Gus Ghofur dan Mas Anam,
Saya sendiri idem ditto, awam dalam soal falak. Waktu
di di Tsanawiyah dan Aliyah dulu, pernah diajarkan
Rubu' dan Falak, tetapi tidak pernah saya seriusi
setelah itu. Sekarang sudah lupa semua. Bukunya sih
masih, lengkap dengan "ma'nanan" dan keterangan dari
guru.

Saya kira, ada benarnya kalau para "falakiyyun"
beranggapan bahwa perhitungan falak adalah qath'iyy.
Sebab, dalam asumsi mereka, alam raya mengikuti suatu
hukum objektif yang berlaku secara konstan (kalau
memakai bahasa Qur'an, "al-syamsyu wa 'l-qamaru bi
husban"). Jika manusia bisa mengetahui hukum itu, maka
dia bisa memprediksi banyak gejala astronomis dengan
pasti.

Ru'yah, menurut saya, adalah metode astronomi"
pra-falak, atau pra-ilmu. Metode ini sudah dipakai
sejak berabad-abad di jazirah Arab pra-Islam.
Sebagaimana falak adalah ilmu netral yang tidak serta
merta bersifat Islam, maka ru'yah adalah sama pula: ia
adalah metode netral yang bisa dipakai oleh siapa
saja, Muslim dan non-Muslim. Dan itulah yang terjadi
dalam kenyataan kongkret. 

Dalam pandangan ahli hadis atau kalangan sebagian
besar fukaha, asumsi yang berlaku lain sama sekali.
Karena Nabi menggunakan metode ru'yah, maka contoh itu
secara otomatis menjadikan metode itu secara
"normatif" mengikat. Sebab, segala tindakan Nabi
adalah "norma" bagi umat Islam. Oleh karena itu, dalam
sebagian besar mazhab fikih, ru'yah tetap dianggap
unggul ketimbang hisab atau falak. Hisab hanya berlaku
secara personal, tak bisa dijadikan sebagai landasan
bagi "public policy". 

Sekarang, kalau asumsinya dibalik: bahwa tidak semua
tindakan Nabi secara otomatis menjadi "norma"; maka
keadaannya akan berubah. Saya memakai asumsi yang
terakhir ini: bahwa metode ru'yah dipakai Nabi jelas
benar belaka. Tetapi hal itu tak langsung menjadikan
metode itu secara "normatif" lebih unggul dari hisab
atau falak. Kita tahu, melalui istiqra, bahwa banyak
tindakan dan ucapan (baca: perintah) yang dilakukan
oleh Nabi tidak dengan sendirinya langsung menjadi
norma bagi umat Islam. Melalui "qarinah" tertentu,
kita bisa memahami bahwa tindakan dan ucapan tertentu
dari Nabi tidaklah merupakan "norma".

Sebagaimana kalender Gregorian bisa ditetapkan dengan
pasti dan berlaku di seluruh dunia, tanpa perbedaan,
maka saya menghendaki hal serupa berlaku pula untuk
kalender Hijriyah. Kepastian kalender Hijriyah ini
sangat penting dari segi mempersatukan penanggalan
umat Islam untuk kepentingan ubudiyyah, tetapi juga
dari sudut kepentingan akademik. Menurut "Mu'jam
al-Udaba'" karangan Yaqut al-Hamawi, Imam Zamakhsyari
pengarang tafsir al-Kasy-syaf itu wafat pada bulan Dzu
'l-Hijjah, hari Arafah (alias tanggal 9), tahun 538 H.
Pertanyaannya: apakah tanggal ini tepat? Sebab kita
harus bertanya lagi: ini penanggalan a la ru'yah atau
hisab?

Untuk Idul Adha kemaren, ada tiga versi di Amerika:
Rabu, Kamis dan Jum'at. Saya berpikir dalam hati, ini
jelas non-sense. Bagaimana ada suatu sistem
penanggalan yang mengenal tiga versi seperti itu?

Buat saya, sidang "itsbat" seperti yang dipraktekkan
selama ini di Indonesia, mengandung sejumlah
kejanggalan berikut ini:

Kalau awal Ramadan dan Syawwal ditentukan melalui
sidang istbat, kenapa hal serupa tidak dilakukan untuk
awal seluruh bulan sepanjang tahun? Jika ada perbedaan
antara hisab dan falak untuk Ramadan dan Syawwal,
sudah pasti perbedaan itu akan terjadi untuk
bulan-bulan yang lain. Yang terjadi adalah sungguh
aneh: sementara awal bulan Ramadan dan Syawwal
ditentukan dengan sidang istbat, bulan-bulan
selebihnya ditentukan mengikuti penanggalan yang sudah
dibuat oleh para ahli falak. 

Dengan kata lain, dalam masyarakat Islam (paling tidak
di Indonesia), berlaku sistem "penanggalan ganda".
Yakni penanggalan ilmu falak, dan penanggalan
"politik" yang dibuat sesuai dengan keputusan
pemerintah.

