>M. Anjasmara,
>Tapi untuk yang 'Mengapa tulisan Lenin dibreidel oleh Stalin yang
>sebetulnya malah
>anak emasnya?' itu sebetulnya kurang tepat. Soalnya Stalin bukan anak emas
>Lenin;
>diakhir hidupnya Lenin justru menulis untuk memperingatkan Trotsky agar
>berhati-hati
>kepada Stalin. Surat wahasiat Lenin juga dibaca di inner circle politbiro
>dimana isinya
>dia mengecam Stalin. Namun dalam wahasiatnya juga Lenin mengecam semua
>tokoh
>partai yang lain, sehingga keputusannya adalah lebih baik surat itu tak
>diedarkan.
>Lagipula Lenin waktu itu kondisi pikirannya sudah sangat payah dan Stalin
>sendiri
>sudah sukses besar dalam membentuk lobby dia di politbiro.

JA:
Maksud saya dengan anak emas, Lenin pula yangg menaruh Stalin sebagai
general secretary dari partai mereka pada tahun 1922. Dengan demikian,
walaupun mungkin tidak sadar akan menginjak setelah berada di atas, Lenin
pula yang mempersiapkan Stalin untuk memimpin Sovyet. Toh sebagai tokoh si
Lenin sudah tahu track record Stalin yg tak kalah brutal dari dia sendiri.

YS:
>Terus terang pertanyaan terakhir anda yakni 'Lalu apa pula bedanya dengan
>paham Trotsky yang akhirnya dibunuh Stalin itu? Sekalian mungkin anda bisa
>tulis apa bedanya dengan Maoisme' sangat panjang sekali jawabannya. Mungkin
>bisa diringkas atau diarahkan sedikit? Tapi intinya untuk perbedaan
>komunisme
>Russia dan China terletak pada fokusnya; Russia lebih ke arah buruh pabrik,
>dan
>China lebih menekankan revolusi dari perdesaan/agriculture.

JA:
Okay saya tunda dulu pertanyaan tentang Trotsky untuk mempersempit diskusi.
Saya memang sudah sedikit paham perbedaan tentang 'buruh' dan 'petani'
tersebut. Dan sebetulnya sudah pernah pula saya tulis dalam salah satu
posting. Yang mengganjal pikiran saya, sebetulnya masalah penekanan fokus
tidak terlepas dari karakteristik perekonomian bangsa tadi. Rusia memang
sudah dari sananya berada di kelas industri dan Cina masih berada di kelas
pertanian. Dengan demikian Cina tidak akan mungkin menekankan pada
buruh-nya. Ini sama dengan Vietnam atau Kuba, dan Indonesia (kalau dulu
jadi). Yang jadi pertanyaan, bila paham yg digunakan sama-sama paham
komunis, mestinya tidak perlu terjadi hubungan yg dingin antara Sovyet
dengan Cina.

Saya rasa ada sesuatu yg membuat pertikaian tersembunyi di antara kedua
negara tersebut. Apakah justru penekanan sektor 'industri' dan 'pertanian'
itu yang menciptakan gap di antara paham mereka? Lalu bagaimana dengan paham
pan-communisme yg dulu mereka dengungkan pada awalnya? Mungkin pertanyaan
terakhir perlu saya ubah, siapa yg merevisi cita-cita sovyet of the world
itu? Trotsky kah? Atau Mao, atau Stalin? Atau justru pihak kapitalis yg
akhirnya mengkonsolidasikan diri? Maaf kalau banyak nanya.


Jeffrey Anjasmara

______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke