(sambungan)
AB: Pak Kiai menulis, "Para santri amat paham tentang arti kata rakyat”, 
“sangat paham tentang arti hidup dalam penjajahan”. Posisi ontologis dan 
epistemologis ini sebagian bisa mematahkan argumen serorang anak muda lulusan 
pesantren, yang ikut gerbong “liberal-PSI-isme”, yang menyebut “bagaimana 
mungkin kiai dan orang-orang pesantren bisa mengerti yang diusung Baso, yang 
seperti pemikiran Bhabha, Spivak, dan Edward Said, terlalu jauh dan tidak 
nyambung dengan pikrian orang-orang pesantren”. 
 
SZ: Ya, Persoalannya pada anak muda ini, ia tidak memahamai apa sebetulnya 
karakter pesantren seperti yang disinggung Saifuddin Zuhri: “Para santri amat 
paham tentang arti kata rakyat”, “sangat paham tentang arti hidup dalam 
penjajahan”. Sejarah pandangan pesantren di Jawa dan di luar Jawa, adalah 
akumulasi dari sejarah panjang pergumulan memahami arti kata rakyat dalam 
kehidupan sehari-hari mereka bergulat dengan situasi penjajahan dan eksploitasi 
orang-orang berkulit putih. Seandainya Bhabha, Spivak, dan Edward Said adalah 
orang-orang Jawa, maka yang pertama-tama mereka lakukan untuk membangun 
teori-teori Poskolonialnya adalah memaknai praktik sehari-hari orang-orang 
pesantren ini dalam pengalaman hidup di masa kolonial hingga pasca kolonial. 
Bukan malah mengkampanyekan kepada anak-anak muda pesantren untuk menjadi 
liberal anti kiai dan pesantren dan berkiblat kepada pemikiran modernis. Anak 
muda kader liberal ini hanya memahami pikiran
 orang-orang pesantren sebagai sebuah tabula rasa, yang bisa diisi apa saja, 
yang kosong dari pengalaman sejarah dengan bangsanya dalam konteks penjajahan, 
dan yang sedang melawan kolonialisme tersebut. 
 
AB: Mungkin anak-anak muda ini seperti ini karena ketika nyantri di pesantren 
masih lugu dan asal nyantri saja, sehingga tidak mengerti pesantrennya 
sendiri.....?
 
SZ: Tidak begitu juga. MAsalahnya mengapa begitu mudahnya memunggungi 
(membelakangi) segenap tumpukan pengalaman sejarah yang dialami pesantren 
tersebut, dan seakan orang-orang pesantren yang dilihatnya tidak ada bedanya 
dengan PKS, HTI atau Abu Bakar Baasyir. Dan, saya tidak tahu, apakah ini kasus 
individual ataukah sebuah proses yang sistematik yang dilakukan terhadap 
anak-anak muda ini sehingga mereka dengan mudah kena penyakit “amnesia 
kolektif” (serba lupa, ignorant dan cuek) terhadap segenap 
pencapaian-pencapaian historis dan kultural dari orang-orang pesantren ini 
(yang jelas-jelas punya kontribusi juga dalam mengantar mereka bisa masuk ke 
Jakarta dan hidup mapan di sana), terutama pencapaian-pencapaian mereka dalam 
merumuskan ideologi-ideologi dan kerangka pikir dan baca dalam membaca situasi 
kolonial maupun pasca kolonial. 
(bersambung)


      

[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke