Atau biarkan persoalan itu bergulr terus hingga pemerintahan baru nanti.

Bagi Rudi Ramly persoalannya menjadi sederhana yaitu Habibie akan terus atau
tidak. Kemungkinan ini mestinya menjadi bagian dari kalkulasinya untuk
memutuskan telanjang atau tidak. Dia kini menjadi penentu hasil SU nanti.

Pengakuan dia ke PDIP dan kemudian pengakuan ke Muladi menunjukkan
keraguannya didalam membuat kalkulasi ke depan. Bagaimanapu juga, dia emang
harus menangung resiko dari apapun putusannya. Meminimumkan resiko adalah
target yang mestinya hendak dia capai.

----- Original Message -----
From: Abdul Fatah <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: 03 September 1999 21:26
Subject: Re: [Kuli Tinta] Bali Gate


Assalamualaikum
Bung Dave,
Kalau saat itu Bank Bali butuh dana segar, jawabannya tentu bukan cessie
gaya EGP. Bukankah dari cessie itu Bank Bali juga tidak dapat dana segar?
Bahkan juga setelah terjadi pembayaran dari BI.
Lalu kalau Bank Bali sudah BTO atau restrukturisasi, mengapa BI harus
mentransfer uangnya ke Bank Bali? Mengapa bukan dengan nota perhitungan pro
forma, mengurangi BLBI-nya saja?
Saya kira banyak cara mendapat dana segar, apalagi nama Bank Bali masih
cukup baik secara International.

Maaf saya bukan orang Bank. Tetapi ada pendapat yang berkembang bahwa Rudy
Ramli melihat skenario 'perampasan' Bank Bali itu, lalu bereaksi secara
salah. Diduga dia berusaha mengempiskan asset Bank Bali,  diantaranya
bekerja sama dengan pihak luar, seperti EGP itu, atau penjualan saham BB di
Jerman.
Akhirnya, Rudy yang tadinya mendapat simpati masyarakat karena dikira
sebagai pihak yang teraniaya, sekarang mungkin sekali terpaksa jadi korban
yang menanggung kesalahan banyak orang.

Kalau Anda mau membuat pembelaan untuk Rudy, caranya hanya dengan mengatakan
kejadian sebenarnya kepada Polisi. Termasuk keterlibatan semua pihak. Jangan
takut. Mungkin dia dihukum juga. Tetapi hanya sebatas kesalahan yang
dilakukannya, misalnya hubungannya dengan agen penjualan saham BB di Jerman.
Dan akan bebas kalau memang tidak bersalah.
Kalau bukan cerita sebenarnya, besar kemungkinan dia harus juga menanggung
kesalahan orang-orang (pejabat?) yang dia lindungi.

Maaf kalau tidak berkenan.

Wassalam
Abdul Fatah

On Thu, 02 September 1999, [EMAIL PROTECTED] wrote:

> buat rekan-rekan millis Kuli tinta,
> saya punya satu pertanyaan sedikit nih sehubungan dengan kasus Bali Gate,
> tapi sebelumnya saya minta maaf dulu, bukannya gara-gara saya kerja di
Bank
> Bali trus saya mencoba melempar pertanyaan ini kepada anda-anda semua
untuk
> membela mantan bos saya, sama sekali bukan, tapi saya hanya ingin
> mengetahui opini publik saja, apakah mantan bos saya itu udah benar-benar
> dicap jelek oleh masyarakat.
>
> Pertanyaan saya sederhana saja, apakah salah bila seseorang ingin menagih
> harta miliknya kepada orang lain yang dihutangi oleh dia, tapi mendapat
> halangan oleh orang lain, trus karena merasa terdesak oleh waktu (ingat
> pada saat itu kantor kami sangat membutuhkan dana segar untuk menutupi
> biaya rekapitalisasi yang penghitungan dananya sendiri masih simpang siur
> kebenarannya sampe sekarang ! ) maka dia berusaha mencari jalan keluar
yang
> terbaik untuk mencairkan dana tersebut, dan akhirnya dipilihlah jalur yang
> seperti ada sekarang ini, dengan pertimbangan kalau udah mendekati garis
> pejabat, urusannya jadi runyam !
> bersalahkah dia ? atau hanya gara-gara transaksi tersebut tidak dicatat
> dalam pembukuan kantor terus beliau dianggap menggelapkan uang rakyat ?
> bagaimana opini anda tentang ini ?
> saya tunggu, sekali lagi ini bukan dalam rangka membela mantan bos saya,
> sama sekali tidak, hanya ingin tau saja..
> sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih...
>
> regards..
>
> = dave =
> the truth is out there !!
>
>
>














______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI 
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]

Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!










Kirim email ke