Mas Uli, Mas Gofur, Mas Cipt, dll
Sama seperti teman-teman, saya bukan ahli falak, tidak seperti Mas Muid.
Saya hanya belajar sedikit di pesantren, ditambah sedikit lagi di fakultas
syariah. Hanya saja, akhir-akhir ini saya sering terlibat langsung dengan
para pakar falak NU, terutama ketua Lajnah Falakiyah PBNU sendiri, KH
Ghazalie Masroeri. Juga dari beberapa pengurus tarjih Muhammadiyah. Banyak
informasi penting yang saya dapat.

Soal rukyatul hilal di NU setiap bulannya, seingat saya, saya pernah bilang
mas Ulil kalau saya terlibat langsung menyampaikan woro-woro rukyat setiap
akhir bulan. Hanya saja memang rukyat di awal bulan-bulan yang lain tidak
sekenceng bulan Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Sodang itsbat saya kira perlu difahami sebagai upaya pemerintah untuk
menyatukan "beragam pikiran" umat Islam se-Indonesia, sebatas itu bisa
dilakukan. Paling tidak, meminimalisir perbedaan yang bisa membikin bingung
masyarakat.

Kalau istilah rukyat itu terlalu awam atau kampungan (Tarjih Muhammadiyah
bilang: perintah rukyat itu dalam konteks masyarakat yang masih ummi), maka
kira-kira rukyat bisa dibahasakan secara lebih akademis: observasi ilmiah.
Dan ini absah bahkan harus dilakukan untuk membuktikan teori astronomi
apapun.

Saya ingat Pak Jamhur Effendi dan Hendro Setyanto, dua pengurus falak PBNU,
yang masing-masing adalah pakar astronomi di LAPAN dan Bakosurtanal, yang
bilang bahwa planet Pluto tidak pernah diyatakan sebagai temuan astronomis
sebelum benar-benar bisa diobservasi. Puluhan tahun dia hanya ada di wilayah
teoritik, baru dinyatakan setelah benar-benar diobservasi. Belakangan malah
dia dikeluarkan lagi dari keluarga Tata Surya karena terbukti teori yang
kemudian diobservasi itu sudah difalsifikasi.

Ilmu hisab apalagi dengan kriteria "wujudul hilal" ala Muhammdiyah (asal
bulan positif di hari ijtima) adalah seratus persen teoritis. Alat paling
canggih buatan Amerika pun belum mampu mengobservasi hilal (bulan sabit)
pada ketinggian dibawah dua derajat, apalagi beberapa detik di atas nol.

Dengan pemahaman seperti ini maka sedianya kriteria rukyat (dhuhurul hilal)
itu lebih memenuhi etika ilmiah. Para ahli falak NU bilang bahwa hadits
"sumu liru'yatihi.." itu menunjukkan bahwa awal bulan itu ditunjuk
berdasarkan kenyataan dan bukan sekedar teori.

Pada titik ini saya agak gregetan dengan teman-teman yang menganjurkan
"pokoknya" hisab saja. Belum lagi persoalan bahwa banyak sekali teori hisab
yang berbeda satu sama lain. Jangan dikira dengan hisab semua bisa seragam.

Soal kalender itu perkara mudah bagi para pakar falakiyah, dan pastinya
disusun berdasarkan ilmu hisab, lalu tinggal dikoreksi setiap bulannya
dengan rukyat untuk sekedar meyakinkan teori hisab. Para pakar falak
NU sudah semakin legowo dan sudah bersusah-payah (secara ilmiah dan
diperjuangkan di level kebijakan fikih) untuk membikin "hisab penyerasian"
dengan menambal beberapa teori dalam kitab hisab yang kurang akurat, yang
misalnya masih memakai data heleosentris. Sehingga hampir dipastikan data
hisab sama dengan hasil rukyat. Apalagi rukyat dibantu dengan alat yang
serba canggih, dan dilakukan diberbagai lokasi rukyat di seluruh
Indonesia. Apalagi, NU juga sudah memutuskan bahwa rukyat yang dilakukan
pada saat tidak imkanurrukyat (tidak mungkin bisa dilihat menurut semua ahli
atau metode hisab) akan ditolak, mengutip pendapat Ibnu Hajar. Kasusnya
seperti penolakan hasil rukyat PWNU Jawa Timur oleh Lajnah falakiyah dalam
penentuan awal Syawal kemarin.

