih sayang, saling hormat menghormati dlm perbedaan pemahaman
ajaran2 islam...tolerensi dlm perbedaan, dan saling bantu membantu membangun
pradapan yang islami.
Perang saudara di Iraq haruslah menjadi pelajaran bagi kita di Indonesia...
Sunni dan Syiah haruslah saling hormat menghormati....kalau tidak akan
terjadi malapetaka yg lebih besar di negara2 islam.
Wassalam
lakpesdam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Salam
Untuk kawan-kawan yang tidak sempat baca www.nu.or.id Saya sertakan juga respon
atas pernyataan KH. Ma'ruf Amin.
salam,
hamzah
KH Ma'ruf Amin: Paham Liberal Masih Ada di NU
Ahad, 9 Desember 2007 11:09
Jakarta, NU Online
Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin mengeluhkan
masih adanya paham liberal yang yang berkembang di kalangan NU, bahkan di dalam
kepengurusan NU.
Bagi salah seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat itu, keberadaan
faham itu sudah terlalu dalam merusak keyakinan yang selama ini ada di NU.
"Keberadaan mereka sudah sangat memprihatinkan, membahayakan," kata Kiai Ma'ruf
Amin kepada NU Online di rumahnya, Ahad (9/12).
Tidak hanya itu, menurut Ketua Dewan Mustasyar PKNU itu, akibat dari banyaknya
orang berpaham liberal di dalam NU, status faham keagamaan yang dianut NU
sendiri pun kini dipertanyakan.
"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah
dipertanyakan statusnya," tegasnya setengah berkelakar.
NU yang selama ini identik sebagai simbol Ahlussunnah wal Jamaah, menurut Kiai
Ma'ruf, memang layak diragukan kemurniannya, "Sebab terlalu kuatnya arus paham
liberal yang ada di dalamnya, sampai menjalar ke mana-mana," tuturnya.
Karenanya, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) itu mengharapkan
agar NU secepatnya kembali seperti saat pertama kali NU didirikan pada tahun
1926.
Caranya, dengan membersihkan kembali NU dari pemikiran-pemikiran
liberal-sekuler dan dikembalikan pada paham Ahlussunnah wal Jamaah, sesuai
jalan yang telah dirintis oleh para salafus shalih.
Menurut Kiai Ma'ruf, sebenarnya jalan kembali itu sudah jelas ada, bernama
Khittah Nahdlatul Ulama yang diputuskan di Muktamar Situbondo (1984) dan
ditegaskan kembali dalam Muktamar Solo (2004). Hanya saja masih kurang
sosialisasi, apalagi sampai prakteknya di lapangan.
"Kita hanya butuh penegasan, akar-akar liberal di NU itu harus segera dipotong,
agar tidak berkembang biak menjalar ke tempat lain. Ini sudah pada tingkat
bahaya," tegas kiai Ma'ruf. (sbh)
« Kembali ke arsip Warta
----------------------------------------------------------
Komentar:
----------------------------------------------------------
fatchan menulis:
mas/pak Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ma'ruf Amin..
pertama, saya minta maaf apabila ada kesalahan dalam kjomentar saya itupun
kalau komentar ini diperbolehkan untuk ditampilkan secara umum...
kedua, perlu bapak sadari karena saya sudah menganggap bapak sangat tahu,
bahwasanya langkah yang bapak dan mas2x yang lain lakukan untuk mendirikan PKNU
tersebut adalah sebuah langkah yang mana memperhitungkan tempat untuk menampung
orang2x yang dikeluarkan dari PKB (yang dimenangkan kubu mbah GUS DUR), dan
tanpa anda sadari bahwa hal tersebut dapat membuat masyarakat yang PRO dan
KONTRA saling adu jotos yg tidak lain dari kalangan orang2x NU sendiri, dan
membuat masyarakat NU kalangan bawah itu sendiri terpecah meskipun samean
semuanya tidak merasakannya di kalangan atas (baca radar banyuwangi edisi
jum'at ini tentang perebutan kantor PKB).
ketiga, bahwasanya PKNU bisa muncul karena penerimaan atas ke-SEKULERAN yang
ada didalam NU sendiri, yang mana PKNU tidak akan diterima oleh masyarakat NU
apabila di dalam NU sendiri tidak ada / tidak diperbolehkannya sebuah paham
ke-SEKULAERAN.
ke empat, dan tentang komentar anda ini :
"Sekarang ini yang jelas Ahlussunnah wal Jamaah itu malah MUI. NU malah
dipertanyakan statusnya,"
komentar anda tersebut sangatlah kami sayangkan mengingat MUI kali ini
sangatlah tidak menghormati organisasi ataupun golongan yang ada di dalam
masyarakat dengan "sa'enake dewe" mengeluarkan fatwa menyesatkan bagi
organisasi ataupun golongan2x di masyarakat dewasa ini, dan sayangnya MUI hanya
sebatas mengeluarkan fatwa dan tidak menindak lanjuti hal tersebut (karena
dibeberapa daerah masih banyak kantor2x AHMADIYAH yang belum di larang) dan hal
ini sangatlah tidak sesuai mengingat MUI langsung menagkap pimpinan AL-QIYADAH
tetapi tidak untuk AHMADIYAH dan yg lainnya, dan menurut kami MUI tidak
menghormati HAM dan juga tidak melaksanakan falsafah bangsa "BHINEKA TUNGGAL
EKA" mengingat MUI berada dalam struktur pemerintah indonesia.
apakah itu yang anda sebut-sebut "AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH"..????
mohon maaf apabila ada kata2x kami yang salah, wabillahi taufiq wal hidayah
wassalamu alaikum wr. wb.
