Ya, Mas, saya juga setuju dengan Kang Jalal: dahulukan akhlak sebelum fikih. 
Pas seperti ayat : "yarfa'illaahul ladziina aamanuu minkum wal ladziina 
uutul 'ilma darajaat", Allah mengangkat derajatnya orang-orang yang beriman 
dan berilmu. Iman dulu, baru ilmu.

Ayat ini juga, bagi saya, menjadi prinsip utama di bidang pendidikan. 
Pendidikan harus mendahulukan iman/akhlak sebelum ilmu. Karena rusaknya 
Indonesia ini bukan karena kekurangan orang yang berilmu, tapi kekurangan 
orang-orang yang beriman.

Dan, sekali lagi, saya sangat senang dengan penjelasan Mas Ulil ini: bahwa 
Islam itu sedemikian sederhana. (Penjelasan yang sama sekali tak saya duga 
sebelumnya). Itu yang seharusnya terhembus mula-mula dan terus-menerus ke 
masyarakat luas. Sayangnya orang-orang sudah kadung kenal Ulil sebagai 
muslim liberal. Kata-kata liberal yang begitu "asing" di telinga mereka.

Orang-orang yang saya temui di kampung, di Jepara juga Salatiga kenal Mas 
Ulil sebagai tokoh Islam liberal. Tak hanya kyai dan ustadz saja, kakak saya 
yang sangat awam agama dan mengajar fisika di sebuah madrasah tsanawiyah 
ikut-ikut "menyesatkan" Mas Ulil. Sedikit sekali orang yang netral apalagi 
mendukung gagasan-gagasan Mas Ulil yang bertitel Islam Liberal itu.
Kata-kata liberal itu telah dikonotasikan sedemikian negatif: Ulil = liberal 
= sesat.

Jadi saya setuju dengan Gus Dur, Ulil itu salahnya memakai kata "liberal".
Karena, jika Mas Ulil masih merasa kesulitan mendefinisikan Islam Liberal 
(sebagai sebuah wawasan/madzhab), langkah strategis seperti apa yang telah 
Mas Ulil anggap memuluskan gerakan Islam Liberal --dan secara khusus JIL 
(dengan menggunakan kata "liberal")?

Saya yakin andaikan saja "kesederhanaan Islam" seperti yang Mas Ulil 
paparkan itu yang mula-mula dan terus-menerus sampai di telinga masyarakat 
pasti tak terjadi penolakan yang sedemikian kuat.

Saya seringkali menyamakan Mas Ulil dengan Gus Dur. Sama-sama pinter, 
sama-sama liberal, sama-sama tulus, dan memperjuangkan Islam. Gus Dur sering 
kali menjustifikasi tindakan-tindakan dan pemikiran-pemikirannya dengan 
kaidah-kaidah fikih. Mas Ulil pun mengaku sangat memegangi hadis-hadis 
arba'in nawawi. Tapi yang belum saya lihat pada Mas Ulil (berbeda dari Gus 
Dur) adalah intensitas silaturahminya. Gus Dur orangnya rajin sekali 
silaturahmi ke kyai-kyai. Tidak hanyaSehingga setiap kali muncul ketegangan 
lekas terselesaikan.

Di komunitas saya di kampung ada orang-orang yang saya lihat telah 
mengamalkan asas-asas liberalisme tanpa mereka tahu apa arti "liberal" itu, 
apalagi merasa menerapkan liberalisme Islam. Di tempat-tempat lain pun saya 
yakin sudah banyak orang yang berwawasan "islam liberal", walaupun tidak 
mayoritas. Sehingga gagasan-gagasan liberal dan yang sangat "liberal" 
sekalipun tak serta-merta ditampik jika silaturrahmi terjaga.
Sayangnya Mas Ulil bawaannya orang kota. Apalagi sekarang nun jauuuh di 
sana....:) Saya khawatir gerakan JIL hanya berkutat di kota.

To be honest, friend, that's my humble opinion!

Salam
Arif Hidayat


----- Original Message ----- 
From: Ulil Abshar-Abdalla
To: [email protected]
Sent: Friday, December 21, 2007 7:47 PM
Subject: Re: [kmnu2000] Mungkinkah "memberangus" pemikiran Islam liberal? --  
Surat untuk KH. Ma'ruf Amin


Mas Arif,
Menjadi Muslim, jika kita ikuti ajaran Nabi
sebagaimana adanya sebelum dibuat rumit oleh perbedaan
mazhab dan sekte, sebetulnya sederhana sekali.


Kirim email ke