--- In [email protected], manneke <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Ha ha ha, hebat betul cara Anda "membungkam" orang untuk menutup 
perdebatan. Jadi, karena saya akademisi, maka saya cuma tahu ilmu. 
Karena saya akademisi, saya cuma tertarik soal benar dan salah. 
Karena saya akademisi, saya tak punya empati pada kenyataan. Dan, 
karena saya non-Muslim, maka saya tak tertarik dengan permasalahan 
orang Muslim. 

<< Tak ada niat dari saya saya untuk "membungkam" anda Rekan 
Manneke, justru tulisan saya kemarin adalah satu bentuk kekaguman 
saya pada idelalisme dan alur logika yg anda bangun, sejauh saya 
berdiksui soal burqa ini, saya belum pernah membaca argument sebaik 
dan setangguh anda dalam usaha ´membela´ kaum minoritas tersebut.

Tapi, disatu sisi saya TAHU PASTI kelemahan orang2 yg sangat 
idealis, seringkali -tidak selalu- mereka kurang peka membaca 
realitas secara luas. Bukan maksud saya ingin memngatakan bahwa 
realitas anda lebih sempit dari realitas saya, cuma fokus (intisari) 
persoalan yg anda angkat sebagai basis pemikiran cuma berangkat dari 
SATU sisi, yaitu "kebebasan" atau hak azasi individu yg 
bersangkutan. 

Anda terkesan melupakan kewajiban individu sbg warga negara dan 
menafikan HAK negara dalam mewujudkan visi dan misi mereka. 



 
> Simak baik-baik Saudara Van Helsing, baik dalam posting ini maupu 
posting-posting saya sebelumnya berkenaan dengan isu burqa ini, 
supaya semua orang di milis ini bisa melihat duduk perkara yang 
sebenarnya:
> 
> 1). Selama perdebatan soal burqa ini, pernahkah saya ngomong pakai 
teori atau metode akademik atau istilah-istilah teknis? Siapa dalam 
diskusi yang mula-mula pakai istilah seperti "indigenous 
factor"? "hak azasi"? "integrasi"?

<< Saya rasa tidak penting untuk kita bahas siapa yg memulai dg 
istilah2 tersebut, yg lebih penting adalah isi secara utuh konsep 
pemikiran kita sebagai satu argumentasi untuk memberikan 
justifikasi "benar-tidaknya" Belanda mengeluarkan UU tersebut, hal 
ini penting karena aspek UU tersebut sangat kompleks mengingat UU 
tersebut juga menyangkut soal keyakinan (hak azasi), keamanan 
negara, proses pembauran, dan -interest pribadi saya- mendewasakan 
cara beriman umat islam.

 
> 2) Selama dikskusi ini, siapa yang cuma bersikeras melihat 
persoalan sebagai benar dan salah? Justru yang saya lakukan adalah 
mencoba dengan tidak terlalu sederhana menilai: seolah-olah semua 
yang pakai burqa berpotensi jadi teroris, seolah-olah hukum anti 
burqa itu dibuat demi kebaikan, seolah-olah jika minoritas menolak 
pelarangan burwa, maka dia pasti tak mau bergaul dan eksklusif, dll 
dsb. Bukankah yang berpikiran sempit dan hitam putih justru adalah 
mereka yang dengan membabi buta mendukung pelarangan burqa ini?

<< Kata2 "seolah" bisa bermakna nonsense bila kecenderungan kearah 
realita akan hal2 yg anda katakan "seolah-olah" tadi sama sekali 
tidak ada dasar alasannya. Makanya sedari awal saya sudah katakan; 
tidak ada asap kalau tidak ada api, artinya, gejala2/ indikasi 
seperti yg anda bilang "seolah-olah" memang menjadi REALITAS atau 
setidaknya indikasi-indikasi itu bisa dipertanggungjawabkan dalam 
debat2 terbuka. 

Karena ini soal REALITAS dan BUKAN IDEALISME, maka kaca mata yg 
lebih mewakili kebenaran adalah kaca mata mereka2 yg ada dan 
MENYAKSIKAN realitas dimaksud.

Apakah anda berfikir parlemen Belanda tidak tahu akan produk hukum 
yg akan mereka buat dan tetapkan? apakah anda berfikir -dgn bekal 
idealisme- anda lebih tahu akan REALITAS masyareakat mereka/ Belanda 
yg mendasari ide munculnya UU tersebut?


 
> 3) Saya tak punya empati pada realitas umat Muslim? Nggak salah 
nih? Bukannya kebalik? Saya yang nyaris sendirian mengajak rekan-
rekan miliser lain untuk berempati pada para perempuan berburqa yang 
akan jadi korban pelarangan ini, sedangkan kalian semua yang sama 
sekali tak mencoba untuk melihat persoalan darikaca mata mereka, dan 
selalu bersikeras: mereka kan minoritas, mereka kan cuma tamu di 
negeri orang, mereka kan cuma maunya sendiri? Siapa yang doyan 
melempar asumsi hitam putih tanpa empati seperti ini? Saya? 

