Sahabat-sahabat, Membaca tulisan berseri tersebut, komentar saya begini: Sayang, tulisan bersambung ini hanya "imajiner" belaka. Coba kalau tulisan utuh dan bukan "non-imajiner", pasti kebih menarik dan menantang. Karena, bagi saya, tulisan dari hasil wawancara imajiner ini tak lebih sebagai strategi Mas Basso saja untuk "cari aman" atas gagasannya. Apalagi, yang lebih parah lagi, strategi untuk memperbesar "cara aman" ini dilakukan dengan "berlindung" di bawah nama besar KH Saifuddin Zuhri, tokoh NU yang disegani secara luas itu. Dengan mengeksploitasi genre wawancara imajiner itu, Mas Basso kelihatannya mengeksploitasi nama besar Kyai Saifuddin Zuhri. Konkretnya, dia memaksakan agar gagasan itu bisa terucap lewat lisan Kyai Saifuddin Zuhri, dan bukan melalui lisan dia sendiri. Padahal, itu adalah murni gagasan dia sendiri. Tulisan hasil wawancara imajiner itu menarik. Namun, tidak banyak berarti dari sisi pertanggungjawaban akademik karena penulisnya menggunakan orang lain (dengan nama besar pula) untuk menjadi "penyambung lidah" lewat model wawancara imajiner. Salam, Akh. Muzakki "nyanglaginyantridiaustralia"
--- On Fri, 2/6/09, ahmad baso <[email protected]> wrote: From: ahmad baso <[email protected]> Subject: [kmnu2000] Traveling Kiai Saifuddin Zuhri (7) To: [email protected] Date: Friday, February 6, 2009, 9:02 AM (sambungan) SZ: saya kira, mengadopsi Bhabha, al-Jabiri, Said atau Spivak di era Neo-Liberalisme kini, adalah melanjutkan rumusan ideologi-ideologi dan kerangka pikir dan baca orang-orang pesantren itu. Itulah pula alasannya, mengapa orang-orang pesantren menolak liberalisme, sekularisme, dan pluralisme, karena tidak sesuai dengan struktur pengalaman mereka dalam melawan penjajahan. Yakni struktur diniyah-ijtimaiyah-wathaniyah anti-kolonial. Tapi, karena anak-anak muda liberal ini sudah menderita amnesia kolektif terhadap tradisinya, maka yang terlintas adalah bahwa kiai-kiai Nu jumud, konservatif, kolot, dan seterusnya........ (to be liberal is to be against the pesantren community, to be secular to be against the nation, and to be pluralist is to be cooperative along the way with the neo-liberal imperialists.....). Bagi orang-orang pesantren, liberalisme, sekularisme dan pluralisme sudah menjadi bagian dari kesadaran mereka, dalam pengalaman sejarah mereka, maka pluralisme sudah menjadi bagian dari agenda ukhuwah wathaniyah, sekularisme dibahasakan ke dalam wacana ke-NU-an, yakni pemilahan antara Islam sebagai dasar aqidah, sedangkan Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara, sementara liberalisme dalam bahasa tajdid dan al-muhafazhah wal-akhdzu. Cuma orang-orang yang mengangkat dan mempromosikan ini menghendaki orang-orang pesantren dan anak-anak bangsa ini untuk bicara pluralisem tapi mengabaikan ukhuwah wathaniyah, mau bicara sekularisme tapi mengabaikan dasar filosofis kesepakatan berbangsa yang bersendikan pada kemandirian dan kemerdekaan komunitas beragama, sedangkan liberalisme ingin mengajar para kiai dan pesantren untuk berpaling dari tradisinya, dengan menyebutnya sumber illiberalisme. Meski sebagian anak mdua NU melirik kepada tradisi, seperti yang mereka pelajari di bangku akademik, dalam maupun luar negeri, namun yang mereka pelajari adalah tradisi yang sudah kehilangan elan vitalnya dalam kehdiupan sehari-hari. Tradisi yang sudah terfragmentasi, yang dicomot sana-sini, kehilangan konteksnya, karena hanya menjadi klasissme sesuatu yang sudah mati, tersisa seperti bangkai. (Dalam satu wawancara pada 1986 Edward Said pernah menyebut kesenjangan antara pengalaman dirinya sebagai penulis yang bergumul dengan persoalan-persoalan kontemporer dan sebagai pengajar di runag kelas yang monoton dan jumud yang terpaku dengan klasisisme itu. Lihat Edward W. Said, Overlapping Territories: The World, the Text, the Critic, dalam Power, Politics, and Culture: Interviews with Edward W. Said(ed. Gauri Viswanathan) (New York: Pantheon Books, 2001), hal. 53-68.) Singkatnya, tradisi sebagai ss yang lampau, bukan tradisi sebagai sesuatu yang kontemporer yang digeluti kalangan Nahdliyin dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bahasa tradisi yang mereka pelajari apalagi dalam ruang kelas kesarjanaan Amerika, Eropa atau Australia -- bukan lagi sebagai maksim berpikir untuk membaca realitas dunia ini. Bahkan tradisi yang diajarkan kepada mereka hanya sekedar sebagai ruang privat, tempat bernostalgia (seperti pandangan Giddensian), sebuah ruang eksotik untuk bertamasya. Sebaliknya, maksim berpikir yang mereka pakai sehari-hari adalah bahasa kontemporer (seperti bahasa libertarian, civic culture, dst), yang sepenuhnya berjarak jauh dari tradisi yang mereka pelajari dalam ruang kelas. Seperti cara mereka mengkaji pandangan as-Suyuthi dalam al-Itqan dan ulasan tentang teknik penulisan huruf Arab pegon dalam khazanah klasik Jawa. (Dalam analisis saya, contoh terdekat untuk ini ada pada pemikiran Nurcholish Madjid, yang katanya punya paham neo-modernisme, dimana tradisi hanya bermakna sejauh itu sudah terlebih dahulu diberi ruang berbicara oleh bahasa kontemporer modernitas. Contoh jelas ketimpangan itu ketika Madjid mengangkat dua ruang yang sangat kontras antara dunia Ibnu Taymiyah dan dunia Robert N. Bellah. Kita lihat bagaimana yang aktif berbicara dalam pikiran Madjid adalah Bellah, bukan Ibnu Taymiyah yang hanya jadi obyek belaka untuk pembenaran tesis-tesis kontemporer tentang Islam dan modernitas. Benar, ini adalah pengalaman overlapping, tumpang-tindih, seperti disebut Edward Said. Tapi pengalaman Said dengan kondisi tersebut, antara ke-Palestinian-nya dan kesarjanaannya yang sepenuhnya Barat, bisa melahirkan yang pertama sebagai subyek, fail, sementara yang terakhir sebagai maful, sehingga menjadi kreatif karena ke-Palestina-annya senantiasa hidup dan masih tetap terus bergerak merespon dan beraksi, maka pengalaman Madjid adalah sebaliknya, memberi suara untuk yang terakhir dengan mengorbankan yang pertama sebagai pembenaran, dan bukan sebuah pergumulan historis dan kebudayaan yang kreatif). Ketika siap-siap untuk pulang ke negerinya sendiri selepas kuliah, mereka tidak jarang dinasehati oleh dosen-dosennya yang asal Amerika, misalnya, dalam bahasa-bahasa kontemporer (tentang kondisi Indonesia kini yang terpuruk, tentang Amerika yang maju sebagai contoh yang baik, dan seterusnya), bukan dalam bahasa tradisi mereka sendiri yang punya ruh dan jasad, yang berinteraksi dengan sebuah wilayah kebudayaan dan ruang sosial sebagaimana yang diamalkan kalangan Nahdliyin. Kesenjangan seperti itu, lebih parah lagi, dijadikan pretext (dalih pembenaran) untuk membabat kekeliruan yang terakhir dengan bahasa pertama yang kontemporer. Seperti dalam kasus-kasus keagamaan yang muncul di Tanah Air tiga tahun belakangan ini. Coba perhatikan, yang namanya tradisi, paham keagamaan, pandangan kiai, fatwa, ormas Islam, pengetahuan pesantren, semuanya jadi jorok ketika diuji dalam laboratorium civil liberties. Ujung-ujungnya memang untuk kemudian kembali ke pola awal yang dominan, bahwa tradisi memang merusak di ruang publik, oleh karena itu harus dikembalikan ke ruang privat saja, sebagai sebuah klangenan saja, sebagai tempat untuk beromantisasi untuk keluarga, apalagi kalau ternyata hidup jauh dari kampung halaman. Catatan ini membawa saya kepada satu pertanyaan berikut: lalu apa yang dimaknai tradisi oleh NU dalam konteks overlapping itu? Sebetulnya saya mau menghindar dari kata tradisi sesuatu yang diciptakan oleh disiplin pengetahuan modern untuk menyebut segala yang berbau anti-kemodernan. Orang-orang pesantren tidak menyebut segenap pandangan dunianya dengan bahasa tradisi. Yang mereka sebut hanya Sunni, Aswaja, kitab kuning, khazanah, yang sebetulnya membentang luas dalam ruang dan waktu, yang bukan hanya mencakup masa lalu, tapi juga kekinian dan masa depannya. Kekinian, karena adanya pergumulan dengan masa kini, dengan mengerahkan segenap potensi keilmuan, hingga praksisnya, dalam respon terhadap segala yang kontemporer itu (praktik seperti ini, dalam bahasa Bourdieu, practice, bagaimana kita menyebutnya? Kata tradisi menag tidak cukup) (bersambung) [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