Lagi-lagi problemnya adalah soal gap atau benturan antara pakar falak dengan
pakar fikih yang tidak mau tahu dengan ilmu falak. Dan ini tidak hanya
terjadi di dunia falakiyah. Di bidang lain seperti tata-negara,
ekonomi, tradisi dan peribadatan pun gap dengan para pakar fikih itu selalu
ada.

Dan pada saat penentuan awal Dzulhijjah kemarin, benturannya tidak
tanggung-tanggung, yakni dengan para ahli fikih Saudi Arabia (baca: Raja
Saudi yang punya Ka'bah).

Satu lagi, soal rukyatul hilal itu penting ketika berbicara strategi
kebudayaan. Maaf kalau istilah ini terlalu "ndakik-ndakik". Anda bayangkan
jika rukyat dihapuskan maka disiplin ilmu falak yang sudah sepi peminat itu
akan semakin habis, dan umat Islam (masksud saya warga NU) akan semakin
meniggalkan dunia astronomi. Hisab an sich, apalagi sekedar menyontek hasil
perhitungan komputer, akan menghentikan proses perkembangan ilmu falakiyah
(maaf, silakan dilihat di Muhammdiyah), mengurangi minat di bidang
falakiyah. Dan dengan begitu disiplin ilmu atronomi akan terlokalisir ke
sekolahan-sekolahan elit yang tidak bisa dijangkau oleh warga NU (apalagi
tidak berijazah formal).

Anda yang tidak suka menggeluti falakiyah, silakan menggeluti bisang
keilmuan lain, tapi jangan memandang ilmu falak dengan sebelah mata.

Sekali lagi, salut dengan para aktifis lajnah falakiyah NU yang tetap
istiqomah. Salut dan hormat dengan para pakar falak NU yang bisa merumuskan
kitab ilmu hisab sendiri meski tidak akan pernah mendapatkan nobel sains,
yang membuat software komputer dengan program hisab paling akurat, atau
membikin alat modern sendiri untuk mengintip bulan dengan biaya seadanya.

