(sambungan)
SZ: saya kira, mengadopsi Bhabha, al-Jabiri, Said atau Spivak di era
Neo-Liberalisme kini, adalah melanjutkan rumusan ideologi-ideologi dan kerangka
pikir dan baca orang-orang pesantren itu. Itulah pula alasannya, mengapa
orang-orang pesantren menolak liberalisme, sekularisme, dan pluralisme,
karena tidak sesuai dengan struktur pengalaman mereka dalam melawan penjajahan.
Yakni struktur diniyah-ijtimaiyah-wathaniyah anti-kolonial. Tapi, karena
anak-anak muda liberal ini sudah menderita amnesia kolektif terhadap
tradisinya, maka yang terlintas adalah bahwa kiai-kiai Nu jumud, konservatif,
kolot, dan seterusnya........ (to be liberal is to be against the pesantren
community, to be secular to be against the nation, and to be pluralist is to be
cooperative along the way with the neo-liberal imperialists.....).
Bagi orang-orang pesantren, liberalisme, sekularisme dan pluralisme sudah
menjadi bagian dari kesadaran mereka, dalam pengalaman sejarah mereka, maka
pluralisme sudah menjadi bagian dari agenda ukhuwah wathaniyah, sekularisme
dibahasakan ke dalam wacana ke-NU-an, yakni pemilahan antara Islam sebagai
dasar aqidah, sedangkan Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara,
sementara liberalisme dalam bahasa tajdid dan al-muhafazhah wal-akhdzu. Cuma
orang-orang yang mengangkat dan mempromosikan ini menghendaki orang-orang
pesantren dan anak-anak bangsa ini untuk bicara pluralisem tapi mengabaikan
ukhuwah wathaniyah, mau bicara sekularisme tapi mengabaikan dasar filosofis
kesepakatan berbangsa yang bersendikan pada kemandirian dan kemerdekaan
komunitas beragama, sedangkan liberalisme ingin mengajar para kiai dan
pesantren untuk berpaling dari tradisinya, dengan menyebutnya sumber
illiberalisme.
Meski sebagian anak mdua NU melirik kepada tradisi, seperti yang mereka
pelajari di bangku akademik, dalam maupun luar negeri, namun yang mereka
pelajari adalah tradisi yang sudah kehilangan elan vitalnya dalam kehdiupan
sehari-hari. Tradisi yang sudah terfragmentasi, yang dicomot sana-sini,
kehilangan konteksnya, karena hanya menjadi klasissme sesuatu yang sudah
mati, tersisa seperti bangkai. (Dalam satu wawancara pada 1986 Edward Said
pernah menyebut kesenjangan antara pengalaman dirinya sebagai penulis yang
bergumul dengan persoalan-persoalan kontemporer dan sebagai pengajar di runag
kelas yang monoton dan jumud yang terpaku dengan klasisisme itu. Lihat Edward
W. Said, Overlapping Territories: The World, the Text, the Critic, dalam
Power, Politics, and Culture: Interviews with Edward W. Said(ed. Gauri
Viswanathan) (New York: Pantheon Books, 2001), hal. 53-68.) Singkatnya, tradisi
sebagai ss yang lampau, bukan tradisi sebagai sesuatu yang
kontemporer yang digeluti kalangan Nahdliyin dalam kehidupan mereka
sehari-hari. Bahasa tradisi yang mereka pelajari apalagi dalam ruang kelas
kesarjanaan Amerika, Eropa atau Australia -- bukan lagi sebagai maksim berpikir
untuk membaca realitas dunia ini. Bahkan tradisi yang diajarkan kepada mereka
hanya sekedar sebagai ruang privat, tempat bernostalgia (seperti pandangan
Giddensian), sebuah ruang eksotik untuk bertamasya.
Sebaliknya, maksim berpikir yang mereka pakai sehari-hari adalah bahasa
kontemporer (seperti bahasa libertarian, civic culture, dst), yang
sepenuhnya berjarak jauh dari tradisi yang mereka pelajari dalam ruang kelas.
