"Yap C. Young" wrote:
>
> yap:
> Nah kalau sampai munculnya ayat dan konteksnya saya belum tahu. Anda
> justru
> nampak lebih memahaminya. Boleh dong Anda jelaskan mengapa ayat itu
> muncul
> dan apa konteksnya. Saya akan berterima kasih sekali.
Konteksnya jelas. Saat itu ada pertentangan antara kelompok Kristen,
Yahudi, dan kelompok kecil yang baru muncul yakni Islam. Yang jelas ada
keinginan secara naluri agar kelompok kecil yang baru muncul itu bisa
survive. Persis seperti bagaimana orang Kristen memperjuangkan kelompok
kecilnya saat masuk ke Roma. Ini wajar, Ibrahim, bapak monotheisme,
juga harus mengungsi agar gagasannya bisa selamat. Untuk lebih
meneguhkan lagi, muncul ayat "Yahudi dan Kristen tidak akan rela, bila
orang Islam tidak mau mengikutinya". Kenapa Yahudi dan Kristen saja,
kenapa penyembah 'berhala' (ini congkaknya agama monotheis) tidak
masuk, padahal saat itu banyak sekali sekte-sekte penyembah 'berhala' ?
Saat itu bagaimana keadaan dan kedudukan agama Yahudi dan Kristen ?
Mengingat agama pada jaman dahulu adalah alat politik, seperti di
Indonesia sekarang, maka pertentangan ini wajar-wajar saja. Persis
seperti tuduhan kristenisasi jaman sekarang, jaman nabi Muhammad dulu
saat meluaskan pengaruhnya mungkin juga kena tuduhan islamisasi, saat
Yahudi/Kristen dominan.
>
> Tetapi dengan penjelasan Anda bahwa itu ada hubungannya dengan upaya
> mempertahankan diri, dapatkah sekalian Anda jelaskan mempertahankan
> diri
> dari apa?
Lihat atas.
>
> yap:
> Kalau angan angan atau interpretasi saya jelas nggak. Saya cuma
> mempelajari
> dan belum master benar. Bahwa harus selalu baik sangka (sebelum
> terbukti
> sebaliknya) ya harus dong. Bukankah memang seharusnya begitu?
Ya memang harus begitu, ini manusiawi, itu untuk survivenya diri anda
sendiri. Kalau dilihat yang jelek terus, anda akan stress, dan stress
itu tidak baik, buat kesehatan anda.
> yap:
> Kalau yang saya yakini ini Anda anggap salah, berbahagia sekali bila
> Anda
> berkenan memberikan koreksinya. Tolong bantulah saya dengan contoh
> konkrit
> untuk bisa lebih terbuka.
-----------dihapus--------------
>
> yap:
> Nggak juga. Apa yang diketahui manusia itu masih sangat sedikit
> sekali
> sehingga selalu ada perbaikan dari hari kehari. Ada manusia yang
> karena
> kesadarannya (baru mengetahui sedikit) kemudian berusaha mencari dan
> menambahnya, ada yang malah merasa sombong dan merasa paling tahu
> segalanya,
> atau setidaknya lebih tahu dari siapapun.
>
> Menurut pendapat Anda, pada point mana ketidak sesuaiannya sehingga
> perlu
> mikir ulang? Senang mendengar penuturan Anda yang begitu lugas.
>
Islam terlalu arab sentris, sama seperti Kristen yang eropa sentris.
Bila ritual keagamaan harus plek titik komanya, maka yang ada hanyalah
perbenturan kebudayaan yang keras. Pernah baca komik parodi Asterix?
Bayangkan bila ada masyarakat yang kesukaannya babi hutan panggang
seperti itu, kemudian Islam masuk, apa yang terjadi ? Kemudian ingin
melaksanakan ritual idul adha, apa hewan korbannya babi hutan? Dengan
asumsi hewan lain seperti domba tidak ada. Pasti yang ada adalah baku
bunuh. Ini baru bayangan. Yang kenyataan ya bisa dilihat bagaimana
sulitnya memasukkan Islam ke orang papua. Dengan kondisi masyarakat
papua yang beda 180 derajat dengan Arab/Jawa, apa yang terjadi bila
anda ingin memasukkan ritual agama Islam ke situ? Ini baru yang di
Indonesia, belum orang inuit, iceland atau yang lain.
> yap:
> Banyak yang menjalani hukuman pancung disana, berdasarkan hukum
> Islam.
> Tetapi fakta juga menunjukkan bahwa negeri ini paling rendah tingkat
> kriminalitasnya. Banyak tata hukum yang nampaknya lebih beradab,
> tetapi
> lubang lubang yang ditimbulkannya juga sangat banyak.
> Anda butuh inteligent building di New York atau Geneve, yang ternyata
> juga
> bisa dibobol penjahat, tetapi tidak di Madinah. Ketika adzan
> (panggilan
> mendirikan sholat) berkumandang, pedagang emas (yang umumnya buka 24
> jam)
> cukup menurunkan rolling door-nya, tanpa dikunci. Ketika kembali,
> tidak satu
> grampun dicuri orang. Dapatkan yang begini Anda nikmati diketiga kota
> dunia
> itu?
Memang kondisi sosialnya berbeda, yang kesemuanya itu gara-gara minyak.
Misalnya saja, ternyata Arab Saudi enggak kaya minyak, apa kondisi
ideal yang anda contohkan bisa terjadi ? Yang saya bayangkan malah
kisah seribu satu malam, kisah alibaba, aladin, nasaruddin hoja yang
amat sangat manusiawi, ada pencuri, ada street rat, dan macam-macam
lainnya. Yang akhirnya kondisinya sama seperti tiga kota yang saya
contohkan.
>
> yap:
> Menurut Anda yang ideal bagaimana?
Yang ideal adalah penyelesaian sesuai kondisi jaman sekarang. Ini
merangsang untuk menjadikan orang menjadi penemu, pelaku aktif sejarah,
dibandingkan menjadi arkeolog. Namun saya menyadari bahwa orang
berangan-angan dengan melihat masa lalu itu manusiawi sekali, inilah
yang menggerakkan segenap manusia, mengejar mimpi atau mengejar
bayangannya sendiri. Anda tidak salah dengan model copy paste itu.
>
> yap:
> Terima kasih. Dari dasar pijakan yang berbeda, nampaknya kita bisa
> mencapai
> konsensus juga. Saya suka diskusi ini, bukan karena Anda setuju,
> tetapi
> ternyata komunikasi ini berlangsung dengan open mind. Sesuatu yang
> semakin
> langka belakangan ini.
Terima kasih juga.
>
> salam,
> yap
frits
saya akan menyudahi diskusi ini, karena tidak relevan dengan
'kuli-tinta'.
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get Yahoo! Mail � Free email you can access from anywhere!
http://mail.yahoo.com/
->Kirim bunga ke-14 kota di Indonesia, http://www.indokado.com
Untuk bergabung atau keluar dari Milis, silakan LAKUKAN SENDIRI
Bergabung: [EMAIL PROTECTED]
Keluar: [EMAIL PROTECTED]
Sambut MASA DEPAN BARU Indonesia!