Bung Eko Adi, anda ini hebat sekali. Sudah pintar bergaya rhetorik dan
otoriter bak pejabat tinggi di masa orba yg larang bagini dan larang
begitu, padahal belum pernah jadi pejabat ya?

Saya yakin setiap warga negara Indonesia sbg tak memerlukan
pernyataaan2 asbun, ttp perlu mendengarkan alasan2 dari semua pihak,
termasuk dari Xanana atau dari anda juga. Yg saya dengar, alasan anda
ttg Xanana lebih TAK masuk akal. 

Mosok Xsnana dibilang 'pemberontak' negara RI. Sejak kapan Timtim
masuk menjadi bagian dari RI? Sejak Operasi Seroja tahun 1976? Jika
'YA', tolong kasih tahu ada berapa negara yg mengakui Timtim sebagai
bagian dari Indonesia setelah diduduki Indonesia? Tolong kasih tahu
juga ada berapa resolusi2 PBB yg mengutuk RI dan meminta RI agar
menarik pasukan ABRI (sekarang TNI) keluar dari Timtim?

Memang banyak warga Indonesia waktu itu yg tak begitu tahu kasus
Timtim yg sesungguhnya karena waktu itu koran2 nasional diawasi secara
ketat oleh pemerintah orba. Untunglah ayah saya hobbi mendengarkan
berita2 radio Australia, BBC dsb, dan untunglah sejak di akhir tahun
1990 saya ke Amerika dan setiap hari membaca koran yg kadang2 memuat
berita yg tak pernah disensor pemerintah Amerika ttg Timtim (padahal
pemerintah Amerika sebenarnya merestui pendudukan Timtim oleh TNI).

Seingat saya, hanya satu kali saya pernah mendengar berita lolosnya
resolusi PBB yg meminta penarikan diri TNI dari Timtim di koran
nasional di Indonesia (kalau tak salah di Kompas atau di Sinar
Harapan), walaupun dg hanya satu-dua kolom kecil. Berita lain ttg
Timor Timur selalu dibuat dg header lebih besar ketika memberitakan
ucapan rhetorik pejabat2 tinggi Indonesia yg memaki-maki Ramos Horta
lah, atau Xanana, dsb.

Apakah bung Eko tahu bahwa Xanana adalah orang yg tak menyetujui upaya
beberapa pejabat PBB untuk menjadikan lembaga perdamaian dan
rekonsiliasi di Timor Leste (yg keberadaannya direkomendasikan oleh
PBB) agar memberikan hukuman, sanksi atau paling sedikit 'vonis
bersalah' kepada pejabat2 tinggi militer TNI atas peran mereka di masa
pendudukan Timtim oleh TNI? 

Contoh di atas dan beberapa ucapan2 Xanana mengindikasikan bahwa
Xanana ternyata ingin meniru Nelson Mandela yg tak mau menghukum
orang2 yg pernah memusuhinya (padahal Nelson Mandela sudah sempat
mengalami siksaan2 dalam penjara selama belasan tahun!). Berdasarkan
hal ini, IMO Xanana sangat layak untuk tampil di Metro-TV atau di
stasion2 TV nasional lainnya. Sayang saya tak bisa menontonnya :-(.

FYI, saya adalah orang yg tak suka BJ Habibie karena satu2-nya
kebijakan BJ Habibie yg saya tahu bisa dan pantas saya dukung dan
setujui adalah kebijakannya membuka pintu referendum di Timtim shg
bisa berubah menjadi Timor Leste.

Salam

--- In [email protected], eko adi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Saya setuju dengan pelarangan film Xanana diputar di
> JIFFEST itu. Dan sangat mengutuk penayangan Xanana di
> Metro TV yang seolah-olah difigurkan sebagai
> pahlawan..
> Xanana memang (mungkin) pahlawan bagi sebagian orang
> Timor-Timur. Tapi, ia tetap bekas PEMBERONTAK bagi
> Indonesia. 
> Cukup Indonesia mengakui kemerdekaan Timor Leste,
> BUKAN terus memuja-mujinya. Bukankan itu sama saja
> melempar kotoran ke muka sendiri, dan METRO TV sudah
> melakukannya.  
> Kenapa bukan dokumentasi para Tentara Indonesia yang
> ditampilkan di layar kaca untuk sebuah penghargaan
> bagi mereka, bagi anak, istri, orang tua yang
> ditinggalkan mati saat menumpas pemberontak.
> Ini bukan melulu membela tentara, tapi adakalanya
> sebagai bangsa kita harus memiliki sedikit keguyuban.
> Kesalahan tentara yang menyangkut pelanggaran HAM,
> tetap harus dusut tuntas.
> Keanehan bangsa ini laiinya adalah ada bekas
> pemberotak/GAM yang jadi gubernur...ANEH!!!!
> 
> Adi.

Kirim email ke