Salam,
Dalam fasal ke-17, Ibn Khaldun mengulas suatu gejala
menarik yang muncul dalam setiap peradaban yang telah
mencapai suatu taraf kematangan.
Sebagaimana kita tahu, Ibn Khaldun memakai istilah
"'umran" yang dalam kesarjanaan modern diterjemahkan
sebagai "peradaban". Saya lebih cenderung mengartikan
istilah ini sebagai "urbanisme" atau gejala meng-kota.
Sebab, apa yang disebut sebagai 'umran oleh Ibn
Khaldun selalu dikaitkan dengan fenomena kota
(al-hadhar) sebagai lawan dari gejala masyarakat badui
yang cenderung nomaden.
Judul fasal ini adalah, "Perihal bahwa profesi-profesi
akan mengalami penyempurnaan seturut dengan kian
sempurna dan menyebarnya gejala urbanisme" (hal.
400-401).
Dalam bagian ini, Ibn Khaldun mengemukakan suatu
observasi yang menarik yang paralel dengan teori
sosiologi modern mengenai "pembagian kerja" dan
diferensiasi sosial.
Ia mengatakan bahwa masyarakat yang belum mencapai
suatu kematangan dalam urbanisme di mana kota-kotanya
belum berkembang (tatamaddan al-madinah) cenderung
untuk memusatkan diri pada usaha untuk mencukupi
kebutuhan subsisten, yaitu mengusahakan bahan pangan
pokok (al-aqwat). Setelah tahap ini terlampaui, dan
kota-kota mereka kian maju, serta sejumlah bidang
pekerjaan (al-a'mal) mulai muncul, maka pelan-pelan
mereka akan mulai memanfaatkan surplus kekayaan yang
ada (al-zai'd) untuk hal-hal yang bersifat kemewahan
hidup, "luxuries" (al-kamalat min al-ma'ash).
Ada dua aspek yang inheren pada manusia yang
menyebabkan terjadinya gejala seperti ini. Pertama,
apsek yang menyebabkan manusia berbeda dengan
binatang, yaitu intelektualitas (fikr), dan aspek
kehewanan serta nutritif (al-hayawaniyyah wa
al-ghidza'iyyah). Kebutuhan manusia untuk memenuhi
tuntutan aspek yang kedua ini biasanya lebih mendesak,
dan karena itu harus didahulukan, ketimbang tuntutan
aspek yang pertama. Makian berkembang dan canggih
perkembangan 'umran atau irbanisme suatu masyarakat,
makin pesat pula perkembangan bidang-bidang profesi
dalam masyaralat bersangkutan.
Yang menarik, Ibn Khaldun memakai istilah
"al-shana'i'", bentuk plural dari "shani'ah" yang
dalam tulisan ini saya terjemahkan sebagai "profesi".
Mungkin terjemahan ini kurang terlalu tepat. Istilah
yang mungkin mendekati adalah "craft" atau kerajinan
tangan. Jika industrialisasi sudah muncul dalam
peradaban Islam saat itu, tentu istilah itu akan tepat
kita terjemahkan sebagai "teknologi". Selain istilah
ini, Ibn Khaldun juga memakai istilah lain yang sudah
lazim dipakai pada saat itu, yakni "al-'ulum" atau
ilmu. Penggunanaan dua istilah ini secara serentak
menandakan bahwa Ibn Khaldun sadar mengenai dua aspek
dalam ilmu, yakni aspek teoritik dan terapan. Ilmu
murni mungkin paralel dengan istilah "al-'ulum",
sementara ilmu terapan adalah sepadan dengan istilah
"al-shana'i'".
Suatu urbanisme yang matang dan berkembang maju,
menurut Ibn Khaldun, akan dibarengi oleh perumitan dan
pencanggihan di bidang "al-'ulum" dan "al-shana'i'".
Begitu pula saat 'umran atau urbanisme merosot,
kemajuan dalam bidang ilmu dan kerajinan juga akan
mengalami kemerosotan pula.
Pengamatan Ibn Khaldun ini jelas bukan berasal dari
fantasi yang berasal dari "awan", tetapi berdasarkan
pengamatan langsung dia pada "up" dan "down" dari
peradaban Islam sendiri. Berdiri pada abad ke-14, Ibn
Khaldun memiliki keuntungan dan kemewahan untuk bisa
melihat, menganalisis dan menjelaskan jatuh-bangunnya
peradaban Islam, dalam cara serupa yang belakangan,
dalam era modern, dilakukan oleh sejarawan-sejarawan
besar seperti Arnold Toynbee atau, yang lebih populer,
Will Durant.
Yang menarik adalah bahwa Ibn Khaldun tidak
semata-mata mengembalikan proses jatuh-bangunnya
peradaban Islam ini kepada "kehendak Tuhan", tetapi,
dengan teliti dan cermat, dia mencoba mencari proses
sosial-historis yang bekerja dalam masyarakat. Ia
melihat bahwa perkembangan peradaban tunduk pada suatu
hukum atau pola tertentu. Pola ini bekerja pada
masyarakat manapun, baik Muslim atau non-Muslim.
