Bahasa kato urang indak paralu dipelajari, tapi dipraktekkan. Sabab berbahasa itu hanyolah kabiasaan. Bahasa kecek urang bukanlah suatu nan ilmiah tapi inyo hanyolah sabagai tool.
Jadi kalau ingin bisa mangecek jo mambaco sarato manulih dalam bahasa arab, pailah cuti agak 3 bulan ka nagari nan bahaso sahari hari bahaso arab dan tingga jo masyarakatnyo, bukan tidua di hotel sajo. Baitu lo jo bahasa-bahaso nan lain. Iko manuruik ambo. Kalau batua ................. ikuti, kalau indak ................... ijan diambiak acih. dn "Ahmad Ridha" <[EMAIL PROTECTED]> Sent by: [EMAIL PROTECTED] 05/04/2006 09:37 PM Please respond to [email protected] To [email protected] cc Subject Re: [EMAIL PROTECTED] SBY Akan Seriusi Bahasa Arab On 5/4/06, mantari_sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Buat anda iya gampang, buat saya tidak. Memang, buat bisa > berkomunikasi standar kita hanya butuh 1000 entri kosakata. Tapi > kalau tujuan kita untuk mempelajari sesuatu lebih mendalam, 1000 > kata sangat jauh dari cukup. Apalagi untuk mempelajari agama, yang > tentu saja penuh terminologi-terminologi yang rumit. CUkup > segeilintir saja orang yang ahli berbahasa arab, namun dia yang > harus menyampaikan kepada kita-kita ini. Menjadikan pemasalan > belajar bahasa arab secara formal, hanya menambah beban kita semua. > Wah, Pak. Bagi saya juga susah sekali. Yang mudah belajar bahasa itu adalah anak-anak. Kemampuan anak di bawah umur 10 tahun belajar bahasa bisa bikin iri orang dewasa. Yang saya bawakan juga bukan kasus-kasus khusus. Anak-anak orang Indonesia di sini juga lancar-lancar saja komunikasi pakai Bahasa Inggris misalnya karena mereka sekolah di sekolah internasional yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Kalau sekolah di sekolah yang bahasa pengantarnya Bahasa Arab ya tentu Bahasa Arab yang lancar. Di sini juga perlu dirinci bahwa tidaklah yang dituntut bahwa setiap orang harus ahli dalam Bahasa Arab sampai menguasai semua detailnya sampai masalah kesusastraan. Sama halnya yang belajar Bahasa Inggris untuk belajar teknologi kan juga belum tentu paham kalau baca kesusastraan berbahasa Inggris. Begitu juga menggiatkan belajar agama kan bukan berarti bilang bahwa semua orang harus jadi mujtahid, harus hafal semua matan, harus paham semua terminologi, dan lain-lain. Namun masing-masing harus berusaha belajar sesuai kemampuan dan apa-apa yang telah jadi kewajibannya. Kalau mau dagang ya harus paham hukum-hukum dagang dalam Islam; kalau mau pergi haji, harus belajar manasik haji; kalau sudah umur 7 tahun, harus diajari shalat, dan lain-lain. Dalam masalah ini, jika kita giat belajar Bahasa Inggris untuk belajar teknologi, kenapa kita tidak giat belajar Bahasa Arab untuk belajar agama? Di sini saya juga kena lho, Pak, makanya sekarang berusaha belajar Bahasa Arab dikit-dikit. Mumpung lagi jadi "TKI" di Arab. Kalau dikatakan "cukup segelintir", kok jarang ya orang Indonesia yang bilang "cukup segelintir saja yang belajar Bahasa Inggris". Bagaimana pula jika dikatakan "cukup segelintir saja yang belajar Bahasa Minangkabau"? > Penterjemahan dari orang yang paham dan mengertilah yang kita > perlukan. Jangan perberat dengan teori-teori psikolanguage > dsb..dsb.. > Hmm, saya menukil dari buku bukan untuk memperberat atau gaya-gayaan kok, Pak. Hanya ingin menukilkan dari "orang yang paham" alias ahlinya dan telah melakukan penelitian tentang pengaruh multilingualisme pada anak-anak. Dalam diskusi kan tidak cukup hanya pakai "menurut saya". Kalau begitu caranya yang yang dituruti diri sendiri saja. Namun jika dikatakan bahwa beban anak sekolah di Indonesia berat, saya cukup setuju. Kayaknya sekolah jadi kurang menyenangkan karena seringkali pulang sekolah si anak langsung pergi les. Berarti yang jadi masalah kan harus dipilah mana yang penting, mana yang kurang penting. Sepanjang yang saya tahu, Bahasa Arab itu penting karena untuk belajar agama. > Wassalam dan mohon maaf, saya sedikit ngotot dan ngeyel. Tak ada > niat macam-macam, hanya sekadar mengajak melihat dari sisi lain. > Semoga ALLAH SWT berkenan dengan diskusi ini. > Amiin. Mohon maaf juga jika ada kata yang kurang berkenan. Semoga dapat berbuah manfaat. Allahu Ta'ala a'lam. Wassalaamu 'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh, -- Ahmad Ridha ibn Zainal Arifin ibn Muhammad Hamim (l. 1400 H/1980 M) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem ========================================================= -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