*penulis adalah alumni santri AL_HIKAM malang dan juga anggota PCNU banyuwangi.
----------------------------------------------------------
fahmiy menulis:
Setuju Pak Kiyai. musnahkan virus liberal yang sekarang menjangkiti tubuh NU
sampai ke akar-akarnya. agar NU kembali kepada semangat awal pendiriannya.
----------------------------------------------------------
Yusuf Suharto menulis:
Terjebak Istilah?
Kiai,ada beberapa hal yang belum menjadi jelas dalam pernyataan Njenengan.
1. Apa makna liberal bagi Kiai Ma'ruf? samakah ukuran makna Liberal Kiai dengan
orang atau pengurus yang dimaksud? Gus Dur sendiripun ketika ditanya apakah
beliau berpikiran liberal, beliau tidak mengakuinya. dalam SIKI ( Studi
Intensif Kristen Islam di GKJW Malang, Gus Dur menolak ketika dirinya disebut
sebagai orang yang berpaham
liberal. "Pengertian saya mengenai liberal itu adalah permisif apa saja
boleh. "Kalau muslim yang betul tidak mungkin jadi Liberal, tapi toleran,"
tegas Gus Dur.
"Menurut pandangan saya, saya orang yang god centred, seorang yang
berpusat pada Tuhan. Sedang liberal itu adalah anthropocentris philosopy,"
tambah Gus Dur.
2. Pengurus atau orang NU yang "liberal" itu di Kepengurusan tingkat apa?
3. Ketika urusan istilah belum selesai, saya rasa akan ( dan sudah ) ada
pengkutuban yang tidak sehat. Seperti, NU yang amat getol ber Aqidah dan
berfiqih secara ketat disebut Konservatif puritan, yang sebaliknya dianggap
liberal.
4.Kiai,mohon tidakbergurau dengan mengatakan,NU gkj elas ke Aswajaan nya.Di MUI
apa mesti sudah sangat jelas? Individunya kan juga dari beragam Ormas. Apalagi
pikirannya?!
wassalam
[EMAIL PROTECTED]
Jombang
----------------------------------------------------------
arif firmansyah menulis:
Ass.Wr.Wb.
Kesadaran kembali NU untuk melihat internal organisasinya dari berbagai virus
yang berbahaya pengusung paham SiPiLis (sebagai ideologi TransNasional yang
negatif dan berbahaya)merupakan langkap positif yang tentu akan disambut hangat
oleh generasi muda NU yang menginginkan NU 'bersih' kembali. Jelas tidak
terbayang dalam benak Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy'ariy sebagai pejuang
Syari'ah Islam mewariskan NU kepada generasi sesudah beliau harus terinfiltrasi
virus ganas. Maka dari itu harus ada langkah taktis dan strategis menyelamatkan
NU. Sebagai usulan, yang harus segera diselamatkan adalah para kader muda NU
terutama di kampus dan pesantren sebagai penerus pengurus NU dan penjaga paham
Aswaja ini dengan mempertajam pemahaman Aqidah dan Syari'at Islam secara
kaaffah melalui training intensif dan pembelajaran lainnya yang
berkesinambungan. Kedua, membuat mekanisme filterisasi pemikiran Islam yang
bermuatan SiPiLis (sebagai ideologi TransNasional yang negatif dan
berbahaya)segera dianulir dan disiapkan legal-counternya. Ketiga, Sosialisasi
ke akar rumput NU mengenai apa, bagaimana sejarah buruk pemikiran
SiPiLis(sebagai ideologi TransNasional yang negatif dan berbahaya) dalam
perspektif Syari'at Islam sehingga Umat di akar rumput bisa terjaga selalu.
Wallahu A'alaam Bi Ash-Showab
Wassalamu'alaikum Wr.Wb.
----------------------------------------------------------
khoirudin mustofa menulis:
sepakat dengan apa yang sebut oleh KH. MA'ruf amin. SEbaiknya pula NU kembali
pada khitthah 1926. yang seperti info yang saya dapatkan, kelahiran NU pada
waktu itu untuk menyikapi runtuhnya khilafah Turki Utsmani. Mungkin, pendiri NU
ingin memperjuangkan Khilafah. Perjuangkan Khilafah yo!
----------------------------------------------------------
hasan menulis:
Pak Kyai, hati2 tuh dengan tokoh2 generasi NU yang belajar Agamanya pada di
Amerika, beasiswanya pada dari mana???, kalo nanti pada lulus yang pasti
menjadi pengikut setia yang ngasih beasiswa belajarnya, gak bedanya "......."
yang akan selalu setia kpd yang ngasih makan (tuannya).....