Jadi begitu,
Salam semuanya
Anam



On 12/23/07, Ulil Abshar-Abdalla <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Gus Ghofur dan Mas Anam,
> Saya sendiri idem ditto, awam dalam soal falak. Waktu
> di di Tsanawiyah dan Aliyah dulu, pernah diajarkan
> Rubu' dan Falak, tetapi tidak pernah saya seriusi
> setelah itu. Sekarang sudah lupa semua. Bukunya sih
> masih, lengkap dengan "ma'nanan" dan keterangan dari
> guru.
>
> Saya kira, ada benarnya kalau para "falakiyyun"
> beranggapan bahwa perhitungan falak adalah qath'iyy.
> Sebab, dalam asumsi mereka, alam raya mengikuti suatu
> hukum objektif yang berlaku secara konstan (kalau
> memakai bahasa Qur'an, "al-syamsyu wa 'l-qamaru bi
> husban"). Jika manusia bisa mengetahui hukum itu, maka
> dia bisa memprediksi banyak gejala astronomis dengan
> pasti.
>
> Ru'yah, menurut saya, adalah metode astronomi"
> pra-falak, atau pra-ilmu. Metode ini sudah dipakai
> sejak berabad-abad di jazirah Arab pra-Islam.
> Sebagaimana falak adalah ilmu netral yang tidak serta
> merta bersifat Islam, maka ru'yah adalah sama pula: ia
> adalah metode netral yang bisa dipakai oleh siapa
> saja, Muslim dan non-Muslim. Dan itulah yang terjadi
> dalam kenyataan kongkret.
>
> Dalam pandangan ahli hadis atau kalangan sebagian
> besar fukaha, asumsi yang berlaku lain sama sekali.
> Karena Nabi menggunakan metode ru'yah, maka contoh itu
> secara otomatis menjadikan metode itu secara
> "normatif" mengikat. Sebab, segala tindakan Nabi
> adalah "norma" bagi umat Islam. Oleh karena itu, dalam
> sebagian besar mazhab fikih, ru'yah tetap dianggap
> unggul ketimbang hisab atau falak. Hisab hanya berlaku
> secara personal, tak bisa dijadikan sebagai landasan
> bagi "public policy".
>
> Sekarang, kalau asumsinya dibalik: bahwa tidak semua
> tindakan Nabi secara otomatis menjadi "norma"; maka
> keadaannya akan berubah. Saya memakai asumsi yang
> terakhir ini: bahwa metode ru'yah dipakai Nabi jelas
> benar belaka. Tetapi hal itu tak langsung menjadikan
> metode itu secara "normatif" lebih unggul dari hisab
> atau falak. Kita tahu, melalui istiqra, bahwa banyak
> tindakan dan ucapan (baca: perintah) yang dilakukan
> oleh Nabi tidak dengan sendirinya langsung menjadi
> norma bagi umat Islam. Melalui "qarinah" tertentu,
> kita bisa memahami bahwa tindakan dan ucapan tertentu
> dari Nabi tidaklah merupakan "norma".
>
> Sebagaimana kalender Gregorian bisa ditetapkan dengan
> pasti dan berlaku di seluruh dunia, tanpa perbedaan,
> maka saya menghendaki hal serupa berlaku pula untuk
> kalender Hijriyah. Kepastian kalender Hijriyah ini
> sangat penting dari segi mempersatukan penanggalan
> umat Islam untuk kepentingan ubudiyyah, tetapi juga
> dari sudut kepentingan akademik. Menurut "Mu'jam
> al-Udaba'" karangan Yaqut al-Hamawi, Imam Zamakhsyari
> pengarang tafsir al-Kasy-syaf itu wafat pada bulan Dzu
> 'l-Hijjah, hari Arafah (alias tanggal 9), tahun 538 H.
> Pertanyaannya: apakah tanggal ini tepat? Sebab kita
> harus bertanya lagi: ini penanggalan a la ru'yah atau
> hisab?
>
> Untuk Idul Adha kemaren, ada tiga versi di Amerika:
> Rabu, Kamis dan Jum'at. Saya berpikir dalam hati, ini
> jelas non-sense. Bagaimana ada suatu sistem
> penanggalan yang mengenal tiga versi seperti itu?
>
> Buat saya, sidang "itsbat" seperti yang dipraktekkan
> selama ini di Indonesia, mengandung sejumlah
> kejanggalan berikut ini:
>
> Kalau awal Ramadan dan Syawwal ditentukan melalui
> sidang istbat, kenapa hal serupa tidak dilakukan untuk
> awal seluruh bulan sepanjang tahun? Jika ada perbedaan
> antara hisab dan falak untuk Ramadan dan Syawwal,
> sudah pasti perbedaan itu akan terjadi untuk
> bulan-bulan yang lain. Yang terjadi adalah sungguh
> aneh: sementara awal bulan Ramadan dan Syawwal
> ditentukan dengan sidang istbat, bulan-bulan
> selebihnya ditentukan mengikuti penanggalan yang sudah
> dibuat oleh para ahli falak.
>
> Dengan kata lain, dalam masyarakat Islam (paling tidak
> di Indonesia), berlaku sistem "penanggalan ganda".
> Yakni penanggalan ilmu falak, dan penanggalan
> "politik" yang dibuat sesuai dengan keputusan
> pemerintah.
>
> Saya dulu mengajukan pertanyaan di milis ini yang tak
> menemukan jawaban pasti: konon, NU mengadakan ru'yah
> setiap bulan. Pertanyaan saya ketika itu: jika terjadi
> perbedaan antara ru'yah dan hisab pada bulan-bulan
> selain Ramadan dan Syawwal, apakah informasi itu
> disebarkan ke seluruh warga NU? Apakah mereka
