Apakah eksodus bisa dijadikan barometer penderitaan?
Pada saat keturunan Cina terkena musibah pada pertengahan Mei yang lalu,
bukankah banyak yang menderita tertinggal dinegeri ini. Dan yang banyak
uang malah eksodus keluar negeri. Saya bukan menyamakan kasus
pertengahan Mei dan kasus Ambon, hanya menegaskan bahwa eksodus bukanlah
barometer penderitaan. Eksodus juga bukan berarti hanya menyelamatkan
diri semata-mata, bisa juga menyelamatkan keluarga, ataupun menghindari
persoalan yang makin parah.
Secara jelasnya, barometer penderitaan itu kalau terbunuh/teraniaya,
melihat keluarga dan relasi terbunuh, tidak bisa beribadah dengan
normal, tidak bisa mencari sesuap nasi dengan normal, selalu berada
dalam keadaan yang rusuh. Dengan barometer ini, terlihat dari
laporan-laporan kedua pihak (Partai keadilan ataupun orgainisasi
Kristen) serta pihak pemerintah dan ABRI, bahwa terjadi pembunuhan serta
penganiayaan dikedua pihak serta pembakaran dan perusakan ibadah dikedua
pihak, rakyat merasa tidak aman dan tidak bisa bekerja dengan tenang.
Kesimpulan, seluruh rakyat Ambon menderita.
peace.
Yumartono wrote:
>
> Saya kok belum membaca/mendengar/melihat ada berita yang mengatakan bahwa
> masyarakat Ambon yang non Muslim melakukan eksodus keluar Ambon. Harusnya
> bila sama-sama menderita, eksodus yang terjadi bukan hanya dilakukan oleh
> warga Muslim saja dong. Jadi sebenarnya dalam kasus ini siapa sih yang
> terdesak ? Ada yang bisa kasih jawaban ?
>
> Salam,
>
> Yumartono
>
> >Hadeer, saya kira malah kamu yang enggak realistic. Jelas saya setuju
> >dengan bung Ichwan, dari berita-berita yang muncul dari berbagai pihak
> >jelas masyarakat ambon baik Islam, Kristen ataupun penganut agama
> >lainnya sama-sama menderita.