----------------------------------------------------------
Nurisk menulis:
Setuju pak Kyai, memang faham liberalisme dan sekularisme sekarang ini harus
mendapat porsi perhatian yang lebih dari para kyai dan ulama NU. Sekedar saran
untuk NU;
pertama, sebelum pembersihan dari faham sekularisme dan liberalisme, masalah
ini harus dibahas terlebih dahulu dalam Bahtsul Masail Diniyah. Hasil dari
keputusannya harus disosialisasikan pada seluruh ortonom underbow NU. Ingat,
Lakpesdam NU adalah salah satu pusat dari faham yang membahayakan ini.
kedua, perekrutan kepengurusan Nu harus melewati uji "fit and proper test"
untuk menguji cara berfikir pengurus dari faham-faham yang semakin aneh di
masyarakat sekarang-sekarang ini. Uji kemampuan tersebut bisa dimulai dari
tingkat pengurus Pimpinan Besar (tingkat pusat) dan selanjutnya ke tingkat
wilayah dan ortonom di bawahnya, hingga tingkat anak cabang.
Demikian usul kami, semoga NU; pengurus dan warganya terhindar dari hal-hal
yang bathil yang semakin berkembang di masyarakat sekarang ini... Amin.
----------------------------------------------------------
didik menulis:
Setuju dengan sikap KH.Ma'ruf Amin yang berhati2 sebelum paham itu berkembang
diNU yang pada akhirnya sulit dibendung. Semoga Alloh SWT Menjaga keistiQomahan
Beliau.amin
----------------------------------------------------------
Khamdan menulis:
Klaim sesat menyesatkan bukanlah cermin ajaran yang berinti induk pada
Ahlussunnah wal Jama'ah..karena pada masa Nabi, sahabat, dan Kaum penerus
selanjutnya, perbedaan pendapat telah mewarnai cara pandang persoalan umat.
Terkait liberalisme yang menjadi "TERLARANG" oleh MUI, perlu mendapatkan
pemahaman jelas definisi, karakteristik, patokan, dan aspek
lainnya..jangan-jangan hanya karena beda, langsung aja menyesatkan orang
lain...
Nah lo, surga milik siapa????
----------------------------------------------------------
Miftah (Warga NU) menulis:
Salam...
Janganlah pada sok merasa paling Aswaja!!
Janganlah pada sok merasa paling Khittah NUnya!!
Marilah kita berkaca pada diri sendiri!!
Sudahkah kita melaksanakan apa yang kita omongkan kepada orang lain???
Setahu saya seseorang ketika menjabat sebagai penasehat presiden dia harus
menanggalkan jabatan lain. Pak KH MA kok jabatan penasehat presiden di terima
tapi kemana-mana ngomong masih atas nama MUI.
Jabatan Rais PBNU masih di sandang, tapi kok masih getol berpolitik praktis
dengan ikut PKNU??
Apakah ini akhlak Aswaja??
Apakah ini Khittah NU??
Maaf buat para elit yang menjadi uswah umat di bawah.
----------------------------------------------------------
sejati menulis:
InsyaAllah, untuk para kyai dan ustad yang mulia, kami, kaum muslimin berada di
belakang Anda sekalian, untuk memberangus liberalisme yang ada di tubuh
NU...Memang NU, harusnya memakai ISLAM TULEN bukan Liberalisme...gak pantes
liberalisme berada di tubuh para ulama..bukan tempatnya!!!
----------------------------------------------------------
muhammad ghufron (warga nu mbantul) menulis:
salam.
kiai satu ini gimana seh? apa maunya? pernyataan anda tidak jelas! tidak
ilmiah, tidak bisa dipertanggungjawabkan. bahkan mendekati fitnah!
pertama, saya cukup menyesal anda mengeluarkan statement bahwa ada pengerus NU
itu ada yang liberal. liberal itu apa? siapa yang liberal? harus jelas donk!
kecuali statement anda hny fitnah belaka!menurut saya, yang liberal itu anda!
karena anda mengambil semuanya dengan bebas tanpa malu. penasehat presiden
diambil, pknu dilakoni, syuriah nu dijalani, syariah dipek! ini apa-apaan.
ngaca dong-ngaca!
kedua, bahwa mui paling aswaja ketimbang nu. itu pernyataan yang ngawur, tak
berilmu! anda syuriah nu kok bilang begitu! kata orang jogja, anda itu waton
nggambleh! kenapa demikian? jawabnya lagi-lagi, harus diuji secara ilmiah!
menurut saya anda wajib tabayun ke pbnu, dan dskusi secara ilmiah. biar tidak
terjadi fitnah. saya tidak ridho, organisasi saya ini jadi buruk rupa gara-gara
orang yang tidak jelas.
terakhir, kenapa NU ONLINE memuat berita yang bikin kacau begini! tidak cerdas
sama sekali!
akhirul kalam, semoga NU terhindar oleh ulama su`, ulama yang hubbur riyasah,
hubbud dunnya....
terima kasih.
salam dari jogja
muhammad gifron, warga nu mbantul
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.
[Non-text portions of this message have been removed]