> diperintahkan untuk mengoreksi kalender (biasanya
> cetakan PT. Menara Kudus) yang sudah kedarung mereka
> beli sejak awal tahun?
>
> Kalau ini terjadi, maka saya bayangkan, betapa tak
> prakyisnya penanggalan Hijriyah ini. Sebab jika awal
> seluruh bulan ditentukan dengan ru'yah (agar konsisten
> dengan hadis "shumu liru'yatihi dst."), maka akan
> terjadi ketidakpastian.
>
> Saya lebih sepakat saat ini umat Islam mengusahakan
> untuk membuat penanggalan Hijriyah universal yang
> pasti. Kepastian penanggalan sangat vital untuk
> kehidupan manusia di manapun. Dan ini tak bisa
> ditempuh dengan cara ru'yah. Bulan dan matahari,
> sebagaimana dikatakan Qur'an, mengukuti "perhitungan"
> tertentu, "bi husban". Kalau hitungan ini diketahui,
> maka manusia akan bisa membuat penangggalan yang pasti
> untuk seluruh bulan sepanjang tahu.
>
> Mohon maaf, jika pendapat "awam" ini mengandung
> khilaf.
>
> Ulil
>
> --- Abdul Ghofur <[EMAIL PROTECTED] <abdulghofur1%40yahoo.co.uk>>
> wrote:
>
> > Mas Anam,
> >
> > Saya awam soal falak. Pernah ngaji dulu di sekolah.
> > Tapi tidak serius. Hanya
> > bisa dikit-dikit saja. Karena itu, saya hanya ingin
> > bercerita.
> >
> > Di sekolah dulu, di pesantren, saya punya guru, KH
> > Ghozali. Beliau Ketua
> > Lajnah Falakiyah di sekolak kami. Beliah mengajarkan
> > kepada kami, bahwa bagi
> > seorang ahli falak, hisab adalah qath'iy. Karena
> > itu, jika ada pertentangan
> > antara ru'yah dan hisab, maka yang dimenangkan
> > adalah hisab.
> >
> > Saya juga pernah nyantri di Kudus. Ngaji juga ke
> > Mbah Turaihan di Masjid
> > Menara. Beliau mengajarkan kepada kami hal yang
> > sama. Hisab adalah qath'iy.
> > Waktu lebaran, saya ke Kudus, sowan-sowan ke para
> > masyayekh. Tapi saya urung
> > ke Mbah Tur, karena beliau menyuruh para tamu untuk
> > mengqadha puasa satu
> > hari. Menurut beliau, lebaran pemerintah maju satu
> > hari, dan itu tidak
> > benar.
> >
> > Di Mesir, saya punya guru lagi. Kalau di Indonesia,
> > ia tentu seorang kiyai.
> > Ia sangat santun seperti kiyai-kiyai. Namanya Prof.
> > Dr. Musa Syahin Lasin,
> > penulis syarah Muslim paling baik untuk era moderen.
> >
> > Dalam muhadharahnya, di awal bulan Ramadhan, ia
> > mengkritik pemerintah yang
> > masih menggunakan rukyat. Menurutnya, sudah saatnya
> > kita beralih ke hisab.
> > Bukankan setiap hari kita salat lima waktu dengan
> > berpedoman pada hisab, dan
> > tidak lagi menggunakan mata telanjang?
> >
> > Tapi ia punya sikap lain dari kedua guru saya di
> > atas. Walaupun ia tidak
> > setuju sistem rukyat, dalam berpuasa Ramadhan ia
> > tetap mengikuti pemerintah.
> > Beliau tidak ngotot menentukan pilihan puasanya
> > sendiri.
> >
> > ghofur
> >
> > ----- Original Message -----
> > From: "Kh Anam" <[EMAIL PROTECTED] <gus.anam%40gmail.com>>
> > To: <[email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>>
> > Sent: Saturday, December 22, 2007 1:14 PM
> > Subject: Re: [kmnu2000] IDUL ADHA 1428 H. DAN
> > PROBLEMATIKANYA
> >
> >
> > Mas Muid,
> > Saya pribadi sangat antusias dengan pokok-pokok
> > pikiran sampean.
> >
> > Menurut saya, problem utama dalam perbedaan
> > penetapan awal bulan Hijriah
> > adalah gap pemikiran antara para ahli falak dan ahli
> > fikih, dan ini terjadi
> > di semua tempat.
> >
> > Di NU, perbedaan penetapan hari raya idul fitri
> > kemarin sebenarnya bukan
> > antara PBNU dan PWNU Jawa Timur, tapi antara para
> > ahli falak dan ahli fikih.
> > Yang saya tahu pak Salam Nawawi, ketua lajnah
> > falakiyah Jatim, juga tidak
> > mengabsahkan rukyatul hilal di Madura itu karena
> > memang waktu itu tidak
> > imkanur rukyat.
> >
> >
> >
> >
> __________________________________________________________
> > http://www.numesir.org untuk informasi tentang
> > Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau
> > info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
> >
> ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> > Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika
> > karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini
> > silakan kirim email ke:
> > [EMAIL PROTECTED]<kmnu2000-unsubscribe%40yahoogroups.com>
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
>
> Ulil Abshar-Abdalla
> Department of
> Near Eastern Languages and Civilizations
> Harvard University
>
> __________________________________________________________
> Be a better friend, newshound, and
> know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke