Sebenarnya tidak ada yang luar biasa dari kisah sukses kaum minoritas
di perantauan, itu wajar. 

Sebagai minoritas di tengah-tengah bangsa asing, mereka memang
dituntut untuk survive. Karena jika kita lihat ke negara Chinanya
sendiri, maka akan kelihatanlah bahwa kondisi masyarakat China disana
kurang lebih sama dengan kondisi masyarakat Indonesia, baik dalam hal
pengangguran ataupun dalam hal bekerja dengan upah yang sangat minim.
Orang China juga sangat banyak bekerja di sweatshops2 di negaranya,
yang miskin juga banyak, yang nganggur juga banyak dll.

Just my two cents.





--- In [email protected], "Danny Lim" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bila anda ke Pasar Pagi di Jakarta, anda akan melihat perdagangan di 
> sana dikuasai oleh orang Tionghoa. Ada satu bangsa lagi yang mampu 
> survive di Pasar Pagi di tengah-tengah "keganasan" etos kerja orang 
> Tionghoa yang seperti kuda, yaitu bangsa India. Sedangkan bangsa 
> Indonesia sendiri hanya menjadi kuli atau paling banter preman yang 
> menjaga keamanan.
> 
> Di Indonesia ada sukubangsa yang top of the tops, dijamin tidak 
> bakal kalah mutunya dibanding orang Tionghoa dan India, yaitu orang 
> Aceh. Kolonial Belanda tidak pernah mampu menaklukkan Aceh padahal 
> seluruh Hindia-Belanda bisa dipecundangi selama 350 tahun. So .... 
> berikan tampuk kepemimpinan RI kepada orang Aceh, maka teritorial 
> NKRI akan terjaga aman man man man. Kebebasan beragama akan terjamin 
> min min min. Ekonomi Indonesia akan mananjak jak jak jak.
> 
> Selain melihat yang tidak dimilikinya, orang Indonesia juga wajib 
> melihat apa yang dimilikinya donk deh sih tuh nih yee. Tinggalkan 
> prinsip "puyuh di tangan dilepaskan, burung garuda di langit 
> diimpikan." Sukses ya.
> 
> Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> 
> --- In [email protected], "ary212ary" <ary212ary@> wrote:
> >
> > Kesuksesan Keturunan Tionghoa
> > 
> > Saya melihat kesuksesan Chinese dengan berangkat dari realitas 
> rata2 
> > keturunan Tionghoa di Indonesia. Dan bahkan, harus diakui, dalam 
> > kemajuan bangsa ini ada banyak sumbangsih para keturunan Tionghoa- 
> > Indonesia itu di dalamnya. Lalu, yang menjadi faktor2 penyebab 
> > kondisi mereka sekarang (yang rata2 sukses dan makmur) itu apakah:
> > 
> > 1. Politik diskriminasi dan apartheid warisan penjajah, sehingga 
> > mereka tak punya pilihan nafkah hidup (dimana mereka tetap harus 
> > menjalaninya untuk tetap dapat bertahan hidup) selain berdagang 
> dan 
> > usaha mandiri lainnya. Ditambah selain itu, setelah Indonesia 
> > merdeka, mereka menjadi objek perahan namun tetap menjadi warga 
> > negara pinggiran (secara politik, sosial, budaya, agama, dll, tapi 
> > tidak secara ekonomi). Apakah karena kondisi2 objektif (yang 
> membuat 
> > mereka mau tak mau hidup lebih keras dan kepepet sehingga 
> > menyiasatinya dengan hidup lebih cerdas dan lebih tekun) itu 
> mental 
> > tangguh mereka terbentuk (dan terkenal) hingga kini? Karena saya 
> tak 
> > melihat kondisi politik dan sosial yang menguntungkan bagi 
> keturunan 
> > Tionghoa ini dalam mengembangkan hak2 kewargaan mereka (dan karena 
> > itu partisipasi mereka dalam kehidupan bernegara dan 
> bermasyarakat) 
> > walau kondisi sospol di masa kini sudah lebih terbuka, namun 
> belumlah 
> > cukup terbuka yang membuat posisi mereka setara tanpa syarat 
> terhadap 
> > WNI lain. Tapi mungkinkah kondisi keterdesakan ini pula yang 
> membuat 
> > mereka justru sanggup menyiasatinya dengan kreatif dan akhirnya 
> tak 
> > hanya survive tapi juga sukses (di Indonesia)?
> > 
> > 
> > 2. Tradisi dan kultur intern mereka yang mengajarkan keuletan 
> dalam 
> > bekerja (dimana hal ini juga menjadi salah satu tekanan dalam 
> etika 
> > filsuf2 Cina)? Dimana tradisi dan kultur itu telah terhayati erat 
> > menjadi spirit/jiwa dan ajaran yang sudah terpatri inheren hingga 
> > menjadi identitas (Chinese=pekerja keras), seperti halnya anggapan 
> > ttg orang Jawa yang menekankan pengendalian diri, sehingga 
> dicitrakan 
> > berjiwa halus dan menyukai serta terampil mengolah seni. 
> > Bagaimanapun, stigma2 dan stereotype2 semacam tetap diperhatikan 
> > dalam pertimbangan2 antropologis kebudayaan - karena, dalam 
> realitas 
> > kebudayaan, mengandung kebenaran2 dan logika2nya tersendiri, 
> bukan? 
> > 
> > 
> > 3. Faktor eksternal-internasional, yaitu momentum kebangkitan 
> Negara 
> > Cina sebagai potensial adidaya masa depan; di mana, menurut banyak 
> > ulasan di internet dan media lainnya, salah satu faktor 
> pendorongnya 
> > ialah kultur dan kepercayaan - sesuatu yang kini diperhitungkan 
> > sebagai variabel kemajuan, padahal di era 50'an-70'an dicemooh 
> begitu 
> > rupa? Padahal, lihat saja, Jepang maju tanpa mengorbankan 
> kepercayaan 
> > tradisionalnya (Shinto), China diyakini dengan etika Taoisme dan 
> > Konfusianismenya, sedangkan India dengan tradisi Hindunya yang 
> memang 
> > sungguh kaya itu.
> > PS: Sedangkan, kalaupun ini boleh turut dimasukkan 
> > hitungan,kapitalisme dengan etika protestantismenya.
> > 
> > Bagaimana pendapat teman2 sekalian di milis ini.
> > 
> > Salam dan Terimakasih.
> >
>


Kirim email ke