Indi kemarin tanya:
Apakah Telkom tidak menyadari posisinya sebagai "monopolist"?

>Yusuf-Wibisono balik tanya:
>Hubungannya apa, ya?


Hubungannya dengan "kenaikan harga pulsa" ya itu tadi bahwa Telkom
(sebagai sebuah pihak yang mempunyai kemampuan me-monopoli pasar)
seharusnya lebih sadar bahwa apapun yang mereka lakukan adalah selalu
menyangkut hajat hidup orang banyak seperti halnya listrik dan air minum
(PAM). Dengan tindakan menaikkan harga per pulsa, sepertinya Telkom dan
pejabat yang berwenang memang tidak sadar bahwa kenaikan sebanyak itu
adalah sudah merupakan ciri khusus atau gejala normal dalam monopoli
yang tidak teratur (unregulated monoploy). Semakin buruk rupa lah Telkom
dimata rakyat!

Sebaiknya Telkom berusaha untuk mendapatkan pemasukan bukan dari
menaikkan harga tetapi dari segi penambahan jumlah pelanggan. Ingat
jaman Cacuk dulu waktu dia gencar memasang telepon umum di beribu2
tempat? Tujuan Cacuk adalah untuk memperkenalkan telepon bagi rakyat dan
juga untuk membuat rakyat berkeinginan untuk memasang saluran telepon di
rumah masing2. Jadi sifatnya berantai: mempromosikan telepon umum agar
keinginan untuk mempunyai telepon pribadi/rumah bertambah. Sederhana
kan? Dan hasilnya luar biasa, bisa anda lihat sendiri dengan banyaknya
jumlah saluran pribadi di Jabotabek.

Maka dari itu, Telkom yang sudah agak sekarat dalam hal keuangan,
sebaiknya berusaha keras untuk memasarkan saluran telepon pribadi yang
tentu saja bsia menambah pemasukan Telkom sendiri dalam jangka panjang.

Saya betul2 gatel karena dari dulu pejabat2 dan banyak orang pemerintah
berpikirnya kurang jauh kedepan. Dari PU sampai Perumtel (dulu) selalu
saja kerjanya selalau "tanggung".
Mau contoh?
Contohnya:
Pavement (conblock) yang sudah rapih dipasang oleh PU di trotoir
beberapa bulan kemudian dibongkar oleh PLN yang bolak balik harus
"nambah kabel" lah, "nambah travo" lah...sehingga PU harus kembali lagi
memasang conblock pavers di tempat tersebut.

Lha...kenapa ndak dari dulu saja dikerjakan supaya terpadu dan lebih
menghemat biaya dalam jangka panjang?

Juga dengan lamanya pemasangan saluran telepon yang dibumbui alasan
"kabelnya musti ditambah" atau "anunya terlalu kecil", "tiangnya perlu
di cat dulu karena karatan", etc.

Jadi kita semua tahu kan kenapa PLN, Telkom dan PU selalu saja kelihatan
sibuk dengan proyek2 di tempat yang sama (pojokan suatu jalan)?
Kira2 siapa yang membiarkan proyek yang sama dilakukan berulang2 kalau
bukan pejabat yang berwenang (mungkinkah Dirjen-nya masing?)
Kira2 berapa persen mereka simpan di kantong mereka?

ya sudah segini dulu omong2 tentang proyek yang  di "appropriated" demi
kantong Dirjen.

saya betul2 nggak setuju dengan kenaikkan tarif pulsa yang disebabkan
oleh sifat kekanak2an para pejabat instansi diatas. kenapa?
karena rakyat selalu jadi korbannya.



INDI

Kirim email ke