Bung dave,
Bagaimana sih hubungan BB dengan Standard Chartered ketika itu? Mengapa bukan hubungan
ini yang di speed up untuk mendapat dana segar.
Atau mencari strategic partner lain, mendampingi Standard Chartered, supaya beban dana
segar ditanggung bersama.
Atau minta bantuan fund manager yang banyak tersebar dibelantara financial market?
Upaya mencairkan tagihan antar Bank kan malah bisa jadi bumerang. Misalnya hanya
menghasilkan catatan pengurangan hutang BLBI, tanpa dapat dana segar.
Kalau mengenai cessie EGP, rasanya sulit mengatakan itu bukan rekayasa. Soalnya BB kan
nggak dapat apa apa ketika cessie ditanda tangani. Bukan seperti lazimnya cessie.
Masalahnya siapa merekayasa siapa. Atau sama sama merekayasa?
Dan nampaknya, Rudy diprasangkai ikut bermain disitu. Sehingga masyarakat menilainya
negatip.
Ditambah lagi dengan berita obral asset di Singapore, hubungannya dengan Deutsche Bank
dan sebagainya, jelas citra Rudy makin nggak positip.
Bisnis Bank, yang dijual kan kepercayaan. Makanya IMF dan World Bank serius
menanggapi, dan menganggap ini pelecehan kepercayaan.
Perkembangan selanjutnya, posisi Rudy makin terpuruk lagi. Seandainya dia tidak
berpindah jalur dari PDIP ke Pemerintah, masih mungkin fifty fifty kansnya. Sekarang
kepalang basah, dia terpaksa mempertahankan surat bantahannya, dan pasti Kwik cs terus
berusaha menjebolnya. Karena dianggap pertaruhan kredibilitas. Jadi ini masalah baru
lagi bagi Rudy.
Memang berat untuk tidak mengabulkan permintaan penerbitan surat bantahan itu, tetapi
dugaan saya, penerbitan surat bantahan itu membuat posisi Rudy lebih berat. Dan
masyarakat lebih meragukan kredibilitasnya.
Kalau pengaruhnya ke Bank Bali secara organisasi sih nggak banyak. Seperti BCA lah.
Yang tetap OK saja dengan status BTO-nya. Itu kan cuma masalah pergantian pemilik.
--
On Fri, 3 Sep 1999 09:52:16 dsuartyo wrote:
>
>buat rekan-rekan millis Kuli tinta,
>saya punya satu pertanyaan sedikit nih sehubungan dengan kasus Bali Gate,
>tapi sebelumnya saya minta maaf dulu, bukannya gara-gara saya kerja di Bank
>Bali trus saya mencoba melempar pertanyaan ini kepada anda-anda semua untuk
>membela mantan bos saya, sama sekali bukan, tapi saya hanya ingin
>mengetahui opini publik saja, apakah mantan bos saya itu udah benar-benar
>dicap jelek oleh masyarakat.
>
>Pertanyaan saya sederhana saja, apakah salah bila seseorang ingin menagih
>harta miliknya kepada orang lain yang dihutangi oleh dia, tapi mendapat
>halangan oleh orang lain, trus karena merasa terdesak oleh waktu (ingat
>pada saat itu kantor kami sangat membutuhkan dana segar untuk menutupi
>biaya rekapitalisasi yang penghitungan dananya sendiri masih simpang siur
>kebenarannya sampe sekarang ! ) maka dia berusaha mencari jalan keluar yang
>terbaik untuk mencairkan dana tersebut, dan akhirnya dipilihlah jalur yang
>seperti ada sekarang ini, dengan pertimbangan kalau udah mendekati garis
>pejabat, urusannya jadi runyam !
>bersalahkah dia ? atau hanya gara-gara transaksi tersebut tidak dicatat
>dalam pembukuan kantor terus beliau dianggap menggelapkan uang rakyat ?
>bagaimana opini anda tentang ini ?
>saya tunggu, sekali lagi ini bukan dalam rangka membela mantan bos saya,
>sama sekali tidak, hanya ingin tau saja..
>sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih...
>
>regards..
>
>= dave =
>the truth is out there !!
>
>
>
>______________________________________________________________________
>Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
>dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
>Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
>Keluar: [EMAIL PROTECTED]
>
>Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
Get your FREE Email at http://mailcity.lycos.com
Get your PERSONALIZED START PAGE at http://my.lycos.com
______________________________________________________________________
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
dengan mengirim e-mail kosong ke alamat;
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!