Saya kira eyang troy enggak marah, memang gaya bicaranya begitu (bukan
belain nich mas :).
peace.
. Brawijaya wrote:
>
> Kayaknya saya mesti mengetik ulang deh. Nggak ada
> yg marah kok. Justru kemarin kita kira semua sudah
> ada di rel yg benar. Tapi kalau dipikir-pikir lagi
> ternyata keputusan MA itupun bisa juga punya sayap lagi.
> Gitu lho... Skenario kita kan BJH lalu melarang para
> menteri. Eeee... ternyata meleset-set.
>
> Juga berita kemarin tentang pemisahan polisi dari ABRI nggak
> sebut-sebut Dephankam. Kirain mau dimasukin ke Depdagri.
> Kalau ternyata dimasukin ke Dephankam yaaa.... penonton
> boleh kecewa dong. Memang masuk akal sih kalau dimasukkan
> ke Dephankam. Makanya mungkin Dephankam diganti jadi Dephan
> aja. Hehe...enak ya bikin skenario sendiri...
>
> Eh, itu Rudini wakil PKP gitu? Ini belum dijawab nih.
> Kirain saya dia wakil pemerintah.
>
> Salam,
> Jaya
>
> On Mar 30, 8:40am, bRidWaN wrote:
> > Subject: Re: Fatwa Mahkamah Agung (M.A.)
> > Wah Mas, itu mah pendapat saya pribadi.
> > Please dong yang marah begitu, cool saja deh.....:)
> >
> > Jadi belum tentu benar, dan belum tentu ada yang
> > setuju. Tapi saya berhak dong mengeluarkan pendapat?
> >
> >
> > Salam,
> > bRidWaN
> > ---
> > At 20:25 29/03/99 -0500, . Brawijaya wrote:
> > >Wis...wis....bubarin aja RI itu....
> > >Kelihatannya sudah bener kok ternyata semua punya sayap.
> > >Kata punya sayap, orangnyapun bersayap.
> > >Pada pengen jadi malaikat apa ya? Jadi Rudini itu wakil
> > >Parpol? PKP gitu? Kirain partikelir..... Buseeeet....
> > >
> > >Bung Bridwan, saya kurang jelas nih yg mana yg kutipan
> > >dan yg mana pendapat sendiri. Yang jawab 'ya' atau 'tidak'
> > >itu siapa? Anda atau FT / Muladi?
> > >
> > ----------------------------------------------
> >
> > >On Mar 30, 8:12am, bRidWaN wrote:
> > >> Subject: Fatwa Mahkamah Agung (M.A.)
> > >> Tadi malam sekilas saya mendengar penjelasan Bp. Feisal
> > >> Tanjung dan Bp. Moeladi mengenai Fatwa MA ini.
> > >>
> > >> Dengan kepala pusing, saya mencoba mendengar dengan baik,
> > >> tetapi dasar bukan orang 'hukum', kata-kata yang ada
> > >> terasa agak berputar dan bersayap. Ini menurut saya.
> > >>
> > >> Menurut hemat saya, KPU adalah lembaga tertinggi dalam
> > >> konteks Pemilu, dan lembaga ini terdiri dari wakil-wakil
> > >> Parpol peserta Pemilu, ditambah wakil Pemerintah.
> > >> Dari awal sudah disepakati bahwa lembaga ini harus dipimpin
> > >> oleh wakil Parpol, dan 'uniknya' yang terpilih adalah Bp Rudini
> > >> (sebagai wakil Parpol), bukan Adnan Buyung Nasution (sebagai
> > >> wakil Pemerintah).
> > >>
> > >> Kembali kepada fatwa MA, ini memang harus ditaati oleh
> > >> Presiden. Apakah KPU wajib mengikutinya ?
> > >>
> > >> Dengan sedikit berkata-kata memutar dan bersayap, jawabannya
> > >> bisa 'ya' , bisa 'tidak'.
> > >> KPU bisa saja setuju tidak melarang Menteri untuk berkampanye,
> > >> tetapi bisa juga melarang anggota Parpol yang Pegawai Negeri
> > >> atau Pejabat Pemerintah untuk berkampanye.
> > >>
> > >> Alasannya adalah bahwa sebagai abdi dalem, Pegawai Negeri
> > >> dan Pejabat Pemerintah harus berdiri diatas semua golongan.
> > >>
> > >> Itu sebabnya sebahagian dari mereka ada yang memutuskan
> > >> berhenti menjadi Pegawai Negeri.
> > >>
> > >> Jadi, Menteri dilarang berkampanye ???
> > >>
> > >> Salam,
> > >> bRidWaN
> > >>-- End of excerpt from bRidWaN
> > >
> > >
> >-- End of excerpt from bRidWaN