<< Maaf rekan Manneke, kalau saya mau menggunakan kaca mereka, 
minoritas yg ngotot berburqa karena MERASA itu adalah pakaian 
keimanan dan hanya pakaian itu yg akan di ridhoi Allah atau islam, 
maka saat itu pula saya telah mempersempit realitas saya. Alasan2 
keimanan seperti itu HARUS diperdebatkan secara terbuka baik oleh yg 
seiman atau bukan, sebab seringkali keimanan kita -kalau tidak 
diikuti oleh nalar- akan mengungkung kita pada realitas sempit kita. 
Percaya adanya surga atau neraga, BUKANLAH urusan kita, sebab hal 
itu masuk wilayah hak azasi (personal sifatnya), tetapi CARA untuk 
meyakini agar masuk surga atau neraka itu BISA dan BOLEH kita 
perdebatkan,sebab CARA2 tersebut menyangkut sikap dan tingkah laku 
kita dimana dalam masyarakat modern ada aturan main yg jelas untuk 
itu (UU), sebab sikap dan tingkah laku kita, mau tidak mau akan 
berpengaruh pada lingkungan dimana kita tinggal.

Contoh konkrit; merasa yakin bom bunuh diri adalah jihad dan akan 
masuk surga dan dapat 72 bidadari. Yakin untuk masuk surga-nya sih 
urusan dia, tapi sikap dan tingkah laku (CARA) dia untuk mewujudkan 
keyakinban tersebut boleh dan bisa kita perdebatkan. 



 
> 4) Sebagai non-muslim saya tak tertarik pada nasib orang Muslim? 
Lalu Anda kira buat apa saya teriak-teriak menolak pelarangan burqa, 
meski dengan risiko dipandir-pandirkan dan kata-kata saya 
dipelintirkan serta diputar balik oleh geng Anda yang anti-burqa 
itu? Kalo saya tak peduli dan tertarik, buat apa saya buang-buang 
waktu membela kelompok minoritas berburqa yang 'dikeroyok' oleh Anda 
dkk itu? 

<< Kalau saya boleh memberikan justifikasi, bentuk empathy anda 
adalah negatif, dalam arti anda tidak membantu mereka untuk MENALAR 
akan keimanan mereka, sebaliknya, anda ´memanjakan´ realitas sempit 
mereka. Membiarkan orang lain larut dalam keyakinan mereka memang 
bagus, tapi membiarkan orang lain larut dalam kayakinan yg membuat 
orang tersebut mentutup diri pada realitas yg lebih besar sama 
artinya dgn ketidakpedulian kita pada masa depan orang tersebut dan 
generasi penerus mereka.


> Apa sih yang membuat Anda berpikir bahwa Andalah orang Islam yang 
paling benar dan lalu boleh menilai orang Islam lain yang beda dari 
Anda dengan kaca mata yang merendahkan?

<< Saya hanya mengeluarkan opini dan arguments saya, untuk merasa 
paling benar jelas saya tidak berani utk secongkak itu, kalau ada 
kesan merendahkan, maka yg merasa direndahkan bisa konter balik 
argumentasi saya, saya orang yg cukup terbuka untuk menerima sebuah 
kebenaran yg lebih logis,sesuai dgn sifat dasar saya yg suka belajar 
dan menambah wawasan.


 
> Saya menggunakan rasio saya dengan empati, bukan untuk 
merasionalisasi yang salah menjadi benar, seperti yang Anda dkk 
lakukan. Saya tak mengizinkan rasio saya membenarkan sesuatu hanya 
karena gara-gara dia telah menjadi fakta. Saya menggunakan rasio 
saya untuk mengkritisi fakta itu, supaya kita semua tak tidur.

<< Saya sudah katakan saya kagum atas idealisme anda, disamping saya 
juga sudah tegaskan, realitas yg anda pakai relatif sempit untuk 
menilai masalah ini, maaf bukan berarti saya tidak setuju dgn 
argumentasi anda, tapi masalah yg ada sangat kompleks dan anda 
berangkat berargument cuma dari satu sisi saja. Pendek kata, 
pendekatan idealisme anda membentur tembok karang realita yg ada. 


 
> Bagaimana cara Anda menggunakan rasio Anda, Van Helsing? Dengan 
segala daya upaya, termasuk mengintimidasi saya, Anda merumuskan 
berbagai dalih yang bisa dipakai untukmembenarkan suatu tindakan 
represif yang dilakukan oleh sebuah negara atas suatu kelompok 
warganya. Dan, Anda dengan bangga menyebut semua itu 
sebagai 'kepedulian'? Shame on you!

<< Terus terang saya bingung dgn tudahan intimidasi saya kepada 
anda, bisakah anda klarifikasi lebih jelas disini? saya membenarkan 
UU tersebut LENGKAP dgn argumentasi saya, lebih komplit dari yg anda 
punyai, saya melihat dari sisi hukum,politik, realitas masyarakat 
Belanda (sosial) dan bahkan dari sudut agama (keyakinan),sementara 
anda hanya melihat dari SATU sudut pandang saja; yaitu kebebasan 
individu.

Sementara, yg namanya kebebasan TIDAK PERNAH ADA didunia ini,sebab 
kita sudah dari sononya merupakan makhluk sosial. 


 
> Anda menyebut saya ikut campur dalam urusan pribadi orang lain? 
Anda ngerti tidak sih makna kata-kata yang Anda ucpakan itu? Atau 
asal bunyi sja, yang penting komentar? Urusan pribadi siapa yang 
saya campuri? Urusan pribadi Anda? 

<< Rekan Manneke, coba copy paste-kan sebutan yg saya berikan kepada 
anda seperti yg anda tuduhkan diatas? sejauh yg saya sadari, saya 
tidak akan senaif itu untuk menuduh orang lain dalam satu diskusi 
terbuka seperti dimilis Medicare ini. 

Mendiskusikan fenomena UU di Belanda tersebut tentu saja tidak bisa 
dikatakan sbg mencampuri urusan pribadi orang lain, kalau dikatakan 
mencampuri urusan negara orang lain masih sangat mungkin meskipun 
saya juga tidak sependapat.




>Bukankah kita bicara dampak UU pelarangan burqa pada kelompok 
minoritas pemakai burqa di Belanda? Inikah yang Anda sebut urusan 
pribadi? Cuma Anda yang boleh ngomong soal ini? Islam adalah Anda?


<< Anda lebih suka mempersempit realitas rekan Manneke, dampak 
sebuah UU TENTU SAJA lebih DITUJUKAN pada mayoritas demi kepentingan 
umum. 

Adapaun dampak UU tersebut bagi muslimah, saya melihat nilai 
positifnya seperti yg sudah saya jelaskan dalam postingan2 yg lalu.

Masalahnya, anda melihat dampak negatifnya bagi muslimah tersebut 
TANPA anda mampu mengklarifikasi SEPERTI apa dampak negatif 
tersebut. 

-Masuk neraka? apakah anda yakin dan bisa membuktikannya?

-Menjadi tidak beriman lagi? Apakah keimanan seseorang berdasar 
PAKAIAN yg mereka pakai?

-Tidak menjadi islam lagi? berapa sih prosentase muslimah yg pakai 
burqa didunia ini?

Atau...stress? islam mengajarkan umatnya untuk mau berfikir dan 
mengerti makna bersabar.

Coba katakan kepada saya, dimana letak dampak negatifnya secara real 
bagi muslimah di Nederland tersebut?




> Terakhir, Anda menyebut burqa adalah 'pakaian agamawan' sama 
seperti suster? Wah, kalo sudah begini cara padangnya, ya nggka 
heranlah saya kalo diskusi pelarangan bruqa ini jadi kesana kemari 
dan berkembang secara tak proporsional. Suster itu perempuan yang 
secara resmi (lewat proses pendidikan dan sumpah) memilih untuk 
menyerakan seluruh hidupnya demi mengabdi dan melayani Tuhan. Maka 
itu, dia berpakaian seperti itu. perempuan Katolik awam tidak ada 
yang pakai pakaian suster, Bung. Burqa dipakai oleh perempuan muslim 
yang memang mau memakainya, bukan oleh agamawan Muslim. Bukan begitu?

<< Secara prinsip,jenis pakaian tersebut, baik yg dipakai oleh 
biarawati atau muslimah yg pakai burqa kan sama-sama merupakan 
SIMBOL dari KEYAKINAN atau ajaran agama mereka? kalau yg pakai burqa 
tidak bisa disebut sebagai agamawan (agamawati?), lantas kenapa 
mereka "merasa" ada KEHARUSAN untuk memakai pakaian sbg simbol 
keimanan/agama tersebut? Bukankah literaly makna "agamawan" adalah 
orang2 yg beragama?

 
> By the way, saya tak mempan diintimidasi, apalagi dengan cara-cara 
konyol. Silakan sebut saya apa saja, saya selalu tahu bagaimana cara 
untuk secara konsisten membela prinsip-prinsip yang saya yakini 
kebenarannya dengan cara yang masuk akal.

<< Rekan Manneke, sekali lagi saya katakan, saya tidak pernah 
mengintimidasi anda dan berniat "membungkam" anda, anda sendirilah 
yg merasa terintimidasi dan merasa "harus bungkam", sebaliknya, saya 
mengagumi idealisme anda yg luar biasa itu dalam upaya untuk 
mempertahankan apa yg menjadi keyakinan anda, dalam beberapa hal, 
saya juga termasuk orang yg idealis, tapi saya harus sadar, bahwa 
idealisme saya TIDAK MUNGKIN menang melawan realita yg ada, disini 
rasio saya biasa saya gunakan, sebab Allah memberikan otak ini 
memang gunanya untuk berfikir agar dinamika kehidupan kita mengarah 
ke arah kebaikan (positif) sebagaimana hakikat dari prinsip2 evolusi 
yg sudah menjadi sunnatullah (hukum alam).

Muchos saludos,

VH


 
> manneke
> 
>

Kirim email ke