Seperti cara mereka mengkaji pandangan as-Suyuthi dalam al-Itqan dan ulasan
tentang teknik penulisan huruf Arab pegon dalam khazanah klasik Jawa. (Dalam
analisis saya, contoh terdekat untuk ini ada pada pemikiran Nurcholish Madjid,
yang katanya punya paham neo-modernisme, dimana tradisi hanya bermakna sejauh
itu sudah terlebih dahulu diberi ruang berbicara oleh bahasa kontemporer
modernitas. Contoh jelas ketimpangan itu ketika Madjid mengangkat dua ruang
yang sangat kontras antara dunia Ibnu Taymiyah dan dunia Robert N. Bellah. Kita
lihat bagaimana yang aktif berbicara dalam pikiran Madjid adalah Bellah, bukan
Ibnu Taymiyah yang hanya jadi obyek belaka untuk pembenaran tesis-tesis
kontemporer tentang Islam dan modernitas.
Benar, ini adalah pengalaman overlapping, tumpang-tindih, seperti disebut
Edward Said.
Tapi pengalaman Said dengan kondisi tersebut, antara ke-Palestinian-nya dan
kesarjanaannya yang sepenuhnya Barat, bisa melahirkan yang pertama sebagai
subyek, fail, sementara yang terakhir sebagai maful, sehingga menjadi kreatif
karena ke-Palestina-annya senantiasa hidup dan masih tetap terus bergerak
merespon dan beraksi, maka pengalaman Madjid adalah sebaliknya, memberi suara
untuk yang terakhir dengan mengorbankan yang pertama sebagai pembenaran, dan
bukan sebuah pergumulan historis dan kebudayaan yang kreatif). Ketika siap-siap
untuk pulang ke negerinya sendiri selepas kuliah, mereka tidak jarang
dinasehati oleh dosen-dosennya yang asal Amerika, misalnya, dalam bahasa-bahasa
kontemporer (tentang kondisi Indonesia kini yang terpuruk, tentang Amerika yang
maju sebagai contoh yang baik, dan seterusnya), bukan dalam bahasa tradisi
mereka sendiri yang punya ruh dan jasad, yang berinteraksi dengan sebuah
wilayah kebudayaan dan ruang sosial
sebagaimana yang diamalkan kalangan Nahdliyin. Kesenjangan seperti itu, lebih
parah lagi, dijadikan pretext (dalih pembenaran) untuk membabat kekeliruan yang
terakhir dengan bahasa pertama yang kontemporer. Seperti dalam kasus-kasus
keagamaan yang muncul di Tanah Air tiga tahun belakangan ini.
Coba perhatikan, yang namanya tradisi, paham keagamaan, pandangan kiai, fatwa,
ormas Islam, pengetahuan pesantren, semuanya jadi jorok ketika diuji dalam
laboratorium civil liberties. Ujung-ujungnya memang untuk kemudian kembali ke
pola awal yang dominan, bahwa tradisi memang merusak di ruang publik, oleh
karena itu harus dikembalikan ke ruang privat saja, sebagai sebuah klangenan
saja, sebagai tempat untuk beromantisasi untuk keluarga, apalagi kalau ternyata
hidup jauh dari kampung halaman. Catatan ini membawa saya kepada satu
pertanyaan berikut: lalu apa yang dimaknai tradisi oleh NU dalam konteks
overlapping itu? Sebetulnya saya mau menghindar dari kata tradisi sesuatu
yang diciptakan oleh disiplin pengetahuan modern untuk menyebut segala yang
berbau anti-kemodernan. Orang-orang pesantren tidak menyebut segenap pandangan
dunianya dengan bahasa tradisi. Yang mereka sebut hanya Sunni, Aswaja, kitab
kuning, khazanah, yang
sebetulnya membentang luas dalam ruang dan waktu, yang bukan hanya mencakup
masa lalu, tapi juga kekinian dan masa depannya. Kekinian, karena adanya
pergumulan dengan masa kini, dengan mengerahkan segenap potensi keilmuan,
hingga praksisnya, dalam respon terhadap segala yang kontemporer itu (praktik
seperti ini, dalam bahasa Bourdieu, practice, bagaimana kita menyebutnya? Kata
tradisi menag tidak cukup)
(bersambung)
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/