Henry:
...
>Sekedar ingin memberikan pendapat, saya kira regulasi dalam bidang telkom di
>Indonesia memang ada. Apakah "enforcement" ada atau tidak, seperti halnya
>kenaikan tarif telkom yang memberatkan masyarakat dibicarakan dalam DPRD
>(untuk masing-masing daerah) dan ditindaklanjuti, nah itu soal yang berbeda.
Yw: Enforcement apa, nih? Justru kenaikan tarif itu yg menaikkan
adalah yg punya Telkom (pemerintah/eksekutif) dg persetujuan
DPR (legislatif). Si Telkomnya sendiri cuma usul doang.
...
>Dari segi ekonomi, harga suatu jasa atau barang selalu dipengaruhi oleh
>biaya atau ongkos pembuatan jasa atau barang tersebut. Yang saya dapat
>"infer" (apa ya bahasa Indonesianya "infer"?) dari kenaikan tarif telepon
>adalah naiknya ongkos atau biaya telkom itu sendiri. Kenaikan tarif ini bisa
>diakibatkan oleh berbagai hal, seperti contoh:
>
>1. Untuk membiayai (subsidi) sambungan telepon didaerah terpencil di
>Indonesia yang memang infrastruktur pertelekomunikasian sangat sedikit, atau
>bahkan tidak ada sama sekali.
Yw: Kenaikan ini biasanya normal aja mengikuti inflasi.
Cuman masalahnya: inflasi saat ini rada gila-gilaan.
Kenapa kok inflasi bisa gila-gilaan? Kita semua tahu, lah.
>2. Pemasangan kapasitas satuan sambungan telepon yang membutuhkan jasa
>konsultasi dari pihak asing dan ongkos unit kapasitas itu sendiri yang
>memang masih di impor.
Yw: Pengembangan sektor telekomunikasi, saat ini sarat komponen
impor. Ini memang salah kita (atau kami?). Selain kompetensi
di DN terbatas (utk mengembangkan sendiri berbagai perangkat),
daya serap industrinya juga terbatas (utk beli berbagai perangkat).
Sedangkan kalo sektor ini tidak dikembangkan,... banyak orang
juga jadi pada gerah...
>3. "Increasing inefficiencies" dalam tubuh telkom itu sendiri akibat dari
>"shock" akibat "downsizing"-"upsizing," pergantian manajer-manajer, dll yg
>sifatnya dalam tubuh telkom itu sendiri.
Yw: Efisiensi (atau inefisiensi), rasanya sama aja.
Malah mungkin (dipaksa oleh krisis) meningkat jadi lebih efisien
(walopun, menurut saya bisa lebih ditingkatkan lagi).
>4. Ongkos pembayaran hutang luar negri yang meningkat (secara komparatif)
>akibat penurunan nilai mata uang dalam negri. Yang mengakibatkan telkom
>harus "membenarkan" (adjust) tarif telepon di Indonesia.
Yw: Ini gede sekali. Dan pada saat kurs 14 ribuan, bottom line
Telkom rugi trilyunan rupiah.
>5. Penurunan subsidi pemerintah pusat dan daerah untuk bidang telekomunikasi
>di Indonesia akibat "tight fiscal policy" yg sekarang sedang dilakukan
>pemerintah. Akibatnya, masing-masing BUMN harus sedapat mungkin berusaha
>untuk mandiri dalam mencari pemasukan.
Yw: Subsidi pemerintah pusat ini sejak Telkom berbentuk PT.
tidak pernah ada. (Jangankan utk mensubsidi Telkom, utk nggaji
pegawainya sendiri aja mereka nggak punya duit. ;-).
Jadi dalam hal ini tidak ada perubahan.
Udah dulu deh, sampe di sini.