Marilah kita ikuti sejumlah detil-detil pengamatan Ibn
Khaldun yang mencerminkan sejumlah perkembangan yang
ada pada abad 14 Masehi. Sementara itu, kita perlu
mengetahui, walau secara selintas, semacam "state of
the art" dari peradaban Islam pada saat Ibn Khaldun
hidup. Sebagaimana kita tahu, Ibn Khaldun hidup dalam
rentangan antara 1332 M hingga 1406.
Pada saat itu, sekurang-kurangnya ada dua dinasti
besar Islam. Pertama adalah dinasti Mamluk di Mesir
yang berkuasa antara 1250-1517. Kedua adalah dinasti
Usmaniyah yang melanjutkan dinasti Abbasiyah yang
runtuh pada 1258. Pada saat Ibn Khaldun hidup,
riak-riak pencerahan mulai muncul di Eropa, terutama
di Italia. Ibn Khaldun juga hidup tidak lama sebelum
pecahnya reformasi dalam agama Kristen.
Contoh urbanisme yang maju pesat yang disebut oleh Ibn
Khaldun dalam bukunya ini adalah apa yang ia lihat di
Kairo, Mesir, ibu kota dari dinasti Mamluk. Ia
menyebut sejumlah profesi yang ada pada saat itu,
misalnya "jazzar", yakni profesi penyembelihan hewan,
"dabbagh", yakni penyamakan atau pengolahan kulit,
"kharraz", yakni semacam usaha pengolahan kulit untuk
menjadi bahan pakaian, "sha'igh", yakni "jewellery"
atau pengolahan emas menjadi bahan-bahan perhiasan,
"dahhan", pembuatan parfum, "shaffar", yakni
pengolahan kuningan, "al-hammami", yakni usaha mandi
uap (semacam industri spa yang sekarang menjamur di
Jakarta itu), "al-tabbakh", yakni usaha restoran,
"shamma'", yakni kerajinan lilin, "al-harras", usaha
yang berkaitan dengan pembuatan permen dan kue.
Ibn Khaldun juga menyebut jenis-jenis usaha lain yang
menarik, misalnya, jika memakai bahasa sekarang,
kursus musik, tari dan memainkan alat-alat perkusi
(mu'allim al-ghina' wa al-raqs wa qar' al-thubul 'ala
al-tauqi'). Istilah "qar' al-thubul 'ala al-tauqi'"
layak mendapat perhatian khusus di sini. Secara
harafiah, istilah itu berarti menabuh perkusi sesuai
dengan nada nota atau nada musik tertentu. Ini, antara
lain, memperlihatkan bahwa ketrampilan memainkan alat
musik dengan memakai nota tertentu merupakan bidang
yang digemari masyarakat pada saat itu sehingga muncul
profesi khusus untuk mengajarkannya.
Bidang pekerjaan lain yang disebut Ibn Khaldun dan
penting peranannya dalam reproduksi intelektual Islam
pada saat itu adalah "al-warraqun", yakni profesi
penulisan manuskrip buku. Pada saat itu, penggunaan
kertas sudah mulai dikenal luas dalam peradaban Islam,
sehingga memudahkan penyebaran karya-karya para
sarjana Islam. Peran penting dalam penyebaran ini
dimainkan oleh seorang "warraq" yang melakukan
penyalinan naskah secara manual. Pekerjaan "warraq"
bukan sekedar menyalin naskah (intisakh), tetapi juga
"editing" (tashih) dan penjilidan (tajlid). Dengan
kata lain, prfesi "warraq" adalah apa yang sekarang
berkembang menjadi "publishing house" atau penerbitan.
"Warraq" pada zaman Ibn Khaldun adalah semacam Mizan
atau Gramedia pada masa kita saat ini.
Ibn Khaldun menyebut perkembangan bidang-bidang ini
sebagai cerminan dari apa yang ia sebut sebagai
"al-taraf fi al-madinah" atau kemewahan urban. Dia
juga mengemukakan suatu pengamatan yang menarik bahwa
dalam segi-segi tertentu, kemewahan ini juga
kadang-kadang bergerak secara ekstrim. Ibn Khaldun
menyebut sejumlah contoh, misalnya: profesi melatih
burung dan keledai, sulap, dan berjalan serta menari
di atas seutas tali. Deskripsi Ibn Khaldun yang jeli
ini langsung membuat saya langsung berkesimpulan bahwa
pada saat itu pertunjukan sirkus sudah mulai
berkembang.
Pada penutup pengamatannya, Ibn Khaldun mengatakan
bahwa "kemewahan urban" ini hanya ada di Kairo yang
sangat maju saat itu, tetapi tak berkembang di Maghrib
atau Tunisia/Maroko, tempat di mana dia tinggal saat
itu.
Apa yang bisa kita simpulkan dari pengamatan Ibn
Khaldun ini? Tentu ada sejumlah hal menarik yang bisa
kita simpulkan dari pengamatan ini. Tetapi, satu hal
yang ingin saya sebut adalah bahwa peradaban Islam
pada saat keemasannya tidaklah seperti dibayangkan
oleh kaum Islamis "modern" atau pengusung ide
khilafah, yakni peradaban yang seluruhnya bertumpu
pada syariat Islam, fikih, dan aturan agama yang
ketat.
Era keemasan peradaban Islam itu juga mengenal sirkus!
Bersambung....
Ulil Abshar-Abdalla
Department of
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs