Beberapa motto/kebiasaan orang Belanda yang membuat Belanda maju (saya tidak tahu persis apakah motto-motto ini masuk kategori falsafah atau kultur atau politik?):
1. Wie haast heeft als hij tijd heeft, heeft tijd als hij haast heeft = siapa tergesa-gesa di saat punya banyak waktu, akan punya banyak waktu di saat tergesa-gesa. Contoh; temperatur dunia naik berarti permukaan air laut akan naik juga. Maka sebelum Belanda tenggelam, sekitar 10 tahun yang lalu ahli-ahli Belanda telah menjajal bangunan mengambang dengan segala problematik flora dan fauna di bawah bangunan itu, yang airnya kini terputus dengan sinar matahari dan udara yang mengandung O2. Contoh lain adalah akan habisnya minyak bumi, maka sekitar 15 tahun yang lalu ahli-ahli Belanda telah sibuk menciptakan enerji alternatif dari angin, matahari, biogas, pembakaran sampah dll. Orang Indonesia masih sibuk dengan bambu runcing, UUD 45 dan Pancasila. 2. Voorkomen is beter dan genezen = mencegah lebih bagus dari mengobati. Contoh: Dinas Meteorologi KNMI mengupgrade dirinya sehingga mampu tahu persis kapan akan datang storm, kapan akan turun salju tebal, kapan suhu Belanda akan anjlok di bawah nol, kapan akan naik melebihi 35 derajat dsb.dsb. sedemikian rupa sehingga penduduk Belanda dapat menyiapkan diri sebelumnya. Kerugian materi dan jiwa dapat diminimalisir. 3. Vele handen maken werk licht = banyak tangan membuat ringan pekerjaan. Satu pekerjaan dikerjakan bersama-sama secara Total Football. Contoh: sektor pertanian dipikirkan/diamati/dikerjakan bersama-sama oleh pemerintah, parlemen, media massa, akademika, paguyuban dll. Di Indonesia sebaliknya, satu pejabat bisa memegang belasan jabatan rangkap akibatnya ngga terpegang lagi alias semua pekerjaannya menjadi terbengkalai. 4. Tradisi/pendidikan dari Sinterklas yang berbunyi "Anak baik dapat kado, anak nakal masuk karung." Anda mau coba-coba korup? Risikonya sudah jelas anda akan dimasukkan ke karung alias masuk penjara. Anda bekerja keras? Ya pahalanya anda bisa punya rumah bagus, bisa berlibur ke luar negeri setiap tahun dsb. Bila engkong Soeharto penduduk Belanda, pasti sudah lama diajukan ke pengadilan. 5. Kapitalisme membiayai sosialisme. Perusahaan konglomerat yang untung banyak dipajaki tinggi, idem dito dengan pegawai yang bergaji jutaan euro per tahunnya. Tarif pajak tertinggi di Belanda mencapai 60%. BBM dipajaki tinggi, alkohol juga dipajaki tinggi, rokok dan produk konsumtif lainnya juga dipajaki tinggi. Uang pajaknya tidak dikorup tapi masuk ke kas negara untuk kemudian dipakai membiayai pendidikan gratis buat semua anak Belanda. Dipakai untuk memberi tunjangan sosial buat pegawai yang kena PHK. Dipakai untuk menyubsidi sewa rumah penduduk akar rumput, dsb.dsb. 6. Sekuler. Agamamu untukmu, agamaku untukku. Agama tidak boleh masuk ke UU negara. Agama hanya berlaku di rumah ibadah dan di rumah masing-masing. Agama dan negara bak jalur kiri untuk sepeda motor dan jalur kanan untuk mobil. Baik sepeda motor mau pun mobil sama pentingnya, namun harus dipisah jalurnya supaya tidak bertabrakan. 7. Hemat fungsional. Mobil pick-up yang dapat memuat orang/barang lebih banyak, harganya lebih mahal dari mobil sedan yang cuma bisa memuat orang/barang sedikit. Bukan kemewahan yang utama, tapi fungsinya yang utama. Contoh lain: semua dinding rumah sebelah luar memakai batu alam, penampilannya lebih kusam dibanding dinding- dinding yang dicat di Indonesia. Namun dinding batu alam tidak perlu dicat ulang lagi sampai seratus tahun ke depan, jadi irit sekali. Pegawai sampai direkturnya biasanya membawa sangu dari rumah, kebiasaan membawa sangu itu telah dibiasakan pada anak-anak balita Belanda sejak TKK kelas 0 kecil. Suami istri mengerjakan pekerjaan rumahnya sendiri, tak ada Inem. Orang Indonesia amat manja, Inem ada dua, ditambah babysitter, ditambah supir, ditambah tukang kebun, dll.dll. Haiyaaa ........ bangsa begitu manja mana bisa membangun negeri? 8. Dll. terlalu banyak untuk disebutkan sekarang, lain kali akan saya sambung deh. Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], "ary212ary" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya juga gak pernah berpendapat kalo kesuksesan seseorang itu > karena faktor genetis-etnis, kok. > > Dalam 3 faktor yang saya sebutkan di awal mula, saya hanya > menyinggung soal budaya, filsafat, dan politik. FAktor etnis tentu > berperan, tapi itu karena meerka membentuk lingkaran khas budaya, > ajaran filsafat, dan warna politik mereka sendiri, beserta ragamnya. > Maka itu, saya minta pendapat teman2, dimana saya berharap dapat > memperoleh tambahan informasi yang mendiskusikan kaitan masalah > dengan dimensi filsafat, kultur, dan politiknya. > > Salam dan terima kasih > > > > --- In [email protected], ariel chairil hudha > <chairil_hd@> wrote: > > > > Untuk melihat jalan kesuksesan itu bukan hanya dari kacamata > etnik, bisa di katakan Etnik Tionghoa merupakan Etnik yang sukses > di Indonesia, namun apakah itu karena etnik? kalo menurut saya itu > bukan pengaruh etnik tetapi disebabkan atas kegigihannya, Suku jawa > juga gigih bekerja, namun suku jawa kebanyak bekerja bukan hanya > untuk dirinya, tetapi untuk menghidupi keluarganya yang besar dan > banyak. > > maka untuk itu Etnik dan Etos tidak ada kaitan, apalagi kini, > bukan hanya orang Indonesia yang menjadi preman dan pemalas, tetapi > orang tionghoa juga menjadi preman malah lebih sadis lagi, seperti > beberapa preman yang ada di Medan, mereka lebih banyak berbisnis > ala ke maksiatan, jadi tidak ada kata satu pun etnik itu ada > kaitannya untuk melihat etos kerja seseorang di dewasa ini. > > Saudara Lim benar, Etnik Tionghoa dan India itu gigih, tetapi > bukan secara keseluruhan dan bukan pula orang Indonesia itu tidak > gigih dan hanya mau jadi preman, mungkin itu bisa digaris bawahi, > orang Indonesia yang mana, kalau menurut saya orang Indonesia yang > serakah dan males bekerja saja yang mau jadi preman, tetapi ingat > bukan orang Indonesia Secara keseluruhan, Anda coba melihatnya > hingga ke pelosok desa, ok Saudara Lim. > > Tahun lalu saya ke Aceh, yang saya dapati bukan kebanyakan orang > Aceh itu rajin, tetapi malah sebaliknya mereka lebih mengharapkan > bantuan datang. jadi saya harapkan saudara Lim lihat secara dekat, > tentang bagaimana Ratusan Etnik yang ada di Indonesia ini bekerja, > ok Saudara lim > > > > By > > Ariel > > Medan >
