Salam,
Ibn Khaldun bukan saja seorang sejarawan yang bekerja
dengan konsep dan kategori besar, tetapi juga sangat
"rajin" melihat hal-hal yang sangat kecil. Pada Ibn
Khaldun kita melihat kombinasi yang menarik antara
studi sejarah dan sosiologi, suatu pendekatan yang,
kita tahu semua, pernah dikembangkan dengan amat baik
di Indonesia oleh alm. Prof. Sartono Kartodirdjo,
sejarawan terkenal dari UGM. 

Dalam bab kelima, fasal ke-22, Ibn Khaldun
mengemukakan suatu obeservasi yang menarik berkenaan
dengan perkembangan profesi (shina'ah) yang ada pada
zamannya.

Judul fasal itu adalah "Perihal bahwa seseorang yang
memiliki kecakapan dalam bidang tertentu, amat jarang
bahwa orang yang sama akan memiliki kecakapan dalam
tingkat yang sama di bidang yang lain" (fi man
hashalat lahu malakah fi shina'ah fa qalla an yujida
ba'du fi malakah ukhra). 

Pengamatan Ibn Khaldun ini didasarkan pada suatu teori
pengetahuan tertentu, atau tepatnya teori mengenai
proses kejiwaan. Menurut dia, makin seseorang
mendekati keadaan "alamiah", yakni keadaan ketika
seseorang belum mengalami proses belajar untuk
memperoleh kecakapan tertentu, maka makin mudahlah ia
untuk mempelajari kecakapan tersebut. Sebaliknya, jika
ia telah mempelajari suatu kecakapan tertentu, maka ia
akan sulit untuk mempelajari kecakapan lain dalam
derajat kecanggihan yang sama. 

Kecapakan, dalam pandangan Ibn Khaldun, adalah semacam
"warna". Jika jiwa manusia boleh kita analogikan
dengan sebuah kanvas, maka jiwa tersebut tak bisa
menerima sejumlah warna secara serentak. Kalaupun ada
sejumlah warna di tuangkan di sana, maka salah satu
akan tampak menonjol, sementara yang lain hanyalah
menjadi semacam latar belakang. 

Observasi Ibn Khaldun ini, jelas, bukan ia peroleh
dari "meditasi" di perpustakaan, tetapi berdasarkan
apa yang ia lihat dalam kehidupan sehari-hari,
terutama dalam konteks sejumlah kota besar yang
berkembang pada zamannya di mana "'umran" atau
urbanisme mencapai tahap yang sangat canggih. 

Ibn Khaldun memberikan contoh: jika seseorang mencapai
suatu keunggulan dalam bidang kecakapan jahir-menjahit
(khayyath/khiyathah), begitu rupa sehingga kecakapan
itu meresap dengan mendalam dalam dirinya (rasakhat fi
nafsihi), maka ia amat sulit sulit untuk bisa unggul
dalam, misalnya, bidang pertukangan kayu atau bangunan
(nijarah/bina'). Kecuali jika dia belum begitu
menguasai dengan benar kecakapan menjahir, maka ia
bisa belajar kecakapan pertukangan dengan mudah.
Tetapi, begitu satu kecakapan telah meresap dengan
mendalam dalam dirinya, ia sulit mengusirnya, dan
menggantinya dengan kecakapan baru.

Hal ini, menurut Ibn Khaldun, bukan saja berlaku pada
sejumlah ilmu terapan yang mengandaikan pekerjaan
tangan, tetapi juga pada ilmu-ilmu yang lebih bersifat
konseptual. Jika seseorang menguasai "kecakapan
intelektual" (malakah fikriyyah) tertentu, maka ia
akan sulit untuk menguasai kecakapan lain dalam
derajat yang sama. 

Ibn Khaldun tentu tidak mengabaikan adanya sejumlah
kasus perkecualian. Oleh karena itu, dia mengatakan
bahwa sedikit sekali orang yang bisa "unggul" dalam
derajat yang sama dalam sejumlah kecakapan, baik
kecakapan tangan atau konseptual. Harus kita ingat,
"ambisi intelektual" yang ingin dicapai oleh Ibn
Khaldun dalam bukunya, "Muqaddimah", adalah untuk
membangun suatu "hukum" yang berlaku umum, bukan
kasus-kasus terbatas yang sporadik--sesuatu yang tentu
amat mencengangkan dilakukan oleh seorang sarjana
Muslim di abad ke-13 M. 

Tampaknya ada sesuatu yang secara implisit hendak
dikatakan oleh Ibn Khaldun melalaui observasinya--
tentu tak dapat kita baca dalam bukunya secara
harafiah. Observasi ini, tampaknya, hendak mengatakan
bahwa spesialisasi adalah sesuatu yang inheren dalam
"'umran" atau urbanisme tinggi. Spesialisasi
mengandaikan bahwa seseorang mencurahkan seluruh
tenaga intelektualnya untuk satu hal hingga ia
mencapai keunggulan di sana. Karena itu, amat susah
sejumlah spesialisasi dikuasai dengan baik dan
serentak oleh seseorang. 

Dengan kata lain, istilah "shina'ah" yang kerapkali
dipakai oleh Ibn Khaldun sebetulnya dapat kita
tafsirkan sebagai semacam indikasi ke arah
spesialisasi. 

Bersambung...

 Ulil Abshar-Abdalla
Department of 
Near Eastern Languages and Civilizations
Harvard University




      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 

Kirim email ke