Yulmizar writes:

Jadi indak ado parentah Allah dan Rasul, do. Tapi parentah Allah sajo.
Rasulullah hanyo sabagai penyampai. Jadi taatlah pado parentah Allah nan
disampaikan Rasulullah, sarato Ulil Amri kito. Khusus mengenai Ulil
Amri, kito harus agak kritis, apokah parentah Allah nan disampaikan itu
bana-bana dari Allah, sabok hanyo Rasulullah nan bagaransi.

Ambo paham maksudnyo akan tetapi ungkapan "perintah Allah dan Rasul-Nya" berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta'ala (yang artinya):


"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih." (QS. an-Nuur 24:63)

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan." (QS. al-Anfaal 8:24)

Dalam ayat tu jaleh disabuikan "panggilan Rasul" (du'aa ar-Rasuul), "perintahnya (Rasul)" (amrihi), dan "seruan Allah dan Rasul" (istajiibuu lillahi wa lirrasuuli) jadi indak masalah kok awak mangecek perintah Allah dan Rasul-Nya.

Sebagaimana nan ado dalam hadits:

"Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak sesuai dengan perintah kami (amrunaa), maka dia tertolak."

Nan terlarang tu ungkapan "atas kehendak Allah dan kehendak Muhammad" karano taqdir tu urusan Allah.

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhu menuturkan bahwa ada seseorang berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, "Atas kehendak Allah dan kehendakmu". Maka ketika itu bersabdalah beliau, "Apakah kamu menjadikan diriku sebagai sekutu untuk Allah? Akan tetapi katakanlah, 'Hanya atas kehendak Allah saja.'" (HR. an-Nasa'i) (lihat penjelasan lanjut di Fathul Majid bi Syarhi Kitabit Tauhid)

Manuruik ambo. Tafsiran manusia thd kandungan Al-Quran, salain tafsiran
Rasululah, mengandung kemungkinan bana dan kemungkinan salah. Suatu
tafsiran, dilakukan oleh akal dan tidak mutlak benar. Kebenaran manuruik
akal, hanyo sabatas informasi nan nyo deteksi dek pancaindera.

Shahabat juga ada yang dido'akan agar mendapat pemahaman yang tentang al-Qur'an misalnya Ibnu Abbas. Tafsiran shahabat pun tafsiran yang lebih baik daripada tafsiran manusia generasi berikutnya.


Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi Rasulullah dan shahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'in) kemudian orang-orang sesudah mereka (Tabi'ut Tabi'in)." (HR. al-Bukhari, Muslim, Ahmad)"

Sebaik-baik tu tantu juga dalam pemahaman Islam sasuai jo hadits:

"Jika Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memahamkannya ilmu agama."

Namun mereka indak ma'shum jadi kok indak sasuai jo perintah Allah dan Rasul-Nya indak buliah dituruik-an.

Semoga Allah menghendaki kebaikan bagi kita semua.

Allahu a'lam.

Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim
(l. 1980 M/1400 H)




____________________________________________________

Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
------------------------------------------------------------
Tata Tertib Palanta RantauNet:
http://rantaunet.org/palanta-tatatertib
____________________________________________________

Kirim email ke