Pada hari Rabu, tanggal 12/11/2008 pukul 22:50 +0800, Fathonah K. Daud
menulis: 
> Kang Arif,
> 
> Istilah 'gerogoti' sengaja saya paakai disini. Sampeyan kan orang Jawa
> asli masak gak faham sih...'Gerogot' adalah bahasa Indonesia yang saya
> kira diambil dari bahasa Jawa (maafkan kalau salah). Maksudnya adalah
> mengambil (atau merampas) sedikit demi sedikit. Karena cara
> mengambilnya tidak transparan, maka biasanya sering tidak dirasai oleh
> pihak lain (si empunya) dan ini tentu merugikan.

Saya faham, Mbak.
Tapi itu kan haknya yg digerogoti (baca: diajak) sih Mbak. Kalau dia mau
diajak ikut jama'ah mereka, itu hak mereka. Gantian lain kali kita
"menggerogoti" (mendakwahi) mereka dg cara yg baik. 
Memang didunia ini selalu saja ada praktek gerogot-menggerogoti. Saya
pandang ini sesuatu yg lumrah.
Melihat massa NU yg besar sekali, saya yakin sehebat apa mereka
menggerogoti dan sampe kapanpun, massa NU ndak akan habis.

Kalau sekedar gerogot-menggerogoti dalam hal kwantitas spt ini saya kira
tdk perlu menjadi kekhawatiran dan kegundahan. 
Baru kalau orang2 NU sendiri "menggerogoti" nilai2 dan prinsip2 ke-NU-an
ini baru sangat mengecewakan.


> Nah, yang digerogoti 'mereka' ini adalah massanya NU. Gerakan begini
> ini sudah terjadi di mana2 sampai warga NU yang di luar negeri juga
> banyak yang digerogoti 'mereka'. Mula2 yang dekati ya...mungkin
> seperti saya dulu (mulai dari pakaian dan amalan2 yang lain), tapi
> alhamdulillah saya survive berkat bantuan ketua dan pengurus KSW atau
> KMNU waktu itu...
> 
> Sedangkan masalah pemahaman agama, NU adalah yang paling moderat
> sepanjang pengetahuan saya. NU selalu bisa mentolerani faham ajaran
> lain termasuk bertolak ansur dengan pemeluk agama lain. Hal ini karena
> dalam testimoni sejarah NU lahir dan penganut garis tengah
> (Asy'ari-Maturudi) dalam polarisasi teologis antara Mu'tazilah Vs
> dogmatis Ahmad bin Hanbal, atau Khawarij Vs Syi'ah (masalah Imamah
> Ali), atau Mu'tazilah Vs AlDhahiri (dalam polarisasi fiqh) dll.
> Masalah perbedaan faham itu hal biasa dalam sejarah pemikiran Islam.
> Apalagi masalah2 furu'iyyah begitu bukan menjadi persoalan besar dalam
> beribadah menurut faham NU. Jadi, kalau orang gak qunut itu bukan
> berarti solatnya gak sah, hanya kurang afdlol dll. Kalau ada orang
> membid'ahkan maulid Nabi ya...itu gak papa..terserah aja dan gak
> berarti murtad. Intinya, menjadi NU gak mudah mengkafirkan atau
> memurtadkan orang yang gak sehaluan dengan NU...gicu lho...
> 
> Terima kasih

He'eh, akur, Mbak.


Salam
AH

Kirim email ke