>>Yw: Enforcement apa, nih? Justru kenaikan tarif itu yg menaikkan
>>    adalah yg punya Telkom (pemerintah/eksekutif) dg persetujuan
>>    DPR (legislatif). Si Telkomnya sendiri cuma usul doang.
>>
>>...
>
>Hai...
>
>Maksud saya, "enforcement" disini adalah tugas eksekutif bersama dengan
>yudikatif memantau dan menjaga agar harga telkom tetap "memadai" untuk
>rakyat banyak.

Yw: Utk dpt memenuhi hal tsb, mereka harus punya 'power' yg cukup.
    Dan saat ini, kayaknya mengharapkan hal tsb agak terlalu muluk.
    Sayang sekali.

...

>Mengapa saya katakan demikian, PT telkom merupakan satu-satunya perusahaan
>jasa telekomunikasi massal di Indonesia (monopolist). Jika regulasi yang
>sekarang tidak mengarah pada suatu kebijakan "price ceiling," (setting the
>price of the service artificially low)  maka telkom bisa seenaknya menaikkan
>harga untuk menutup ongkos faktor-faktor produksi.
>
>Nge-set P=MC=MR sih boleh-boleh saja, malah disarankan untuk berbisnis, tapi
>itu kan kalau ada kompetisi yang sempurna "perfect competition." Sekarang
>masalahnya, PT Telkom adalah sebuah natural monopolist karena dijaga oleh
>pemerintah "entry to market-nya."

Yw: Menurut saya, sekali lagi, solusi yg bisa memuaskan rakyat
    banyak adalah memunculkan kompetitor yg riil utk Telkom.
    Keuntungannya:
    1. Konsumen jadi akan lebih terbuka matanya, kalo
       tarif naik, tidak langsung mencap Telkom sbg monopolis
       yg seenak-enaknya menset tarif.
    2. Konsumen jadi ada pilihan, sehingga secara psikologis
       merasa diperlakukan fair. Ibaratnya: kalo di Indonesia
       ini mobil cuma ada Kijang doang. Harga kijang dinaikin,
       orang nggedumel; tapi karena kijang banyak saingannya,
       Kijang harganya naik, orang diem aja, masih ada panther,
       zebra, dll. Bahkan seperti sekarang ini: semua merek mobil
       harganya naik gila-gilaan, tiap bulan, sejak nggak tahu
       kapan, orang diem aja...
    3. Operator jadi lebih mati-matian (atau mati beneran) dalam
       mengoptimalkan efisiensi usaha.
    4. Sumber daya nasional (bidang telekomunikasi) (yg dianggap
       strategis ini) jadinya ada lebih dari satu lapis. Sehingga
       kalo ada apa-apa (misalnya: jaman perang dlsb), kita bisa
       lebih kuat.

    Eh, ngomong-ngomong, tarif telepon biasa naik orang ribut,
    kenapa orang diem-diem aja dg akan naiknya tarif seluler
    sekitar 56% tanggal 1 Maret yad?

>Seharusnya PT Telkom malah menjadi bulan-bulanan regulasi yang ketat
>(seperti perusahaan utilities di Amerika) untuk menjaga kesejahteraan
>masyarakat. Bukannya malah menodong rakyat saat mereka sedang kesusahan
>seperti sekarang.

Yw: Negara yg regulatornya membela rakyat, memang tidak sama dg
    regulator yg membela pihak-pihak yg 'setorannya' gede. Too bad.

>Yah, sekali lagi, mungkin masalah "price increase(s)" dalam masalah telkom
>ini merupakan hal yg sangat menarik untuk kita diskusikan lebih lanjut.
>Terima kasih.
>
>Henry

Kirim email ke