On Mon, 10 Jul 2000, Frits Plikemboh wrote:
FP:
>Anda harus tanya kepada para Laskar Jihad itu. Waqatiluhum haitsu
>tsaqiftumuhum. Pertanyaan ini saya kembalikan ke anda, kalau anda
>berani mengkritisinya, harusnya anda berani mempertanyakan kenapa
>sampai muncul ayat tersebut ? Apapun konteksnya, kita boleh
>mempertanyakan kenapa perintah itu muncul. Dengan munculnya perintah
>itu berarti klaim, sebagai universal dst, hanyalah omong kosong.
>Perintah itu jelas ada hubungannya dengan kondisi sosial saat itu.
>Yakni usaha mempertahankan diri dari suatu kelompok, terhadap kelompok
>lain. Agar sah dan legitimate, ditulis saja atau dimasukkan ke dalam
>kitab yang disucikan.
yap:
Nah kalau sampai munculnya ayat dan konteksnya saya belum tahu. Anda justru
nampak lebih memahaminya. Boleh dong Anda jelaskan mengapa ayat itu muncul
dan apa konteksnya. Saya akan berterima kasih sekali.
Tetapi dengan penjelasan Anda bahwa itu ada hubungannya dengan upaya
mempertahankan diri, dapatkah sekalian Anda jelaskan mempertahankan diri
dari apa?
FP:
>Pendapat ini lebih berpijak pada interpretasi yang baik sangka,
>disertai idealisasi, atau mungkin angan-angan anda sendiri.
yap:
Kalau angan angan atau interpretasi saya jelas nggak. Saya cuma mempelajari
dan belum master benar. Bahwa harus selalu baik sangka (sebelum terbukti
sebaliknya) ya harus dong. Bukankah memang seharusnya begitu?
FP:
>Alam padang pasir, beda dengan rimba belantara serta alam lautan,
>menghadapi perlu dengan cara yang beda, karena dua-duanya menghasilkan
>manusia yang berbeda pula.
yap:
Itulah yang menakjubkan, karena seluruh keragaman itu dapat terangkum indah
dalam satu aturan hidup yang dapat dipelajari dari Al Qur'an. Sangat mungkin
petunjuk dalam agama yang bung Frits anut juga begitu sifatnya, sehingga
tidak ada pertentangan apapun dalam ajaran ajaran itu, sehingga mestinya
semua manusia mestinya bisa bersatu.
Karena itu saya mengajak membaca konteks, agar tidak keliru interpretasi.
FP:
>Anda juga harusnya lebih terbuka, mana yang bersifat universal, mana
>yang budaya Arab, mana yang berdasarkan kondisi sosial saat itu, mana
>yang hanya angan-angan serta idealisasi kondisi saat itu, mana hukum
>yang bisa diterapkan kesemua manusia, dan mana hukum yang berlaku pada
>kondisi saat itu. Bila tidak ada keterbukaan ini, jangan gusar bila ada
>orang yang bilang hanya menyembah buku.
yap:
Bung Frits, saya tidak gusar kalau ada yang bilang menyembah buku, tetapi
saya kasihan, betapa tersesatnya orang berpandangan seperti itu. Selalu
masih ada kesempatan untuk kembali kejalan yang lurus, bila mau.
Kalau yang saya yakini ini Anda anggap salah, berbahagia sekali bila Anda
berkenan memberikan koreksinya. Tolong bantulah saya dengan contoh konkrit
untuk bisa lebih terbuka.
FP:
>Ini sama dengan bilang bahwa Allah itu goblok. Allah yang enggak tahu
>sejarah, sosiologi, antropologi, geografi, perdagangan, serta
>gastronomi. Kalau anda pernah ke Anchorage, Alaska. Anda akan mikir
>ulang bila mau menjalankan Quran serta Sunnah Nabi secara plek sampai
>titik komanya.
yap:
Nggak juga. Apa yang diketahui manusia itu masih sangat sedikit sekali
sehingga selalu ada perbaikan dari hari kehari. Ada manusia yang karena
kesadarannya (baru mengetahui sedikit) kemudian berusaha mencari dan
menambahnya, ada yang malah merasa sombong dan merasa paling tahu segalanya,
atau setidaknya lebih tahu dari siapapun.
Menurut pendapat Anda, pada point mana ketidak sesuaiannya sehingga perlu
mikir ulang? Senang mendengar penuturan Anda yang begitu lugas.
FP:
>Ini promosikah ? Apalah artinya segala kemewahan untuk manusia itu,
>bila ternyata masih suka memancung seorang Warni yang malang. Kalau
>anda pake contoh itu, hal yang sama pernah saya temui di Rio de
>Janeiro, New York, Bangkok. Yang jelas bukan faktor agama yang dominan,
>tetapi faktor manusianya. Karena manusianya secara individu lebih
>dewasa dan lebih berkebudayaanlah, kerukunan itu terjadi.
>
>Masih ingin menanam pohon kurma, di lapangan monas ?
yap:
Banyak yang menjalani hukuman pancung disana, berdasarkan hukum Islam.
Tetapi fakta juga menunjukkan bahwa negeri ini paling rendah tingkat
kriminalitasnya. Banyak tata hukum yang nampaknya lebih beradab, tetapi
lubang lubang yang ditimbulkannya juga sangat banyak.
Anda butuh inteligent building di New York atau Geneve, yang ternyata juga
bisa dibobol penjahat, tetapi tidak di Madinah. Ketika adzan (panggilan
mendirikan sholat) berkumandang, pedagang emas (yang umumnya buka 24 jam)
cukup menurunkan rolling door-nya, tanpa dikunci. Ketika kembali, tidak satu
grampun dicuri orang. Dapatkan yang begini Anda nikmati diketiga kota dunia
itu?
Saya akan dengan senang hati mendengar dari Anda kalau ada referensi yang
lebih make sense. Nggak ada dong hubungannya dengan menanam kurma di Monas.
FP:
>Yang anda pakai adalah idealisasi interpretasi untuk menilai keadaan
>jaman sekarang.
yap:
Menurut Anda yang ideal bagaimana?
>
> >
> > Alangkah indahnya hidup ditengah keragaman, dengan saling hormat dan
> > toleran
> > atas perbedaan yang ada, dimana segala sesuatu dilaksanakan
> > berdasarkan
> > konsensus, sehingga mampu mengakomodasikan segala aspirasi yang ada.
> >
FP:
>setuju
yap:
Terima kasih. Dari dasar pijakan yang berbeda, nampaknya kita bisa mencapai
konsensus juga. Saya suka diskusi ini, bukan karena Anda setuju, tetapi
ternyata komunikasi ini berlangsung dengan open mind. Sesuatu yang semakin
langka belakangan ini.
salam,
yap
________________________________________________________________________
Get Your Private, Free E-mail from MSN Hotmail at http://www.hotmail.com
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!