--- "Yap C. Young" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> yap:
> Ayat yang mana ya? Coba baca kembali konteksnya, apakah memerangi
> orang
> kafir itu dalam konteks agresif atau self defense?
Anda harus tanya kepada para Laskar Jihad itu. Waqatiluhum haitsu
tsaqiftumuhum. Pertanyaan ini saya kembalikan ke anda, kalau anda
berani mengkritisinya, harusnya anda berani mempertanyakan kenapa
sampai muncul ayat tersebut ? Apapun konteksnya, kita boleh
mempertanyakan kenapa perintah itu muncul. Dengan munculnya perintah
itu berarti klaim, sebagai universal dst, hanyalah omong kosong.
Perintah itu jelas ada hubungannya dengan kondisi sosial saat itu.
Yakni usaha mempertahankan diri dari suatu kelompok, terhadap kelompok
lain. Agar sah dan legitimate, ditulis saja atau dimasukkan ke dalam
kitab yang disucikan.
> Islam, sebagai rahmatan lil alamin (mercy of the universe) memang
> juga
> memerintahkan amar ma'ruf nahi munkar (tegakkan kebenaran perangi
> kejahatan), tetapi dalam nadas baik sangka, menghilangkan penyakit
> hati,
> toleran dan hormat kepada sesama machluk. Ada koridor bermain yang
> jelas
> sangat manusiawi dan universal sifatnya, sekalipun tetap harus mampu
> tegas
> membedakan yang haq (benar) dan yang bathil (jahat, kejam, salah).
Pendapat ini lebih berpijak pada interpretasi yang baik sangka,
disertai idealisasi, atau mungkin angan-angan anda sendiri.
> Saya yakin setelah mengunjungi Madinah, Anda nggak menganggap ini
> khayalan
> atau mimpi. FYI, Madinah terbuka untuk dikunjungi siapa saja dengan
> agama
> apapun, sementara Mekkah lebih exclusif, Moslem only.
Alam padang pasir, beda dengan rimba belantara serta alam lautan,
menghadapi perlu dengan cara yang beda, karena dua-duanya menghasilkan
manusia yang berbeda pula.
> yap:
> Bung Frits, ummat Islam tidak menyembah buku, juga tidak menyembah
> Rosulullah Mohammad SAW. Umat Islam seluruh dunia hanya menyembah
> Allah SWT,
> karena dalam keyakinan Islam, manusia diciptakan hanya untuk mengabdi
>
> kepadaNya. Buku itu ditulis berdasarkan wahyu, dan sepenuhnya firman
> Allah,
> yang disampaikan melalui Malaikat Jibril kepada Rosulullah SAW untuk
> seluruh
> ummat manusia, sehingga sejak pertama kali dikodifikasikan, tidak
> pernah
> berubah satu hurufpun sampai sekarang dan selamanya. Bahkan juga
> tidak
> pernah berubah titik komanya. Sebaiknya Anda berfikiran terbuka dan
> berbaik
> sangka, karena yang tertulis dalam Al Qur'an itu bukanlah hasil
> pikiran
> manusia. Dan tidak akan pernah ada yang setara dengan itu. Didalamnya
> juga
> terdapat petunjuk untuk melakukan hubungan baik dengan sesama
> machluk, baik
> yang Islam maupun yang tidak.
Anda juga harusnya lebih terbuka, mana yang bersifat universal, mana
yang budaya Arab, mana yang berdasarkan kondisi sosial saat itu, mana
yang hanya angan-angan serta idealisasi kondisi saat itu, mana hukum
yang bisa diterapkan kesemua manusia, dan mana hukum yang berlaku pada
kondisi saat itu. Bila tidak ada keterbukaan ini, jangan gusar bila ada
orang yang bilang hanya menyembah buku.
>
> yap:
> Bagaimana Anda sampai pada pemikiran bahwa kitab suci itu berbicara
> dengan
> paradigma saat itu? Cobalah baca sekali lagi dan lagi, dengan open
> mind,
> niscaya Anda mendapat hidayah berupa petunjuk kejalan yang lurus.
Ini sama dengan bilang bahwa Allah itu goblok. Allah yang enggak tahu
sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, perdagangan, serta
gastronomi. Kalau anda pernah ke Anchorage, Alaska. Anda akan mikir
ulang bila mau menjalankan Quran serta Sunnah Nabi secara plek sampai
titik komanya.
>
> Madinah hanya satu contoh Bung Frits. Anda juga boleh datang ke
> Mekkah atau
> Ryadh untuk menyaksikan kebenaran itu. Ditengah padang pasir yang
> begitu
> tandus, logisnya cari airpun susah kan? Ternyata apapun yang baik
> baik yang
> dibutuhkan, disini tersedia dalam jumlah dan kualitas yang baik pula.
>
> Lihatlah Bandara King Abdul Aziz, deretan hotel bintang lima, produk
> produk
> consumerable kelas dunia dijajakan sampai kekaki lima. Sayang sekali
> kalau
> Anda belum kesana.
Ini promosikah ? Apalah artinya segala kemewahan untuk manusia itu,
bila ternyata masih suka memancung seorang Warni yang malang. Kalau
anda pake contoh itu, hal yang sama pernah saya temui di Rio de
Janeiro, New York, Bangkok. Yang jelas bukan faktor agama yang dominan,
tetapi faktor manusianya. Karena manusianya secara individu lebih
dewasa dan lebih berkebudayaanlah, kerukunan itu terjadi.
Masih ingin menanam pohon kurma, di lapangan monas ?
>
> Dengan memakai Madinah sebagai referensi, saya sama sekali tidak
> berpretensi
> untuk meng-Islam-kan Indonesia, karena apabila salah melangkah dapat
> menimbulkan friksi yang counter productive.
Yang anda pakai adalah idealisasi interpretasi untuk menilai keadaan
jaman sekarang.
>
> Alangkah indahnya hidup ditengah keragaman, dengan saling hormat dan
> toleran
> atas perbedaan yang ada, dimana segala sesuatu dilaksanakan
> berdasarkan
> konsensus, sehingga mampu mengakomodasikan segala aspirasi yang ada.
>
setuju
frits
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get Yahoo! Mail � Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!