Bung Brawijaya,
 
Maaf juga, istilah itu barangkali, saya bikin sendiri, tidak mengikuti kaidah statistik kali ya. Tapi maksud saya hampir sama dengan faktor pengkali yang anda sebutkan. Karena laporan pemerintah biasanya cenderung konservatif , maka saya menggunakan faktor pengkali 5 (atau istilah saya tingkat kesahihan 20%).
 
Bukan maksud saya untuk menganggap kecil angka ini, angka itu jelas sangat memprihatinkan dan menyedihkan, harusnya tragedi ini tak boleh terjadi. Justru karena itu saya terpanggil, karena melihat masih ada, bahkan cenderung banyak, pihak2 yang membakar sentimen dan egoisme SARA, yang akan memperumit, memperluas dan menyeret daerah lain di Indonesia dalam kerusuhan serupa.
 
Pembunuhan, perampasan harta benda adalah perbuatan kriminal berat. Siapapun yang terlibat, entah ia Islam atau kristen , budha, komunis dll ia patut diganjar menurut aturan hukum yang berlaku. Sebaliknya, kalau kita taat hukum, pembunuh yang nyata-nyata telah membunuh dan tertangkap, entah ia kristen, Islam dsb., juga tidak dapat langsung dihakimi sendiri oleh masyarakat. Ia harus diserahkan kepada aparat yang berwenang, dan diproses hukum sebagaimana mestinya. Masalahnya menurut saya bisa lebih simpel dan terkontrol. Begitu teorinya kalau menurut saya.
 
Salam,
Ichwan
-----Original Message-----
From: FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 11 Maret 1999 21:02
Subject: Re: SARA

Ichwan ramli wrote:
Data resmi dari Kapolri yang saya kutip dari TEMPO, no. 23/XXVII/99, korban meninggal 161 orang. Luka berat 216 orang. Kalaupun tingkat kesahihannya hanya 20%, maka yang meninggal tidak mencapai 1000 orang. Padahal itu adalah korban dari kedua belah pihak, termasuk Aparat/ABRI. Subject "Mayoritas Nasrani Ambon" juga masih bisa dipertanyakan. Apa betul mereka melakukannya atas nama agama Nasrani ? Apa bukan karena terpancing ulah provokator, kondisi ekonomi, sosial, politik, tindakan bela diri dlsb
Maaf saya kurang mengerti yg dimaksud tingkat kesahihan 20%. Bila angka 161 orang tidak sahih,
maka kita dapat mengklaim 1000, 9000, 10, atau cuma 1 orang korban. Sulit untuk memperkirakan
angka sebenarnya dari berita resmi macam ini. Untuk kejadian berskala kecil, saya senang untuk
mengkalikan dg faktor 3. Biasanya laporan berikutnya, biasanya setelah berbulan-bulan, faktor 3
kali itu bukan angka jelek. Untuk kejadian yg hebat seperti Ambon ini, angka itupun tidak sahih.
Harian Kompas menyebutkan 10 orang mati pada hari Rabu kemarin saja (one single day thok...).

Angka 1000 muncul dari hasil penghitungan oleh PK yg mempunyai pos per wilayah. Saya
sendiri cenderung menyebut angka ini lebih didasarkan pada angka orang yg hilang, tidak ketahuan
meninggal atau sekedar tidak terdeteksi. Bukan berdasarkan body count. Dan ini angka yg muncul
minggu yg lalu! Angka ini mestinya lebih besar lagi untuk saat ini. Bagaimanapun juga, saat ini
ada berapa jumlah yg mati sudah tidak penting lagi. Yang penting kita ketahui, korban sudah
amat sangat terlalu banyak.

--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)
 

Kirim email ke