Saya dulu mengajukan pertanyaan di milis ini yang tak
menemukan jawaban pasti: konon, NU mengadakan ru'yah
setiap bulan. Pertanyaan saya ketika itu: jika terjadi
perbedaan antara ru'yah dan hisab pada bulan-bulan
selain Ramadan dan Syawwal, apakah informasi itu
disebarkan ke seluruh warga NU? Apakah mereka
diperintahkan untuk mengoreksi kalender (biasanya
cetakan PT. Menara Kudus) yang sudah kedarung mereka
beli sejak awal tahun?

Kalau ini terjadi, maka saya bayangkan, betapa tak
prakyisnya penanggalan Hijriyah ini. Sebab jika awal
seluruh bulan ditentukan dengan ru'yah (agar konsisten
dengan hadis "shumu liru'yatihi dst."), maka akan
terjadi ketidakpastian.  

Saya lebih sepakat saat ini umat Islam mengusahakan
untuk membuat penanggalan Hijriyah universal yang
pasti. Kepastian penanggalan sangat vital untuk
kehidupan manusia di manapun. Dan ini tak bisa
ditempuh dengan cara ru'yah. Bulan dan matahari,
sebagaimana dikatakan Qur'an, mengukuti "perhitungan"
tertentu, "bi husban". Kalau hitungan ini diketahui,
maka manusia akan bisa membuat penangggalan yang pasti
untuk seluruh bulan sepanjang tahu.

Mohon maaf, jika pendapat "awam" ini mengandung
khilaf.

Ulil 





--- Abdul Ghofur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Mas Anam,
> 
> Saya awam soal falak. Pernah ngaji dulu di sekolah.
> Tapi tidak serius. Hanya 
> bisa dikit-dikit saja. Karena itu, saya hanya ingin
> bercerita.
> 
> Di sekolah dulu, di pesantren, saya punya guru, KH
> Ghozali. Beliau Ketua 
> Lajnah Falakiyah di sekolak kami. Beliah mengajarkan
> kepada kami, bahwa bagi 
> seorang ahli falak, hisab adalah qath'iy. Karena
> itu, jika ada pertentangan 
> antara ru'yah dan hisab, maka yang dimenangkan
> adalah hisab.
> 
> Saya juga pernah nyantri di Kudus. Ngaji juga ke
> Mbah Turaihan di Masjid 
> Menara. Beliau mengajarkan kepada kami hal yang
> sama. Hisab adalah qath'iy. 
> Waktu lebaran, saya ke Kudus, sowan-sowan ke para
> masyayekh. Tapi saya urung 
> ke Mbah Tur, karena beliau menyuruh para tamu untuk
> mengqadha puasa satu 
> hari. Menurut beliau, lebaran pemerintah maju satu
> hari, dan itu tidak 
> benar.
> 
> Di Mesir, saya punya guru lagi. Kalau di Indonesia,
> ia tentu seorang kiyai. 
> Ia sangat santun seperti kiyai-kiyai. Namanya Prof.
> Dr. Musa Syahin Lasin, 
> penulis syarah Muslim paling baik untuk era moderen.
> 
> Dalam muhadharahnya, di awal bulan Ramadhan, ia
> mengkritik pemerintah yang 
> masih menggunakan rukyat. Menurutnya, sudah saatnya
> kita beralih ke hisab. 
> Bukankan setiap hari kita salat lima waktu dengan
> berpedoman pada hisab, dan 
> tidak lagi menggunakan mata telanjang?
> 
> Tapi ia punya sikap lain dari kedua guru saya di
> atas. Walaupun ia tidak 
> setuju sistem rukyat, dalam berpuasa Ramadhan ia
> tetap mengikuti pemerintah. 
> Beliau tidak ngotot menentukan pilihan puasanya
> sendiri.
> 
> ghofur
> 
> ----- Original Message ----- 
> From: "Kh Anam" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Saturday, December 22, 2007 1:14 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] IDUL ADHA 1428 H. DAN
> PROBLEMATIKANYA
> 
> 
> Mas Muid,
> Saya pribadi sangat antusias dengan pokok-pokok
> pikiran sampean.
> 
> Menurut saya, problem utama dalam perbedaan
> penetapan awal bulan Hijriah
> adalah gap pemikiran antara para ahli falak dan ahli
> fikih, dan ini terjadi
> di semua tempat.
> 
> Di NU, perbedaan penetapan hari raya idul fitri
> kemarin sebenarnya bukan
> antara PBNU dan PWNU Jawa Timur, tapi antara para
> ahli falak dan ahli fikih.
> Yang saya tahu pak Salam Nawawi, ketua lajnah
> falakiyah Jatim, juga tidak
> mengabsahkan rukyatul hilal di Madura itu karena
> memang waktu itu tidak
> imkanur rukyat.
> 
> 
> 
>
______________________________________________________________________
> http://www.numesir.org untuk informasi tentang
> Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau
> info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
>
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
> Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika
> karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini
> silakan kirim email ke: 
> [EMAIL PROTECTED] 
>  
> Yahoo! Groups Links
> 
> 
> 
> 
> 


 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke